Friday, December 16, 2011

Hamburg, Sebuah Penantian

Oleh Heriyanto

Di sebuah tempat tak jauh dari sungai Elba, di sebuah taman yang dipenuhi bunga-bunga, Max duduk terpekur. Dipandanginya foto Clara Sach yang sedang tersenyum seolah-olah hidup dan berbicara dengan manis. Diusap-usapnya foto itu dengan jemarinya.

Hamburg sore itu basah setelah diguyur hujan. Dulu ia dan Clara sering menyusuri Rentzelstra├če menuju sungai Elba di sebelah selatan pusat kota, seusai menjalani perkuliahan yang padat. Mereka biasanya akan mampir dulu di sebuah toko buku kecil atau mencari sepotong pizza yang mudah ditemui di sepanjang Rentzelstra├če. Buku karangan Victor Hugo, Notra Dame De Paris dan Les Miserables habis mereka baca bersama-sama. Setelah itu mereka akan memandangi Philodendron yang saat itu sedang tumbuh subur. Warna hijau beradu dengan matahari.

Dari kampusnya, Max biasanya suka berjalan kaki menuju tempat itu. Perjalanan yang membuat ia bisa merasakan kesegaran. Hamburg adalah kota yang sejuk dan indah. Jalan-jalan terlihat rapi. Bangunan-bangunannya bergaya Eropa dengan arsitektur yang apik. Bunga-bunga ada di tiap sudut kota. Tapi lebih dari itu, ada keindahan yang menawan hati Max. Keindahan yang lebih indah dari Hamburg. Keindahan seorang wanita. Clara Sach.

Max mengambil jurusan filsafat modern di Universitas Hamburg, sementara Clara mengambil Kebijakan Politik Internasional. Keduanya aktif pada pemerintahan mahasiswa. Seringkali mereka terlibat dalam penggalangan dana untuk kegiatan sosial. Pernah juga terlibat protes pada kebijakan pemerintah yang pro-perang dan protes anti-aborsi. Mereka sering bertemu, berdikusi, berdebat, bertengkar dan akhirnya saling jatuh cinta: sebuah rasa yang berjalan dengan pelan dan akhirnya menjadi begitu dalam.

Clara Sach gadis yang cantik, cerdas dan lincah. Juga seorang yang radikal pemikirannya. Gadis yang hebat, yang selalu memesona Max setiap kali bertutur kata. Selesai studinya Clara kembali ke negaranya, Yuglosavia dan kemudian bergabung pada partai oposisi di negaranya. Di sana menjadi salah seorang aktivis anti pemerintah yang giat menyuarakan demokratisasi di negaranya.

Sementara Max tetap di negaranya melanjutkan studinya mengambil program doctoral. Ia mendapat beasiswa dari kampusnya. Kini Max menjadi salah seorang pengajar di sana dan menjadi staff ahli pada departemen luar negeri. Sejak perjumpaan terakhir mereka tak pernah bertemu lagi. Max tak pernah menerima kabar Clara.

Kabar yang ia dapatkan lebih banyak soal gentingnya Yuglosavia. Ia sering lihat demo besar-besaran di Yugoslavia melalui jaringan televisi internasional. Terakhir ia dengar Clara dikenai cekal dan tidak bisa pergi ke luar negeri. Kabar itu memang samar-samar. Satunya-satunya kabar dari Clara yang pernah Max terima yaitu setahun lalu via email yang memberitahukan bahwa Clara sedang dalam tekanan dan sulit berhubungan dengan dunia luar. Ia bilang butuh bantuan. Tapi bantuan macam apa Max tak tahu. Tapi yang paling ia syukuri Clara masih hidup. Berarti ia masih punya harapan.

***
“Kau tahu Max aku harus pergi. Jika harus memilih aku ingin tetap bersamamu. Ingin terus membelai wajahmu. Ingin merapikan bajumu, ingin terus membaca bait-bait Victor Hugo bersamamu,” kata Clara pada Max dengan gemetar.

“Tapi negaraku sedang gawat. Di sana rakyat semakin miskin, pemerintahan sekarang ini tak bisa diandalkan. Rakyatku menderita Max. Aku harus bantu mereka. Mungkin aku tak bisa berbuat terlalu banyak untuk rakyatku, tapi aku tak akan tahan bila aku terus di sini mendengarkan rakyatku tiap hari mati dengan menyedihkan,” Clara berkaca-kaca.

Tangan Clara mengusap pipi Max. Disentuhnya dengan lembut. Hangat. “Aku cinta engkau Max, tapi aku juga cinta rakyatku. Kita lakukan tugas kita masing-masing. Aku harap kita bisa bertemu lagi suatu saat nanti.” Itulah ucapan terakhir Clara pada Max. Sebuah kata yang sangat menyesakkan bagi Clara. Lebih-lebih bagi Max.

Sampai kini Max masih mengharapkan pertemuan itu. Setiap akhir pekan Max akan selalu datang ke taman bunga itu. Menunggu Clara. Dalam hatinya, Max yakin bahwa pertemuan itu akan terjadi. Dan keyakinan itu membuatnya ia selalu menunggu.

Max terus mencari informasi perkembangan di Yugoslavia. Kabar terbaru dari jaringan berita Internasional bahwa Yugoslavia makin parah dan tak menentu. Beberapa hari yang lalu pemerintah setempat menangkapi beberapa oposan, termasuk salah seorang pemimpinnya. Namun tak jelas siapa ditangkap itu. “Mungkinkah Clara?” Max begitu cemas. Ia benar-benar takut Clara tak selamat. Bisa saja Clara diculik dan kemudian dibunuh. Hal yang terakhir itu yang paling ditakutinya.

Namun ia mendengar pula bahwa demonstrasi besar-besaran terjadi di Yugoslavia belum mampu menumbangkan pemerintah lama. “Mungkinkah Clara bisa bebas?” gumam Max dalam hati.

Ia coba mengontak Clara. Tapi ia belum dapatkan jawaban. Max benar-benar putus asa.

***
Ini tahun ke 10 sejak pertemuan terakhir dengan Clara. Max masih sering ke taman bunga itu. Tapi suasana sudah begitu berubah. Bunga-bunga yang dulu sering ia pandangi bersama Clara sudah tak ada diganti dengan beton. Sore itu Max sengaja datang ke sana ingin menenangkan diri setelah memberikan kuliah yang padat.

Kemarin ia menerima email dari Clara.

Kepada Max Schroeder yang baik.

Kita pernah sama-sama baca Les Miserables yang menawan itu. Kita tahu, tokoh Jean Valjean dalam cerita itu jadi korban malang kekacauan politik. Dia berjuang dengan berani untuk membebaskan negaranya dari kemiskinan, kebodohan, dan kebrutalan penguasa. Meski akhirnya harus ditangkap, dipenjara, dan dibunuh.

Kau tahu Max, kisah itu juga ada di negaraku. Aku harap masih bisa berbuat sesuatu untuk negaraku. Sampai kini aku masih tak sepenuhnya bebas. Aku tak bisa ke mana-mana. Tapi aku harus melakukan sesuatu semampu ku, meski sewaktu-waktu nyawaku bisa melayang..

Minta maafku karena tak bisa menemuimu. Terima kasih telah menungguku.

Regard,

Clara Sach.

Hamburg sore itu basah setelah diguyur hujan. Kristal hujan berpendar berkilauan terkena matahari. Angin berhembus menggoyang pelan daun yang basah. Buliran air di ujung daun Philodendron jatuh dengan rapuh. 

Di sebuah tempat tak jauh dari sungai Elba, di sebuah taman yang dipenuhi bunga-bunga, Max duduk terpekur. Dipandanginya foto Clara Sach yang sedang tersenyum seolah-olah hidup dan berbicara dengan manis. Diusap-usapnya foto itu dengan lembut.

Pagi tadi Max lihat di televisi sebuah bom meledak di kawasan sebuah kantor oposisi anti pemerintah yang menewaskan puluhan orang. Satu di antaranya seorang wanita. Clara Sach namanya. (*)