Wednesday, December 26, 2007

De Javu di Tahun yang Baru

Oleh Heriyanto

Waktu terus berputar seperti jarum jam. Selamat datang tahun 2008: tahun (yang) baru. Ramai-ramai kita merayakannya dengan gembira, masing-masing dengan tingkah-polahnya: pawai, plesiran, mencari peruntungan lewat ramalan, bikin resolusi akhir tahun, atau adapula yang menyampaikan doa dengan khidmat. Orang-orang berucap: semoga setahun ke depan hidup lebih baik, rejeki bertambah, tercukupi sandang pangan, kemiskinan berkurang, dan tak ada lagi bencana.

Suatu kewajaran bila kita berharap sesuatu yang lebih baik di tahun depan. Hanya saja kita juga mesti tabah, karena harapan-harapan kita itu lebih sering terbang begitu saja entah kemana. Hilang diterpa angin puting beliung, dihanyutkan banjir, dan tertimbun tanah longsor. Betapa seringnya apa yang kita angankan dan kita pikirkan jauh di atas kenyataan apa yang kita dapatkan.

Bukankah tahun baru setahun yang lalu, kita juga pernah berucap hal sama seperti kali ini. Bahkan di tahun baru setahun sebelumnya lagi juga begitu. Tahun baru 10 tahun yang lalu sepertinya begitu juga. Harapan-harapan yang kita ucapkan tak beranjak dari yang itu-itu saja. Kalau begitu mungkin tahun depan kita juga akan mengucapkan harapan yang sama seperti tahun ini.

Kita masih berada di “Ruang” yang sama namun dalam perentangan waktu yang berbeda. Ruang itu bernama Indonesia. Sebuah wilayah geografis yang terbatas dan punya batas. Yang masih banyak kemiskinan di dalamnya, yang masih penuh dengan ketimpangan, yang penuh dengan kondisi keterbelakangan. Karena setiap tahun masalah yang kita hadapi tak beranjak dari persoalan yang itu-itu saja, maka harapan dan doa yang diucapkan hanya pengulangan tiap tahun saja.

Tapi beruntung kita masih mengenal tahun baru. Jadi kita bisa sedikit bergaya: tahun ini berdasarkan indikator tertentu kita lebih baik dari tahun kemarin lho! Pak Presiden, Pak Gubernur, Pak Bupati akan bikin hitung-hitungan. Berapa koruptor yang diadili pada 2006, berapa pula yang dieksekusi pada 2007. Begitupula angka kemiskinan tahun lalu dibandingkan tahun ini. Hasilnya? Beda tahun tapi sama rekornya: sama-sama banyaknya. Jumlah koruptornya banyak tapi sedikit yang diadili apalagi masuk penjara. Angka kemiskinannya juga sama: hanya beda-beda tipis. Kita hargai saja niat mereka untuk memberantas korupsi, juga memberantas kemiskinan. Meski masih sebatas niat, sudah Alhamdulillah.

Kita jangan hanya mencatat yang jelek-jelaknya saja, kata Pak Presiden. Ini Indonesia tahun 2008, bukan Indonesia sepuluh-dua puluh tahun lalu. Bukankah di mana-mana kita berhasil melaksanakan pemilihan kepala daerah langsung. Kita memeroleh pemimpin baru secara demokratis. Kita sudah bebas bicara, kita tak lagi seperti Myanmar yang otoriter pemerintahnya. Bukankah dengan itu kita dielu-elukan sebagai negara demokrasi terbesar, di mana hanya Amerika yang mampu menyaingi? Cina, Jepang, Arab Saudi bukan apa-apanya dibanding Indonesia dalam hal demokrasi (prosedural). Mereka perlu belajar dari Indonesia. Ini catatan positif yang bisa dibanggakan, meski jika boleh jujur kita belum begitu memahami dan menerapkan substansi demokrasi yang sesungguhnya dalam kehidupan sehari-hari. Demokrasi yang kita pahami ya demokrasi coblos-coblosan, demokrasi pemungutan suara.

Sementara kita sudah bicara soal demokrasi, penghapusan kemiskinan, berantas korupsi dan lain sebagainya yang baik itu, namun struktur yang dipakai masih stuktur yang lama, kebiasaan kita masih kebiasaan lama, kesalahan kita masih kesalahan yang lama. ‘Keusangan struktur” kata Anthony Giddens, seorang teoritisi strukturalisme dari London, Inggris.

Misalnya saja, rutinitas tindakan atau praktik suap menyuap kita pada akhirnya akan membentuk struktur KKN di Indonesia. Ketidakjujuran dalam proses peradilan yang berlangsung lama akan membentuk strukur mafia peradilan. Ini akan menjadi keterulangan dan akhirnya berputar-putar saja kita kerjanya. Kita kemudian menjadi terbiasa dengan hal itu. Kita tak akan lagi kaget ketika mendengar seorang gubernur atau anggota DPR korupsi. Sebagaimana kita tak perlu bertanya mengapa makan dengan tangan kanan, para pejabat yang melakukan korupsi tak perlu bertanya mengapa mereka korupsi. Korupsi sama halnya makan sudah menjadi kebiasaan.

Pemerintahan orde baru berkuasa selama 32 tahun, dan selama itu struktur sosial orde baru terbentuk. Inginnya perubahan, maunya reformasi, namun struktur yang dipakai masih struktur orde baru. Katakanlah si orde baru yang hidup di era reformasi. Praktik suap menyuap di mana-mana, mafia peradilan tak ketulungan, instansi-instansi penegak hukum mandul, pegawai negeri banyak yang malas bekerja, pelayanan publik tak jalan, dan cara pemerintah mengatasi kemiskinan masih sama dengan masa lalu.
Jika penyakitnya sudah kronis kita harus memangkas struktur yang usang, membuangnya dan menggantinya dengan yang baru, yang sesuai dengan kebutuhan. Perubahan struktur berarti perubahan skemata agar lebih sesuai dengan praktik sosial yang terus berkembang secara baru.

Kalau tidak berarti kita akan melakukan kesalahan yang sama lagi. Semacam kesalahan yang kita ulang setiap tahun, sehingga perubahan itu tak datang-datang juga. Kita sering lupa dengan kesalahan-kesalahan itu. Kita hanya seolah-olah merasa pernah mengalami hal yang sama. De javu namanya. Kebaikan yang berulang, itu keberkahan. Sementara kesalahan yang berulang bencana namanya.

Kok saya merasa sepertinya hal ini pernah terjadi? Semuanya diputar kembali setiap tahunnya: kemiskinan, ketertinggalan, korupsi,... Mungkin tahun baru tahun depan saya masih menulis hal yang sama. De javu di tahun yang baru!

Friday, December 14, 2007



Saya (kedua dari kiri) dan Redaksi Pontianak Post berfoto bersama dengan Kapolda Kalbar, Zainal Abidin Ishak, di Graha Pena Pontianak Post. Ini Kunjungan pertama Zainal ke Kantor Pontianak Post. Menurutnya media harus mampu menjalankan fungsi sebagai social control, edukasi, informasi, dan hiburan.





Saya (berbaju hitam, kedua dari kanan bawah) berpose bersama Pemimpin Redaksi Pontianak Post dan para wartawan di depan Graha Pena Pontianak setelah kunjungan Kapolda ke harian Pontianak Post.

Friday, December 7, 2007

voice azan calls me

by Heri Limbung

I woke up in a morning moment Azan exclaims
Devils make a fresh starts to its den
Nevertheless he have time to gives my blanket
From sheepskin
And I float return to space

I are woke up in a morning moment azan exclaims
A couple of days ago he lure me
To accompanies it comes home
With set of enjoyment voice
oh, serious condition, I already conduct it

I are woke up in a morning moment Azan exclaims
that laugh voice continues heard in my brain
I go Powerlessly
Because of has been thrown away a mass in milli calculation


I are woke up in a morning moment azan exclaims
Me pulled back blanket that a couple of days ago the of
I go Powerlessly
Because of has been played around with, I must knock at the God Door

the poetry i dedicate for the special woman.. (pontianak city, early in the morning)

Thursday, December 6, 2007

Takdir Pers sebagai Watch Dog Demokrasi

Oleh Heriyanto

Sudah takdirnya pers berperan sebagai social control. Dan dengan takdir itu berarti pers harus siap untuk menggongong. Kita teringat dengan bukunya Omi Intan Naomi yang menyebut pers sebagai Anjing Penjaga Demokrasi. Filosopinya: menyalak dengan garang bila ada kekeliruan, mengonggong dengan keras bila ada kezaliman, dan akan terus mengejar bila ada hal yang tidak beres. Korupsi, perselingkuhan kekuasaan, kelaparan, kemiskinan, semua itu perlu diberitakan, dikiritik, dikoreksi untuk kemudian diperbaiki. Setiap saat Pers akan memantau, memberikan warning, sesekali menggonggong dengan galak.

Sudah takdir pers pula untuk terus melihat yang kadang tak dilihat oleh institusi lain itu. Kita ingat kisah Risky bocah malang yang terkena tumor yang akhirnya meninggal dunia beberapa waktu lalu. Orangtuanya tidak mampu mengobatkan anaknya karena tak punya uang. Dia harus diberitakan dulu baru ibu menteri marah-marah pada pejabat berwenang di daerah.

Duit negara juga perlu diawasi penggunaannya, agar tidak diselewengkan. Peradilan kasus korupsi mesti terus dipantau oleh pers dan disampaikan pada publik sehingga publik bisa melakukan kontrol agar proses peradilan itu bisa berjalan dengan semestinya. Pers juga perlu memberitakan hal yang mungkin kelihatan kecil, penyunatan dana beasiswa mahasiswa misalnya.

Jika kita setuju bahwa peran pers penting, kita sebagai orang yang berpikiran waras tentu akan sangat mendukung terhadap setiap usaha agar pers memperoleh kemerdekaan dalam menjalankan perannya sebagai penjaga demokrasi. Pada jaman orde baru pers tumpul, tak tajam, dan mandul. Karena kekuasaan memang tak bisa tahan bila pers terlalu tajam kritiknya, bila pers terlalu kuat suaranya. Pemerintah takut pers mengontrol kinerjanya. Maka pemerintah yang ketakutan itu membuat aturan-aturan yang membatasi kerja pers. Mereka yang melawan pemerintah dibreidel, ijinnya dicabut, dan wartawannya dipenjara. Pers yang masih ingin hidup harus berhati-hati, bikin berita yang lunak-lunak saja, atau yang bikin berita yang mendukung kebijakan pemerintah atau juga bikin berita yang tidak ngurusin dapurnya pemerintah.

Tapi itu dulu, waktu jaman orde baru. Di jaman orde yang paling baru, orde reformasi, pers bisa bernafas lega. Karena pers bisa lebih leluasa ketimbang masa orde baru. Pers tidak lagi dikekang, tidak takut dibreidel dan wartawannya tidak lagi takut kena penjara gara-gara mengkritik pemerintah. Tapi benarkah kita sudah dapatkan kebebasan itu?

Tidak dibreidel mungkin iya. Pemerintah tidak lagi kurang kerjaan harus mengurusi tetek bengek pemberitaan lalu mensensornya. Kita berterima kasih pada aktivis pro demokrasi. Tapi kita mungkin lupa, para pengancam kebebasan pers bisa saja bertransformasi ke bentuk lain. Kita ingat kasus Tempo vs Tommy Winata. Tommy Winata menggugat Tempo atas pemberitaannya soal kebakaran Pasar Tanah Abang. Bukan hanya ancaman penjara, tapi wartawannya diintimidasi, dipukul, dan diancam oleh para preman. Bahkan pimrednya juga hampir saja masuk bui. Kita juga ingat kasus harian Indopos, Grup Jawa Pos yang kantornya dirusak anak buah Hercules. Beberapa perangkat komputer dirusak. Wartawannya juga sempat dipukul, diancam, diintimidasi.
Intimidasi kerja pers berarti pengekangan pada kebebasan dan berarti pula pencederaan terhadap Hak Asasi Manusia. Termasuk hak pelakunya sendiri. Ini adalah bentuk aksi premanisme.

Tak terlalu mengherankan bila pelakunya Hercules, orang yang terkenal sebagai preman pasar. Mungkin cara itu yang paling ia mengerti. Bukan urusan Hercules untuk mempelajari Undang-undang Pers. Padahal di sana diatur bagaimana cara mengklarifikasi berita yang dipublikasikan, soal hak jawab.

Kita tahu bahwa dalam negara demokrasi, kebebasan pers diakui oleh negara. Negara sekali pun tidak boleh mencampuri dan mengintimidasi pers. Tapi tentu saja pers bisa saja keliru. Jurnalis juga bisa salah. Tapi jurnalis tidak boleh diintimidasi dengan jalan kekerasan. Pihak yang dirugikan dalam pemberitaan pers dapat menggunakan Hak Jawab mereka. Hak jawab penting untuk mengoreksi berita yang sudah ditulis dan dimuat dalam media massa. Jika memang terjadi kesalahan, media yang bersangkutan berhak melakukan ralat atau klarifikasi atas kesalahan yang terjadi. Tulisan dibalas tulisan, opini dibalas opini, dan kesalahan perlu diperbaiki. Tapi tulisan tidak boleh dibalas kekerasan, getokan kepala, atau penjara.

Tapi ini yang bikin kita terheran-heran. Massa mahasiswa yang dimotori BEM Fisip Untan ramai-ramai mendatangi Lembaga Pers Mahasiswa Untan (Mimbar Untan) protes soal berita penyunatan beasiswa yang dirilis oleh Mimbar Untan. Redaksi Mimbar Untan diintimidasi, bahkan salah seorang reporternya diancam, digetok kepalanya.
Perilaku ini tidak jauh beda seperti apa yang dilakukan oleh Hercules. Sebuah bentuk premanisme. Hanya saja pelakunya berbeda. Jika anak buah Hercules adalah preman pasar dan tidak sekolah, nah peristiwa kemarin lalu itu dilakukan oleh mahasiswa yang nota benenya punya pendidikan tinggi dan seharusnya bisa belajar, termasuk bagaimana menyelesaikan persoalan jurnalistik.

Sudah jadi takdir pers untuk melakukan kontrol sosial. Mimbar Untan memberitakan soal penyunatan beasiswa? Ini adalah sebuah bentuk kontrol. Ini mestinya ditindaklanjuti dengan misalnya penyelidikan atau semacam investigasi. Benarkah penyunatan itu ada. Silahkan membentuk tim pencari fakta. Pihak-pihak yang berkepentingan perlu dilibatkan. Bila ternyata di lapangan benar adanya fakta itu harus ada langkah-langkah selanjutnya.

Mahasiswa boleh mendemo fakultas, pihak fakultas segera menyikapi secara kelembagaan. Ini khan sesuatu yang sangat tidak diperbolehkan dalam dunia akademik. Karena akan menjadi tumor ganas yang akhirnya membunuh diri sendiri. Bila ternyata berita itu salah, silahkan bikin sangkalan. Klarifikasi. Berikan bukti-bukti yang mendukung. Mimbar Untan wajib memberikan ralat.

Ini berkenaan dengan logika berpikir. Ada sebuah anekdot ringan: Nasarudin si bijaksana itu melaporkan bahwa telah terjadi pencurian. Dia tahu siapa pencurinya. Tapi bukannya si pencuri yang ditangkap, eh malah si Nasarudin. Ini khan kesalahan logika berpikir yang cukup fatal.

Dengan melihat persoalan lebih jernih dan tentunya akan dengan hati nurani, tentu tidak akan ada pelanggaran kebebasan pers. Tapi karena memang takdir pers untuk mengontrol, terima saja nasib itu! Sudah nasib belum siap untuk berdemokrasi.

Penulis adalah Mantan Ketua Umum LPM Untan

Monday, December 3, 2007

Benang merah sang DEVI

Satu catatan kecil.

by heriyanto



Menulis adalah untuk mengikat ingatan. Begitulah Sang Devi mengemukakan alasannya menulis. Sederhana. Dia sadar punya kelemahan dalam menulis. Namun seperti strategi perang Sun Tzu, untuk sukses orang harus melawan kelemahannya, melawan kekurangannya. Ketakutan manusia adalah penghalang terbesar manusia. Satu-satu jalan untuk menang: memeranginya.

Sang Devi menulis puisi sejak kecil. Dia sering ikut lomba puisi. Dan sering menang. Juga sering kalah. Namun ada momen yang membuatnya terhenyak. Ada satu kenyataan bahwa banyak orang berpuisi: membaca dan membuat puisi tanpa kemerdekaan. Berkiblat pada penyair A, atau pada penyair B. Berkiblat pada Rendra, berkiblat pada Sutarji Colsum Bahri, pada Taufik Ismail, pada Sapardi Joko Damono, atau pada sastrawan yang lain.

Kita tidak berpuisi. Namun hanya meniru. Meniru gaya, meniru ucapan, meniru intonasi. Bukankah puisi adalah sebuah ekspresi jiwa yang merdeka (?). begitu Sang Devi ingin menggugat. Mengapa harus terkungkung oleh ini dan itu, aturan ini dan itu, atau pada pakem-pakem tertentu. Devi ingin menulis puisi dengan merdeka, dengan bebas. Puisi itu singkat jujur. ‘Gak bertele-tele. Celetukan hati yang pertama. dan inilah yang Devi ingin sampaikan.

Kita merasakan kesederhanaan itu dalam puisi Ulang Tahun (hal 1): “Hepi besdey/ aku ulang tahun/ 1,2,3/ hitung lilin/ dapat kado!//”
“Aku selalu merasa selalu ada kata yang mengganjal”, kata Sang Devi. Dan yang mengganjal itu merisaukan. Dari kerisauan ini akan membentuk kata-kata. Dan kata-kata itu mewujud menjadi puisi. Buku inilah hasil dari apa yang mengganjal. Mengganjal di pikiran, di hati, dan di laku perbuatan.

Dalam antologi puisinya Devi lebih suka dengan kata AKU. Dia suka becerita lewat ke-Aku-annya. Karena dengan membaca Aku, Sang Devi merasa rileks dan menempatkan diri pada sosok si tokoh. Put yours self into someone else’s shoes. Cobalah memposisikan diri anda pada diri orang lain. Untuk merasakan empati. Merasakan si tokoh. Begitulah bila kita membaca AKU.

Selintas puisi Sang Devi mudah dicerna dan sederhana, namun bila kita kembali membaca, akan ada makna yang berbeda. Puisinya bermakna ganda. Kita bisa punya intreprestasi berbeda meskipun membaca puisi yang sama. Begitulah puisi Sang Devi. Dari situ kita belajar menghadapi kebingungan.

Puisi Sang Devi juga terkesan vulgar. Mungkin ia ingin menyampaikan kejujuran. Kepolosan. Tak ditutup-tutupi. Seperti dalam puisi Aku Kau (hal 72): “ Terpuaskan nafsu memburu/ hingga teriakkan desahan/ inginku akanmu/ tak akan pernah luntur/ inginku pelukmu/ berbagi aman/ berbagi ciummu/ bakar asmara/….”.
Seperti kata-kata dalam pengantar: kejujuran, proses, bebas (hal V). Begitulah mungkin penulis buku ini bermaksud.

Benang Merah adalah buku pertama dari Trilogy puisi yang sedang ia kerjakan. Buku kedua berjudul Pintu Merah akan segera terbit. Dan buku ketiga yang ia rencana berjudul Ranjang Merah. Benang Merah merupakan suatu pergulatan dalam diri, dalam satu ruang kehidupan. Dan kesemuanya akan keluar, menjadi bagian dari metamormofisis, kemudian melalui Pintu Merah Sang Devi keluar dari kepompong, bergulat dengan dirinya (lagi) dan menjadi sang kupu.

Benang Merah adalah sebuah perumpamaan. Benang Merah menunjukkan satu hubungan antara satu dengan yang lainnya. Jika sederhana bisa dilihat dari hubungan laki-laki dan perempuan, antara baik dan buruk, atau antara manusia dan Tuhan. Manusia memang tidak akan lepas dengan hubungannya dengan manusia lain, dengan benda, dengan Tuhan.

Benang Merah kehidupan itu bisa lurus, bengkok, ruwet atau ‘njelimet. Benang merah kehidupan kita adalah sebuah perjalanan. Kita pernah tahu ujung pangkal, namun kita belum tahu ujung akhirnya. Ujung akhir itulah yang terus dicari manusia. Buku ini adalah sebuah proses panjang yang berkelanjutan. Ia tidak datang secara tiba-tiba dan tidak dilahirkan secara prematur. Buku ini menjadi satu kejujuran dalam memandang, menangkap, dan mengalami sendiri roda kehidupan. Sang Devi mengaku belum merasa puas untuk menulis selama dia masih bisa berpikir.

[ satu kehormatan dari pojok kecil di sebuah koran ]

batu itu kepalaku

keringat bercucuran deras dan wajah basah mulai memerah
dan tubuh mulai terkulai lemas dan embusan nafas
tersengal-sengal kepanasan dan badan mulai goyah. payah.
tapi tangan berotot besar itu masih terus menggali batu yang keras.
keras. seakan tak mau bercerai. utuh.
sentuhan-sentuhan besi baja menghentak keras pada batu
dan telah coba meruntuhkan. bunga api mengembang
dari hasil perkelahian antara keras dan keras.
siang itu batu-batu cadas yang menggunung di perbukitan Malaya, berteriak.
memekik. hampir-hampir pekikan itu terdengar, namun tak kuasa.
memekik dalam diam. ku coba kembali memecah
benda hitam padat yang keras. dengan paluku.
ku ayunkan sekali, dua kali, tiga kali. tapi batu itu bergeming.
kucoba gali. tak mampu. tak ada bekasnya. ku coba lagi.
Tapi palu ku kalah dan akhirnya patah. bruk.
Duh kepalaku pecah. Parah. Darahku mengalir keras. Basah.
Mengguyur tubuh yang lemah. Teriakku kalah. Pecah.
Dan batu keras itu tertawa. Senang. Riang dalam diam. Huh!
Anganku sirna untuk kali ini.
Karena batu itu masih keras. utuh tak tersentuh.
Ku pegang kepalaku. Pecah.

untuk seorang gadis berkerudung

Sunday, November 18, 2007

Perjalanan dari Sintang

Oleh Heriyanto

Sepekan yang lalu, masih di bulan November saya melakukan perjalanan ke Sintang. Saya sangat gembira. Ini perjalanan yang menyenangkan. Teman saya, Dedy Armayadi yang bekerja untuk People Resources Conservation and Foundation Indonesia (PRCF-I) mengundang saya ke sana untuk membantunya menjadi fasilitator kegiatan pelatihan penulisan. Ini kali kedua saya memberikan pelatihan di sana.

Tempat pelatihannya enak. Sejuk. Terletak di jalan Lembah Menyurai Sintang. Satu komplek dengan Seminari Sintang. Di sekeliling tempat itu banyak pohon-pohon besar, namun tarawat. Namanya bangsal Sebeji. Ruangannya berarsitektur sederhana, berlantai dan berdinding papan kayu. Dari dalam kita bisa memandang ke luar ruangan dengan jelas. Tidak ada meja besar atau kursi laayaknya pelatihan kebanyakan. Para peserta duduk lesehan dengan meja kecil. Suasana cair. Serius tapi santai. Saya dan Dedy menjadi fasilitatornya.

Dedy konsen melakukan pendampingan terhadap masyarakat setempat, khususnya berkenaan dengan pelestarian nilai-nilai local masyarakat adat. Dedy dan lembaga tempat ia bernaung memikirkan serius mulai terkikisnya nilai-nilai local masyarakat adat yang tergerus oleh jaman.

Selama ini nilai-nilai tradisi diajarkan oleh orang-orangtua kepada generasi mudanya melalui lisan. Namun dengan perubahan jaman dan semakin derasnya arus budaya luar lewat berbagai media, anak-anak muda semakin tidak tertarik untuk mempelajarinya. Nah disinilah kekhwatiran Dedy muncul. Bila nilai-nilai local itu —seperti acara adat, gawai, cukur rambut dan sebagainya— tak lagi diminati dan dipelajarti generasi muda, maka beberapa puluh tahun ke depan bisa diperkirakan nilai-nilai local itu akan hilang.


Suasana pada sesi materi penulisan berita straight news. Saya (tengah) sedang menjelaskan langkah-langkah penulisan berita Straight news.

Dedy pun berinisiatif untuk menyelenggarakan pelatihan penulisan nilai-nilai local di sana. Peserta pelatihannya beragam. Ada tokoh-tokoh masyarakat adat setempat, ada juga yang menjabat sebagai kepala desa dan sekretaris desa, sisanya adalah para pemuda.

Para tokoh masyarakat adalah narasumber sekaligus menjadi penulisnya. Mereka tahu banyak soal nilai-nilai local. Mereka lebih mampu menyampaikannya secara lisan, namun punya kesulitan untuk menuliskannya. Nah di dalam pelatihan itulah coba digali apa saja yang mereka ketahui yang kemudian ditulis, baik oleh peserta lain maupun ditulis sendiri. Mereka belajar menyampaikan sesuatu secara sederhana melalui tulisan.

Tentu saja bukan hal yang mudah mengajari orang menulis. Ya menulis dalam arti untuk dibaca orang-- menulis artikel, cerita dan pengalaman – dan untuk diterbitkan. Namun untuk tahap pertama, kita tidak memperhatikan bagaimana tata bahasa, struktur atau kaidah bahasa yang biasanya menjadi hal utama dalam penulisan. Tentu saja guru bahasa akan geleng-geleng kepala bila harus menilai Ejaan mereka. Namun itu bukan masalah. Apalagi mereka notabene jauh lebih tua dari saya dan bukan dari kalangan akademik. Yang terpenting mereka mampu mengeluarkan ide serta berbagai pengetahuan mereka tentang nilai-nilai local dan berani menuliskannya. Ternyata hal ini berhasil. Mereka mampu menulis berbagai macam artikel, meski jika dilihat dari aspek bahasa tidak karuan.

Dedy merangcang sebuah bulletin 2 bulanan yang berisi nilai-nilai local masyarakat adat. Diambil nama Beduruk untuk bulettin itu. Beduruk artinya gotong royong. Secara filosofis, makna kata-kata ini diterapkan juga ketika mengerjakan bulletin itu. Merakalah sumber beritanya, sekaligus penulisnya. Dari mereka untuk mereka. Sudah 16 bulan berjalan. Delapan kali terbit.

Pelatihan kali ini mereka diajarin menulis berita Staright News (berita langsung), feature, dan artikel opini. Bila selama ini Dedy yang lebih banyak menulis untuk beduruk, setelah pelatihan diharapn para peserta itu yang nantinya bisa menulis yang mirip berita Koran. Mirip saja sudah lumayan. Karena memang mereka tidak “dicetak” untuk mengungguli tulisan wartawan professional.

Selesai pelatihan saya berjalan-jalan ke desa Sungai Maram dan Ensaid Panjang, Satu jam lebih perjalanan dari kota Sintang. Kebetulan ada Hendy Candra dari Walhi Pontianak serta Yoyo dan Dinar dari Walhi Jakarta yang sengaja datang untuk meneliti soal Hama Belalang yang menyerbu desa itu setahun yang lalu. Mereka minta Dedy untuk menemani mereka. Saya diijinkan untuk ikut serta.

Saya tidak mengerti benar untuk tujuan apa penelitian mereka. Mungkin ada hubungannnya dengan persoalan perubahan iklim. Mereka ingin melihat kaitan merebaknya hama belalang di Sintang, Melawi, dan beberapa daerah di Kalbar, dengan perubahan iklim global saat ini.

Saya yang awam soal isu lingkungan tak begitu tertarik dengan penelitian mereka. Yang membuat saya gembira ketika kami pergi ke rumah betang di desa Ensaid Panjang. Ini kali pertama saya pergi sana. Selama ini hanya lewat media massa dan omongan mulut saja saya dengar tentang rumah betang ini.


Saya (kiri) bersama Dedy berfoto di depan Rumah Betang, desa Ensaid Panjang, Sintang.

Rumah betang adalah rumah tradisional masyarakat dayak. Setiap sub suku Dayak punya ciri khas rumah panjangnya. Kebetulan yang saya kunjungi itu adalah Dayak Desa. Rumahnya memang Panjang. Bukan sekedar namanya. Ada 28 kepala keluarga yang menghuni di sana. Setiap keluarga memiliki satu pintu. Jadi ada 28 pintu. ini semacam komplek perumahan masa kini. Hanya rumah betang semuanya dari kayu. Dindingnya terbuat dari kulit kayu. Tangganya dari kayu dan tiang-tiangnya juga dari kayu.

Ada hal lain yang membuat saya terkesima: di sana banyak ibu-ibu yang lihai membuat kain tenun ikat secara manual. Mereka membuat kain tenun dengan berbagai corak dan bentuk. Kainnya halus dan indah. Untuk kain yang cukup lebar dijual seharga Rp.300.000. harganya cukup mahal, karena untuk membuatnya memang butuh waktu yang lama dan rumit. Untuk satu kain bisa diselesaikan dalam waktu 3 minggu. Saya membeli satu syal yang harganya 20.000. Motifnya khas dayak. Saya senang.


Seorang ibu sedang menenun kain tenun ikat. Produksi kain tenun Ikat di Sintang sebagian besar dipasok dari desa Ensaid Panjang. Salah satu kesibukan ibu-ibu di rumah betang adalah menenun. Melestarikan tradisi sekaligus menambah penghasilan keluarga.

Sayangnya, meski dijadikan aset wisata, kondisi sarana jalan menuju ke rumah betang itu rusak. Ini tentu jadi kendala bagi mereka para wisatawan yang ingin berkunjung ke daerah itu. Kondisi rumah betangnya juga tidak terawat. Semestinya pemerintah bisa memperhatikan hal ini. Saya kira bila rumah betang itu lebih ditata dan dirawat, akan banyak orang yang berkunjung ke sana. Saya juga akan semakin senang berkunjung ke sana.**

Friday, November 16, 2007



Demo Mahasiwa di Pontianak, Kalimantan Barat yang sering dimotori elemen-elemen gerakan mahasiswa, termasuk di dalamnya Jaringan Mahasiswa Kalbar (JMKB). Berbagai aksi dilakukan sebagai bentuk keprihatinan terhadap stagnannya reformasi.

kartunku



Kartun ini dibuat oleh teman saya sigit yang sehari-hari bekerja di pontianak post sebagai layouter. gak mirip-mirip amat, tapi lumayanlah.

Cadas

Batu yang keras
cadas
Hati yang beku
dingin
Hujan yang mengalir
lembut

Batu tersentuh hujan
Melembut dalam diam
Pelan
Membentuk rupa seirama titik hujan

datanglah hujan
hingga melembutkan
hati yang beku
datanglah yang lembut untuk mencairkan
batu yang keras

maka yang keras
ditaklukkan yang lembut
dan tersenyumlah
batu dan hati yang beku
ditaklukan hujan yang lembut

Pontianak, awal November 07

Tuesday, October 23, 2007

suara gadis surga

hari masih muda saat suara
gadis-gadis berkerudung
menyatu sayup-sayup
terdengar sampai di batas
yang meninggi

menari-nari memutar-mutar
mengikuti gemerisik daun-daun
yang diterpa angin yang lembut
menyajikan satu irama
tentang jiwa

pelan-pelan dingin menerobos
lewat celah-celah daun
yang baru tumbuh
membuat tetesan-tetesan
embun

tawa senyum harapan impian
menyeruak menyatu
bersama satu imaji
tentang gadis-gadis surga
berpakaian putih
dalam taman terbuka
yang menyajikan hidup
bersama gerak
yang indah
mendamba kesucian jiwa

jerit

angin di malam hari
merangkul dingin di tanah
gelap yang bercampur lumpur
mengalirkan hawa busuk
dari dasar lubang yang dalam
membawa aroma-aroma
ketamakan manusia
yang telah hilang kemaluannya
diracun oleh nikmat
dan tak mengerti bahwa
lubang-lubang yang telah dibuatnya
memusnahkan kehidupan

rumah, ladang, masjid tenggelam
anak-anak, ibu-ibu, kakek-kakek tidur di tenda-tenda
mereka tergeletak
ditemani lalat yang beterbangan
hingga ke atas-atas daun yang menyibak duka nestapa manusia
menyisakan jerit yanag keras

tapi tangan si pendosa tak henti
sampai waktu tiba. pelan-pelan.
dan akhirnya menenggelamkan orang yang malang

Monday, October 22, 2007

melayang

gadis yang kusayangi telah pergi
bersama awan putih bersih

aku termangu
dalam tiga detik
kuambil pisau dapur
kutusuk ke dalam hati
mengorek seluruh rasa
yang pernah singgah

kenapa kau tak sabar menunggu
hingga waktu saat kubawakan
semangkuk madu dalam hati

rindu yang sepi

kekasih,
masih bisakah ku genggam jemari manismu
ku cium manis keningmu dan ku belai lembut rambut hitammu

ah sudah!
bukankah kita sama-sama rindu?
ah bukan kamu. tapi aku
karena rindu hanya milikku. dan kau bahkan tak pernah tahu
ada rasa yang datang
menyayat dengan dalam

ah bodohlah aku yang menyangka ada rindu
di hatimu

dulu kulihat senyum itu membawa isyarat
yang ternyata hanya sepi
hilang bersama harapan

ingatan

kepada gadis hujan yang dulu
pernah singgah di kedai di dada sebelah kiri
tolong jangan buang ingatan
tentang malam hujan
ketika aku datang saat lampu-lampu padam

aku datang membawa harapan
bertemu dengan dia yang kemarin dulu
memberi senyuman yang indah
ditemani tahilalat di pipi

tapi kau sudah tidur pulas
karena hujan telah mengirimkan seribu dingin
dan menidurkan di gadis hujan]

aku pulang
membawa rindu yang begitu kuat menendang
dalam diam

cari penawar

rasanya seberat ditimpa beban
pilunya menggerogot saat sepi
sayatannya membekas dalam
perihnya menghentak-hentak
penuh, sesak, dan ingin pecah
lengkuhan nafas panjang
dari setiap tarikan nafas yang menusuk

cari obat! lekaslah!
cari penawar! cepatlah!
semua sudah diubun-ubun
dan menampar-nampar tanpa henti

tolong! cari dia
di batu, di besi, di tanah bakar
dia telah mengirimkan
segenggam bara
dalam hati

bilang padanya,
bawakan aku air yang putih dari lemari hatinya
yang diberikan dengan senyum
karena hanya itu yang bisa menyembuhkan

menanti hujan

ku ingin bersamamu menanti hujan turun
yang datang setiap sore di bulan yang basah
ketika tetes hujan menggertak daun-daun pilodendron
yang tersenyum

kau tahu kekasih
sudah lama kunanti hujan
agar aku bisa terus bersamamu
terbang bersama khayal
dan harapan yang datang
bersama tetes air hujan
yang hinggap di ujung-ujung pilodendron
membawa hijau
membawa hidup
membawa mimpi

dan ingin kudendangkan nyanyian pemanggil hujan
karena malam sudah hampir tiba

diikat matahari

sungguh!
semua itu terasa seperti mengulum
madu disertai pahitnya nila
kau memberikan mimpi
dan segenggam harapan
dalam bungkusan senyum

sungguh!
ingin kubeli mimpi, harapan
dan sebungkus senyum itu
dengan kuntum mawar di sakuku
agar bisa terus kubawa saat tidur

sungguh!
semua akhirnya hanya tinggal
kenangan yang manis
ketika suatu siang
kau bilang bunga-bunga telah diikat oleh matahari
hingga tak ada lagi yang boleh mengganggu

kenangan

semua akhirnya hanya tinggal
kenangan yang manis
ketika suatu siang kau bilang
bunga-bunga telah diikat oleh matahari
hingga tak ada lagi yang boleh mengganggu

pontianak, okt 07

titipan

Ku titipkan hati yang dibungkus emas. Yang ku simpan bersama tulip dalam kantung hitam. juga kutitipkan setitik embun di kantung putih. Engkau mengambil titipan itu, Dan bilang, ”datanglah 10 bulan lagi. Saat bulan sudah penuh. Saat orang-orang kehilangan hati dan embun.”

Kau menutup pintu.

Ku diam. Dan pulang.

Ku kembali untuk mengambil titipan hati yang dibungkus emas. Bersama tulip dan setitik embun. Bulan sudah penuh dan orang-orang kehilangan hati dan embun. Tapi kau tak ada di pintu. Kata tetangga, hati dan embun yang kutitipkan telah dicuri orang.
Ku diam. Dan pulang.

Ku kembali untuk mengambil titipan. 20 bulan yang lalu, kau bilang, “datanglah 10 bulan lagi. Saat bulan sudah penuh. Saat orang-orang kehilangan hati dan embun.” Tapi kau tak ada di situ. Di sebelah jalan, beberapa tulip bermunculan. Tapi semua kering, ditemani semak yang kering.

pontianak medio mei o7, saat hati gerimis

Sunday, October 7, 2007

Warga Belajar program PBH



Pemberantasan Buta Huruf: Saya (paling kanan) bersama warga belajar program Keaksaraan Fungsional, di Desa Air Putih Kecamatan Kubu (Agustus 2007). Dalam upaya pemberantasan buta huruf, FKIP Untan menerjunkan mahasiswa untuk membimbing mereka yang buta huruf agar bisa membaca dan menulis. Saya termasuk salah satu tutornya. Ditargetkan pada tahun 2015 Kalbar bebas buta huruf


Transportasi Sungai: Sebagian besar wilayah di Kalbar dihubungkan oleh sungai-sungai besar. Sejak dulu masyarakat Kalbar menggunakan sungai sebagai sarana transportasi. Salah satunya menggunakan kapal motor air (kapal bandung) yang bisa mengangkut penumpang dan barang. Foto diambil Agustus 2007, di atas kapal klotok jurusan Rasau Jaya- Desa Air Putih kecamatan Kubu (teks dan foto:Heriyanto)

Sunday, September 30, 2007

Mati Suri Listrik Kalbar

Sedang asyik mengetik, tiba-tiba layar monitor mati. Listrik padam. Hampir-hampir saja seluruh perbendaharaan kata-kata sarkas keluar dari mulutku, jika bukan karena ini bulan puasa. Beberapa waktu ini padamnya listrik di kota Pontianak sudah keterlaluan. Tak kenal waktu. Tak kenal situasi dan kondisi. Pagi, sore, bahkan sampai malam hari. Padahal saat ini sedang bulan puasa. Bulan puasa bagi umat Islam adalah bulan yang disucikan. Di bulan ini umat muslim berlomba-lomba beribadah. Sebagian besar aktivitas ibadah dilakukan di malam hari, yang tentu saja sangat membutuhkan energi listrik.

Banyak orang yang mengeluh karena tidak bisa beribadah dengan tenang. Ibu-ibu mengeluh karena matanya tidak awas saat membaca huruf-huruf alquran. Di masjid mikropon tak bisa digunakan sehingga suara ajan tak terdengar. Salat tarawih juga terganggu, apalagi saat ada acara ceramah atau kultum. Lebih-lebih pada saat sahur. Ibu-ibu harus gelap-gelapan menyiapkan makanan untuk makan sahur. Makan sahur di pagi hari yang biasanya tidak bersemangat tambah tak bersemangat karena gelap. Untung-untungan kalau tidak keliru mengambil makanan.

Beberapa hari yang lalu ada kabar sebuah rumah hangus terbakar. Sumber kebakarannya lilin. Sebagai pengganti penerangan di malam hari ketika listrik padam, masyarakat lebih suka menggunakan lilin yang lebih mudah dipakai. Tapi bila tidak hati-hati, lilin bisa menghanguskan rumah. Seperti kejadian kemarin itu.

Problem kelistrikan di kota Pontianak sudah terjadi beberapa bulan ini. Alasannya, daya listrik yang dihasilkan oleh PLN tidak mencukupi untuk kebutuhan seluruh kota. Untuk itu PLN mengurangi konsumsi Listrik dengan memadamkan sebagian aliran listrik sebagian pelanggan. Awalnya dibuat jadwal pemadaman secara bergilir, pemadaman hanya seminggu sekali. Namun belakangan hal ini tidak berlaku. Pemadaman listrik tak lagi mengenal jadwal. Bahkan di suatu tempat bisa terjadi pemadaman setiap harinya. Ini jadi persoalan. Karena pemakaian listrik tidak hanya untuk konsumsi rumah tangga saja. Banyak usaha-usaha produktif yang tergantung pada listrik. Industri kecil, menengah, bahkan sampai industri besar mengandalkan energi listrik agar bisa berproduksi. Pemadaman listrik tentu saja sangat mengganggu aktivitas produksi. Dan itu berarti membuat omset mereka berkurang. Hal ini berakibat juga pada kesejahteraan orang-orang yang tergantung pada indsutri itu. Mungkin saja ada orang yang terpaksa libur kerja karena setiap hari listrik padam. Banyak juga home industri yang tergantung pada listrik. Ibu-ibu pembuat kue, bapak-bapak tukang las, atau sekadar tukang sablon.

Saya sendiri sangat tergantung pada computer untuk menulis artikel atau tugas-tugas lain. Saya bisa bekerja bila computer menyala. Dan tentu saja bila listrik tidak padam. Bisa tanpa listrik, namun harus menggunakan UPS. Namun itu hanya mampu bertahan beberapa menit saja. saya akan kelimpungan bila saya tidak bisa bekerja.
Biasanya litrik padam mulai pukul 06.00 pagi hingga 17.00. Itu artinya ada 11 jam waktu saya terbuang. Selama itu pula saya jadi tidak produktif karena tidak ada tulisan yang bisa dibuat. Bila dikalikan orang yang seperti saya ini di kota Pontianak ada 1000 orang, berarti pula 1000 orang itu juga tidak produktif. Dan bila kita kalikan lagi dengan ibu-ibu pembuat kue, bapak-bapak tukang las, atau tukang sablon di seluruh kota pontianak, berapa kerugian yang terjadi? Penurunan produksi akan berpengaruh terhadap perkembangan kota pontianak, bahkan Kalbar. Pembangunan Kalbar juga terhambat. Tidak hanya di bidang ekonomi saja di bidang pendidikan akan mundur. Sekolah-sekolah terganggu karena mereka tidak mengoperasikan computer untuk praktikum, tak bisa melakukan eksperimen karena ruang lab gelap dan tak bisa menggunakan alat-alat Bantu pembelajaran.

Kalbar yang terpuruk ini akan lebih terpuruk lagi bila masalah kelistrikan ini tidak segera diatasi. Stake holder terkait perlu segera mencari solusinya. Dan itu butuh kerja keras. Jangan hanya berpangku tangan saja. Jangan sampai untuk menulis satu tulisan pendek ini saja saya tak bisa.

Tuesday, September 11, 2007

Negarawan dalam Konsepsi Plato


Oleh Heriyanto

Politik tak selamanya jelek, walau tak selamanya baik. Namun siapa pun yang menyangka bahwa politik pada awalnya adalah hal yang memuakkan, tentu keliru. Plato orang yang paham akan hal ini. Dalam uraian yang mengejutkan yang saya baca dari buku Bertrand Russel, Sejarah Filsafat Barat, Plato tak membicarakan politik sebagai yang memuakkan itu, namun hal yang indah dan menawan.

Politik bagi Plato adalah sebuah keluhuran, bahkan menjadi karya kreatif yang indah dan bernilai seni. Semua ilmu pada akhirnya akan melayani politik, demi sebuah kepentingan yang lebih luas: kesejahteraan rakyat. Politik dibutuhkan, karena manusia butuh sebuah tata dalam bernegara. Dan itu mengisaratkan satu hal: politik adalah keniscayaan, dan tidak semestinya ditolak, diharamkan.

Friday, June 29, 2007

Menakar Persepsi Masyarakat tentang Korupsi di Kepolisian

Oleh Heriyanto

Prolog
Pada pertengahan Mei lalu, media massa ramai memberitakan hasil polling1 Lembaga Pengkajian dan Studi Arus Informasi Regional (LPS-AIR) tentang persepsi masyarakat bahwa Kepolisian adalah lembaga terkorup di Kalbar setelah DPRD, kejaksaan, pengadilan, dan lembaga keuangan. Tentu saja banyak orang yang terkejut atas hasil polling ini, tak terkecuali Kepolisian Daerah Kalimantan Barat. Padahal selama kepemimpinan Kapolda Nanan Soekarna Polda Kalbar sedang giat-giatnya memperbaiki citra di masyarakat. Misalnya dalam hal penegakkan hukum dan pelayanan kepada masyarakat. Terakhir, Polda memulai gebrakan baru dengan penyematan Pin Anti KKN pada setiap anggota kepolisian. Namun hasil polling ini seperti mementahkan apa yang dilakukan Polda Kalbar tersebut.

Tapi siapa yang bisa menyalahkan persepsi masyarakat? Hasil polling LPS AIR justru patut dijadikan bahan introspeksi dan evaluasi diri bagi institusi Polisi di Kalbar. Mengapa? Pertama, persepsi masyarakat tersebut bisa jadi merupakan representasi apa yang dipikirkan dan dipahami oleh masyarakat terhadap institusi kepolisian di Kalbar. Kedua, polling tersebut bisa menjadi bahan pertimbangan polisi untuk melakukan langkah-langkah perubahan. Pandangan masyarakat menjadi bagian penting dalam perubahan institusi kepolisian, karena perubahan pandangan itu pulalah yang akan membuat kepolisian dipersepsikan dengan cara yang jauh lebih baik.

Persepsi Masyarakat
Persepsi oleh Lahry2 didefinisikan sebagai proses yang kita gunakan untuk menginterpretasikan data sensoris. Data sensoris sampai pada kita melalui lima indera kita. Ada dua jenis pengaruh dalam persepsi, yaitu pengaruh struktural dan pengaruh fungsional.

Pengaruh struktural pada persepsi berasal dari aspek-aspek fisik rangsangan yang terpapar pada kita. Aktivitas polisi, baik atau buruk, yang ada hubungan dengan masyarakat akan tersampai sebagai sebuah pesan yang diterima oleh otak. Baik bersinggungan langsung atau melalui media massa. Pesan inilah yang kemudian menjadi persepsi. Pengaruh fungsional merupakan faktor-faktor psikologis yang memengaruhi persepsi, dan karena itu membawa pula subjektivitas ke dalam proses penilaian. Keterlibatan secara emosi pada penanganan kasus-kasus yang dilakukan polisi. Misalnya saja kita contohkan saat seorang ibu-ibu yang akan berbelanja dan kemudian terkena razia di jalan raya. Karena tidak punya SIM, Si Ibu harus membayar denda. Padahal uang tersebut akan dipakai untuk berbelanja. Secara subjektif si ibu itu akan beranggapan bahwa keberadaan polisi justru menjadi ancaman.

Bagaimana persepsi terbentuk? Persepsi tentang suatu institusi, termasuk kepolisian, tidak terbentuk dalam waktu yang singkat. Persepsi terbentuk dalam proses persinggungan keseharian antara polisi dan masyarakat selama bertahun-tahun. Misalnya saja pada proses rekrutmen calon anggota kepolisian. Penelitian mahasiswa Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian 3 (PTIK) menyimpulkan korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) di tubuh Polri sudah bertahun-tahun mengakar, baik di bidang operasional maupun pembinaan. Penelitian mereka di 19 kepolisian daerah (Polda) menemukan fakta: untuk menjadi polisi, seorang calon terpaksa membayar puluhan juta rupiah. Hal ini telah menjadi semacam fakta sosial di masyarakat selama bertahun-tahun.

Korupsi dalam Persepsi Masyarakat
Lantas jika masyarakat punya persepsi bahwa lembaga kepolisian itu punya potensi korupsi apakah bisa serta merta diartikan lembaga tersebut melakukan korupsi? Jawabannya bisa ya bisa tidak. Karena persepsi adalah fakta sosial bukan fakta hukum. Apa yang dipersepsikan masyarakat sebagai korupsi boleh jadi berbeda dengan makna korupsi dalam undang-undang. Yang menarik dalam penyikapan atas polling LPS AIR adalah perbedaan pemaknaan apa itu korupsi.

Polda memaparkan bahwa anggaran kepolisian kecil sehingga dengan anggaran yang kecil tidak mungkin polisi melakukan korupsi. Pandangan Polda ini berpijak dari pengertian umum bahwa korupsi adalah penyelewengan uang negara sehingga menyebabkan kerugian negara. Jika pengertian umum ini yang digunakan, intitusi kepolisian merasa bahwa sama sekali tidak anggaran negara yang diselewengkan sehingga merugikan keuangan negara.

Masyarakat tidak memahami konteks korupsi secara utuh seperti dalam undang-undang. Makna korupsi di masyarakat tidak sekadar penyalahgunaan keuangan negara sehingga negara mengalami kerugian, namun menurut masyarakat korupsi adalah penyalahgunakan kekuasaan dan kepercayaan untuk kepentingan pribadi. Pungutan dalam bentuk denda razia kendaraan kendaraan bermotor misalnya, karena tidak jelas apakah masuk kas negara atau ke kocek oknum polisinya maka masyarakat akan menganggap itu sebagai bentuk penyelewengan kekuasaan. Dan itu dipersepsikan sebagai korupsi. Walaupun dengan jumlah uang yang kecil, namun bila itu terjadi terus menerus, persepsi akan makin tebal saja persepsi bahwa polisi itu korup.

Eko Prasetyo 4 dalam buku Perpolisian Masyarakat menyebutkan, di lingkungan internal polisi terdapat beberapa deretan masalah. Antara lain: pelayanan kepolisian yang masih oleh masyarakat dirasakan dipersulit, kehadiran anggota polisi yang terkesan mengancam, tingginya pelanggaran hukum dan dan etika anggota dan masih seringnya penuntutan imbalan uang seperti pemerasan, pungli, dan denda damai. Persoalan ini adalah warisan lama yang sudah mengakar kuat. Bahkan seperti yang disampaikan Direktur Eksekutif The Ridep Institute S Yunanto 5 sudah menjadi rahasia umum institusi kepolisian disebut-sebut sebagai salah satu institusi terkorup. Ada kesimpulan dari sebuah penelitian yang menyebutkan bahwa dana yang bisa dipertanggungjawabkan dalam beaya opersional Polri hanya 30 persen. Sementara 70 persen lainnya disebutkan berasal dari dana-dana yang tak jelas asal-usul maupun pertanggungjawabannya. Kondisi ini yeng menyebabkan polisi memiliki citra buruk di masyarakat.

Keterlibatan oknum polisi yang sering kali 'berdamai' terhadap pengusutan dan penyelesaian kasus kejahatan dan pelanggaran hukum juga ditengarai oleh Indonesian Police Watch. Bahkan tidak sedikit oknum kepolisian yang menjadi beking tempat-tempat perjudian dengan sejumlah imbalan tertentu.

Memang persoalan korupsi menjadi momok bagi Indonesia. Sementara dalam kenyataannya, upaya-upaya pemberantasan korupsi tak juga membuahkan hasil yang memuaskan. Hal ini tidak lain, karena aparat yang seharusnya menangani kasus korupsi juga terindikasi banyak melakukan korupsi. Kasus-kasus itu dirasakan masyarakat sebagai hal yang sulit dibuktikan.

Kendati Kapoldanya punya komitmen terhadap pemberantasan korupsi namun bagaimana dengan struktur kepolisian di bawahnya. Bagaimana dengan anggota-anggota kepolisian yang turun langsung di lapangan? Atau katakanlah ada tindakan perbaikan untuk melakukan perubahan, tapi bagaimana dengan pengalaman untuk melakukan perbaikan itu? Ketidakberdayaan dan tiadanya pengalaman dalam berurusan dengan korupsi di masyarakat selanjutnya dapat dimengerti melalui kurangnya pelaporan tentang kasus-kasus korupsi serta alasan-alasan untuk tidak melaporkan kasus-kasus korupsi.

Kapasitas SDM

Nanan Sukarna ketika masih menjabat sebagai Kapolda Kalbar beberapa kali menyebut adanya oknum polisi yang brengsek. Padahal secara umum, baik buruknya kinerja dan citra kepolisian memang dipengaruhi kualitas dan kuantitas sumber daya manusianya. Tingkat kejujuran polisi juga dipertanyakan. Penelitian Kemitraan Bagi Tata Pemerintahan 6 di mana para responden diminta menyusun daftar 35 lembaga publik dalam hal kejujuran, mulai dari yang paling korup (nilai 1) sampai yang paling jujur (nilai 5). Polisi lalu lintas memperoleh penilaian paling rendah yaitu 2,13. Sementara media berita, kantor pos, dan organisasi keagamaan (masjid, gereja, kuil) dianggap yang paling sedikit melakukan korupsi dengan nilai 4,55. Dari sini tergambar bagaimana penilaian masyarakat terhadap kejujuran polisi masih sangat rendah.

Penerimaan anggota polisi yang masih menggunakan cara-cara korup hanya akan menciptakan polisi yang korup. Dengan menyetor sekian juta rupiah supaya bisa diterima menjadi polisi akan membuat ada semacam upaya untuk mengembalikan uang yang disetor tersebut setelah diterima menjadi anggota polisi. Jika hal ini tidak segera dihentikan maka persepsi masyarakat bahwa polisi lembaga korup akan terus ada. Maka yang bisa dilakukan ke depan adalah perbaikan sistem penerimaan dan pendidikan bagi anggota polisi.

Langkah Perubahan
Kaitan dengan persepsi, maka untuk memulihkan citra kepolisian adalah dengan membuktikan diri bahwa kepolisian layak dipercaya oleh masyarakat. Beberapa langkah bisa dilakukan:

Pertama mengedepankan Perpolisian Masyarakat. Perpolisian Masyarakat adalah suatu bentuk perpolisian yang mengutamakan hubungan baik antara kepolisian dan masyarakat setempat, mendekati pekerjaan polisi sebagai pekerjaan yang proaktif ketimbang reaktif, dan lebih mengedepankan relasi antar manusia.

Kedua, melaksanakan penegakkan hukum secara tegas tidak pandang dan bukan untuk kepentingan pribadi. Selama ini isu korupsi di tubuh polisi sering terdengar namun jarang sekali terdengar pengusutannya. Barangkali karena Kepolisian adalah istitusi yang berwenang dalam penegakan hukum dan punya wewenang yang besar, namun tidak ada lembaga yang secara khusus mengontrol institusi kepolisian. Polda Kalbar bisa membuktikan diri dengan melakukan pengusutan terhadap anggota-anggota kepolisian yang terindikasi korupsi.

Ketiga, memulai komitmen untuk Pemberantasan Korupsi. Polisi bisa bekerjasama dengan berbagai lembaga, misalnya mengadakan pelatihan investigasi korupsi.

Keempat Transparansi sebagai bentuk pertanggungjawaban terhadap publik. Kepolisian harus bisa mempertanggungjawabkan anggaran keuangan yang telah diamanatkan kepada mereka. Selain akuntabilitas keuangan, saat ini Polri merupakan institusi yang mempunyai wewenang diskresi atau kekuatan paksa fisik tetapi mempunyai kekuatan pertanggungjawaban vertikal secara hirarki yang menempatkan institusi ini sulit dikontrol publik. Situasi ini sangat berbahaya. Adanya transaparansi sehingga masyarakat bisa menjadi pengontrol kepolisian.

Sejak beberapa tahun ini terdapat berbagai upaya dari berbagai kalangan untuk membantu pembaharuan di lingkungan kepolisian. Tuntutan agar kalangan kepolisian makin transparan, memiliki pertangungjawaban publi serta menjadi kebutuhan yang besar. Dalam kaitan ini beberapa perubahan memerlukan tindak lanjut dan upaya yang berkesinambungan.

Penelitian sebagai Bahan Analisis
Kelemahan organisasi Polri saat ini adalah struktur organisasi tingkat bawah yang mempunyai kewenangan yang cukup luas namun tidak dilengkapi dengan staff yang bertugas melakukan kajian dan analisis sebagai masukan kebijakan bagi pimpinan. Padahal struktur paling bawah, misalnya Polres, bersentuhan langsung dengan masyarakat. Maka tidak heran jika kualitas kebijakan Polri pada tingkat bawah masih jauh dari yang dicita-citakan.

Polda Kalbar harus melakukan penelitian yang lebih mendalam sebagai bahan analisis dan nantinya bisa menjadi bahan pertimbangan untuk membuat keputusan. Seperti yang dikatakan oleh Rusy Said 7, Dosen Hukum Untan, bila survey dilakukan dengan profesianalitas, maka data yang dihasilkan akan sangat berguna, tidak saja untuk mengembangkan tolak ukur guna mengukur perubahan yang terjadi di masa datang, tapi juga untuk menentukan apa yang salah (dalam suatu institusi seperti kepolisian).
Bila Polling diterbitkan dan disebarluaskan (lewat media massa), hasilnya dapat meningkatkan kesadaran publik mengenai korupsi. Khususnya untuk korupsi, serve dapat meningkatkan perbaikan dalam tubuh lembaga, merangsang perdebatan antara para ahli dan terfokus pada tindakan nyata.

Membantu menentukan bidang-bidang masalah dan prioritas untuk perbaikan dan memberi masyarakat suara dan memperkuat kepentingan pemilik lokal. Hasilnya dapat diberikan kepada pihak-pihak yang berkepentingan untuk mendorong dan memberdayakan pendapat umum sehingga ada pembaharuan atau perbaikan institusi.

Catatan Kaki
1. Polling ini adalah bagian dari program Clearing House yang mempunyai fokus melihat persepsi masyarakat terhadap pemberantasan korupsi di Kalbar. Dilaksanakan di kotamadya Pontianak, Kabupaten Pontianak, Singkawang [juga Bengkayang, Sambas], Sintang, dan Ketapang. Pencupilkan dilakukan dengan metode sistematik sampling dengan jumlah sampel 380 orang. Waktu pengumpulan data secara efektif dilakukan selama 3 minggu, di bulan Maret 2006.
2. Lahry adalah ahli komunikasi yang secara spesifik meneliti tentang persepsi dan kaitannya dengan media massa. Hasil analisisnya ini terdapat dalam buku teori komunikasi yang ditulis werner J severin dan james W Tankard Jr, terbitan Kencana Jakarta: 2005
3. Penelitian ini dikutip dalam tulisan Neta S Pane berjudul Sapu Kotor Itu Bernama Polisi, (harian kompas).
4. Laporan Evaluasi Proyek Perpolisian Masyarakat tahun 2005. Ditulis oleh Eko Prasetyo dan Suparman Marzuky
5. Artikel berjudul Pekerjaan Rumah Dalam Reformasi Kepolisian di dalam Bulettin Polisi Sipil edisi 1 Mei 2005. Karena ketidakjelasan itu dana-dana itu dilabeli dengan partisipasi teman (Parman), partisipasi masyarakat (parmas), dan dan pendapatan dari aktivitas abu-abu atau criminal (parmin).
6. Laporan Akhir Kemitraan Bagi Pembaruan Tata Pemerintahan di Indonesia. Suatu Studi Diagnostik mengenai Korupsi di Indonesia (2002)
7. Pernyataan Rusdy Said dalam diskusi antara Polda Kalbar dan LPS AIR di balai kemitraan Polda Kalbar tanggal 22 Mei 2006. Pernyataan ini adalah tanggapan atas hasil polling LPS AIR yang di sampaikan dalam diskusi tersebut.

Friday, June 15, 2007

Menanti Pers sebagai Penyelamat

Oleh Heriyanto

Ada semacam asumsi bahwa perkembangan pers berpengaruh pada kehidupan demokrasi. Kalimat ini klasik, memang. Namun sangat berarti. Sebab ada banyak harapan pers menjadi semacam penyelamat atas sesuatu yang sudah buruk.

Bulan Agustus 1974 Presiden Richard Nixon mengundurkan diri setelah dua wartawan Washington Post Bob Woodward dan Carl Bernstein membongkar kasus Watergate di mana Nixon terlibat di dalamnya. Publik Amerika geger. Presiden ke 37 AS yang malang itu lengser dari jabatannya sebagai presiden, bukan karena demonstrasi atau impeachmen parlemen, melainkan karena laporan pers. Suatu yang buruk telah terselamatkan. Saya tahu kisah ini setelah menonton film All The President's Men yang secara rinci cerita soal skandal Watergate.

Pers Indonesia pasca Orde Baru memeroleh kebebasannya: sesuatu yang berbeda dibanding masa orde baru di mana pers terkungkung ancaman sensor dan bredel. Kini pers berkembang pesat. Ratusan media tumbuh. Pers berani mengkritisi kebijakan pemerintah tanpa rasa takut. Walau tentu saja belum sekaliber terbongkarnya skandal Watergate. Dulu wartawan Indonesia bisa sewaktu-waktu terancam penjara bila berita yang ditulis dianggap menentang pemerintah. Kini mereka berani membuat berita yang pada masa orde baru sangat sensitif sekalipun.

Bukankah kini memilih berita layaknya memilih makanan? Berbagai pilihan disuguhkan. Kita bebas memilih berita kuliner sampai berita soal politik atau kriminal. Kita bisa baca berita yang ditulis secara lembut sampai yang ditulis keras dan pedas. Sarapan pagi kita ditemani berita soal korupsi, ilegalloging, sampai pembunuhan.

Pers Indonesia berkembang, benarkah ini sekaligus menandakan makin berkualitasnya kehidupan demokrasi di Indonesia? Dan bila kita yakin tujuan demokrasi adalah kesejahteraan rakyat, apakah peningkatan kuantitas berita membawa implikasi makin meningkatnya kesejahteraan rakyat?

Semestinya iya. Tapi bisa juga tidak. Saya hendak mengatakan, kebebasan pers ini idealnya membawa perubahan mendasar dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Sebut saja misalnya perbaikan kesejahteraan rakyat. Namun bicara sesuatu yang ideal akan menyerempet utopia: mimpi. Dengan kata lain, peningkatan kesejahteraan yang diharapkan itu mungkin saja hanya sekadar mimpi.

Ada pernyataan, jurnalisme hadir bersama tujuannya. Bill Kovach dan Tom Rosentiel dalam buku Sembilan Elemen Jurnalisme menyebut tujuan jurnalisme adalah menyediakan informasi yang dibutuhkan warga agar mereka bisa hidup merdeka dan mengatur diri mereka sendiri. Menurut Kovach manusia membutuhkan berita karena naluri dasar-- yang disebut sebagai naluri kesadaran. Dengan informasi itu manusia tahu dunia luar.

Orang bebas tahu siapa yang layak untuk jadi gubernurnya: siapa yang pahlawan dan siapa yang penjahat. Orang perlu tahu amankah daerah yang ia tempati dan apa saja potensi-potensi yang bisa dikembangkan. Orang perlu tahu kebijakan-kebijakan pemerintah, juga butuh informasi bencana alam atau sekadar berita tentang harga minyak goreng. Orang juga perlu dapatkan informasi soal pendidikan, lapangan pekerjaan, atau soal kecil macam tempat wisata yang menarik.

Pengetahuan itu memberi rasa aman, membuat mereka bisa merencanakan dan mengatur hidup mereka. Bila rakyat mampu memberdayakan diri mereka kesejahteraan hidup bisa ditingkatkan. Merdeka dan bisa mengatur diri sendiri secara bebas itulah inti demokrasi. Dalam negara yang otoriter kemerdekaan dan kebebasan sangat sulit didapat. Pada titik inilah sesungguhnya peran media dibuktikan. Dan asumsi kita terjawab meski masih menyisakan sedikit ragu.

Ini sisi keraguan itu: meski sudah mendapatkan kebebasannya, seringkali media di Indonesia lupa bahwa mereka bertanggung jawab pada publik. Media terjebak pada korporasi yang tujuannya semata keuntungan dan melupakan untuk apa mereka hadir.

Sebagian media mungkin tidak dekat dengan rakyat kecil. Sebagian lain mungkin lebih dekat dengan penguasa dan sibuk melayani pemerintah ketimbang mereka yang diperintah (warga). Bila hal ini yang lebih dominan, maka satu kesimpulan soal utopia tadi menjadi kenyataan. Bahwa media memang tak mampu berperan dalam membangun demokrasi apalagi peningkatan kesejahteraan rakyat.

Dan orang boleh menggugat: pers ada tetapi mengapa pada kenyataannya masih banyak rakyat yang belum terberdayakan dan masih banyak pula yang belum sejahtera; mengapa korupsi makin banyak; mengapa pula masih banyak rakyat yang termarjinalkan?

Padahal media tidak seperti perusahaan tahu, krupuk, atau rokok yang tujuan utamanya keuntungan. Media adalah sebuah institusi yang punya tanggungjawab untuk mencerdaskan publik, memberikan informasi yang bergizi, dan sekali-kali menjadi watchdog pemerintah. Mata hati pers pada nurani. Seperti memilih makanan, media semestinya memberikan pilihan-pilihan yang dibutuhkan dalam mengembangkan potensi warga: mencerdaskan sekaligus memberdayakan.

Tapi kita perlu realistis bahwa Pers Indonesia belum lama menikmati kebebasannya. Dan bisa jadi ancaman-ancaman pada kebebasan pers masih mengintai di kemudian hari. Seperti yang pernah dikatakan Sindhunata, melahirkan demokrasi sama sakitnya seperti melahirkan bayi. Mungkin sama sakitnya bagi pers dalam membangun demokrasi.

Thursday, May 24, 2007

The Parable Of Pipeline: Untuk Optimisme Bangsa

Oleh Heriyanto

Sebuah Kisah Pengantar
Hurke Hedges dalam The Parable Of Pipeline membuat ilustrasi menarik. Tahun 1801 di sebuah lembah di Italia, ada dua orang saudara sepupu yang sangat ambisius: Pablo dan Bruno. Mereka memiliki cita-cita tinggi. Keduanya bekerja mengangkut air dari sumber air ke penampungan di tengah desa. Namun, jarak yang jauh dan kondisi jalan yang kurang memungkinkan adalah rintangan terbesarnya.
Pablo memberikan usul, ”Bagaimana bila kita membangun saluran air?”. Usulan Pablo dianggap angin lalu oleh Bruno. Pablo lantas mengerjakan sendirian rencana itu, sementara Bruno tetap pada usahanya sejak awal. Orang-orang desa mengejek apa yang dikerjakan Pablo dan menyebutnya Si Manusia Pipa.

Namun dia terus mengerjakannya: menyambung-nyambung batang-batang bambu. Sendirian! Dua tahun berlalu, saluran pipanya akhirnya rampung. Orang-orang desa berkumpul saat air mulai mengalir dari saluran pipa menuju ke penampungan air. Desa itu sudah bisa mendapatkan pasokan air bersih secara tetap. Semua bergembira. Hanya Bruno yang tampak murung dengan tubuh bungkuk karena setiap hari mengangkut air.

Pablo berkata pada Bruno, “Dua tahun lamanya saya bekerja untuk menyelesaikan pembangunan pipa itu. Selama itu saya belajar banyak hal. Dan saya sudah mengerti bagaimana membangun saluran pipa dengan lebih mudah. Sebetulnya saya bisa mengerjakannya sendirian, tetapi rasanya untuk apa saya menghabiskan waktu satu tahun hanya untuk membangun satu saluran pipa. Rencana saya mengajari kamu dan warga desa lainnya supaya bisa membangun sendiri saluran pipa untuk mereka. Semua tempat akan bisa teraliri air.”

Dalam kisah di atas tersimpan nada-nada optimisme, sekaligus pesan yang barangkali bisa kita jadikan pelajaran tentang perjuangan seseorang untuk kepentingan masyarakat luas. The Parable Of Pipeline adalah sebuah cerita menarik. Pararel dengan cerita ini, Tempo pada akhir Desember 2006 memilih 10 Tokoh Muda Indonesia yang dinilai telah melahirkan karya-karya yang bermakna bagi kemanusiaan.
“Wajah mereka berkelebat di laboratorium, di turbin air, di desa tandus, di musium tua yang dilupakan serta di ruang pengadilan yang mendidih. Mereka kerap ditimpa kesepian karena memilih bertarung melawan arus besar yang lama menelikung kita: korupsi, kolusi, nepotisme. Menciptakan karya-karya yang bermartabat adalah pilihan mereka.” Demikian Tempo edisi 31 Desember 2006 menuliskan kata pengantar indah ini untuk mereka.

Mereka ada di berbagai pelosok Indonesia. Tri Mumpuni salah satunya. Di sana, di daerah terpencil di Sulawesi Selatan, Mumpuni mengajari warga membuat listrik murah, lalu menjualnya ke pemerintah. Dia berjuang dengan tetesan keringat. Inilah wanita yang berani menunggangi kuda jauh menembus hutan-hutan Sulawesi dan menyisiri daerah-daerah pedalaman dengan semangat yang tinggi agar masyarakat di sana bisa menikmati listrik.

Dia gigih memberdayakan daerah terpencil dan ulet mewujudkan apa yang dianggapnya berkeadilan. Membaca kisah ini kita ingat dengan perjuangan penerima Nobel Perdamaian 2006 Dr Muhammad Yunus, pendiri Grameen Bank, yang memberikan kredit kecil kepada buruh, pengemis, dan orang-orang miskin di Bangladesh supaya mereka bisa meningkatkan kesejahteraan mereka. Dia telah mengilhami banyak orang bagaimana bertindak bagi kemanusiaan dengan hati yang tulus.

Kita Butuh Optimisme
Bangsa Indonesia sedang menghadapi berbagai masalah, kita sudah tahu sama-sama; bangsa ini didera krisis mulitidimensi juga sering kita dengar; petaka dan bencana datang silih berganti, sudah sama-sama kita rasakan. Belum selesai satu bencana tertangani, di daerah lain sudah muncul bencana lain. Tsunami, banjir, longsor, kekeringan, lumpur panas, dan sebagainya: hampir tak bisa kita hitung satu persatu.
Di antara sekian banyak persoalan yang ada di bangsa ini, yang masih sangat jarang kita dengar adalah optimisme dan upaya bersama untuk keluar dari segala macam sengkarut tersebut. Yang lebih sering kita dengar adalah nada pesimisme; sesama anak bangsa berkelahi; sesama pejabat negara saling menjatuhkan.

Katakanlah kita memanjat pohon yang salah, maka yang dibutuhkan adalah bagaimana kita bisa turun dan kemudian belajar dari kesalahan itu sehingga ke depan kita tidak lagi salah memanjat pohon. Descartes pernah berujar: “Aku selalu mempunyai keinginan kuat untuk mempelajari bagaimana membedakan yang benar dari yang salah, supaya terlihat jelas bagaimana seharusnya aku bertindak dan bisa berkelana dengan kayakinan melalui hidup ini.” Apakah bangsa ini, kita semua, sudah mau belajar agar mampu membedakan yang benar dan yang salah.
Saya yakin manusia pada dasarnya baik dan selalu bergerak menuju kebaikan. Saya setuju dengan Komarudin Hidayat dalam buku Politik Panjat Pinang: di Mana Peran Agama? yang terbit setahun lalu bahwa dalam kesadaran batinnya yang paling dalam, setiap manusia memiliki dorongan untuk mencari makna. Dalam hal ini kejahatan dan kemerosotan moral manusia adalah kesementaraan sebagai dialektika menuju perbaikan dan kemajuan. Jadi kita mesti bersabar, optimis, dan secara kritis melakukan perbaikan terus menerus.

Optimisme ini bukan tanpa alasan. Kita bisa melihat berbagai perubahan yang secara pelan tapi pasti mulai berjalan. Ruang-ruang optimisme itu juga muncul ketika melihat banyak anak muda yang sungguh-sungguh bekerja untuk perubahan bangsa ini. Layaknya tokoh Pablo mereka bekerja untuk masyarakat luas. Generasi muda itu tumpuan bangsa saat ini.

Negara yang dalam kondisi krisis, rakyatnya dalam situasi kebingungan, gamang, dan kehilangan spirit. Maka harus ada orang-orang yang menjadi inspirasi banyak orang untuk terus melakukan perbaikan. Mereka tidak bergerak untuk diri mereka sendiri, namun untuk kepentingan yang lebih luas. Kita butuh banyak orang seperti itu, tidak cukup satu. Kita butuh orang-orang itu di kepolisian, di kejaksaan, di depertemen, di legislatif dan di berbagi tempat lain. Mereka yang bisa mendobrak segala kebekuan, segala stagnasi. Mereka mesti orang yang berani, namun penuh perhitungan.

Melalui mereka optimisme kita dibangkitkan. Krisis memang berat, namun seberat apapun krisis bila ada orang yang mampu membangkitkan optimisme bahwa suatu saat masih ada cahaya terang, maka krisis bukanlah sesuatu yang mustahil dilalui. Mereka mampu membalikkan pesimisme yang sudah akut menjadi harapan cerah. Energi bangsa dipompa untuk memandang ke depan dan punya impian. Jika Amerika punya American Dream, Indonesia layak punya Indonesian Dream. Dengan itu kita akan bangkit!

Wednesday, May 23, 2007

Melihat Lebih Dekat Persoalan Cerucuk

Oleh Heriyanto

Pagi, Jumat 20 April 2007 sebuah mobil kijang putih melaju menuju Sungai Ambawang. Waktu masih menunjukkan pukul 8.30, namun matahari sudah cukup terik. Jalan berdebu. Sebagian ruas jalan yang ditempuh sudah diaspal namun terputus-putus. Ruas jalan yang berupa tanah merah bercampur batu lebih panjang ketimbang yang sudah diaspal. Sesekali mobil berguncang. Mobil mesti berjalan pelan saat melalui lubang-lubang yang cukup banyak di jalan.

Mobil itu mengangkut 7 orang peserta pelatihan pengkampanye hasil hutan: Sulhani (Kail), Arif Kristanto (Taman Nasional Betung Karihun), Julinda (Balai Pemantapan Kawasan Hutan III), Musa (Institut Dayakologi), Didin (TN Bukit Baka Bukit Raya) dan Icuk Setiawan (BKSDA Kalbar). Saya dari Mimbar Untan termasuk salah satu di dalamnya. Kegiatan ini didanai Forest Law Enforcement-Governance And Trade.

Sesuai rencana pada malam harinya, kami memang berencana melihat secara langsung proses pengambilan kayu cerucuk. Ini usulan Sulhani yang aktif di Konsorsium Anti Illegal Logging (KAIL). Dia meyakinkan kelompok, bahwa kegiatan penebangan kayu cerucuk cukup marak di Kecamatan Sungai Ambawang, Kabupaten Pontianak. Kecamatan ini masih cukup banyak luasan hutan yang menyediakan pasokan cerucuk.

Setelah sekitar setengah jam perjalanan terlihat beberapa truk besar melintas. Ada 8 buah truk yang lewat, 5 buah di antaranya membawa muatan penuh cerucuk. Mobil kijang yang membawa kami melewati beberapa desa yaitu Kuala Ambawang, Jawa Tengah, Korek, Lingga, dan Pancaroba. Sepanjang perjalanan kami menyaksikan tumpukan-tumpukan cerucuk di pinggir jalan Trans Kalimantan. Akhirnya kami sampai di Desa Teluk Bakung, desa paling ujung Sungai Ambawang. Saat itu pukul 11.00.

Di satu lokasi yang tidak jauh dari jalan, terlihat aktivitas pekerja yang sedang memuat kayu-kayu berukuran kecil ke dalam truk. Ada beragam ukuran kayu di sana. Namun rata-rata memang berdiameter kecil. Panjang kayu juga beragam. Yang cukup banyak adalah kayu-kayu dengan diameter di atas 10 cm dan panjang minimum 2 meter. Kayu itulah yang biasa disebut cerucuk.

Kayu cerucuk berguna untuk proyek pembangunan rumah, gedung, atau jalan. Biasanya kayu ini dipakai untuk menguatkan pondasi bangunan. Cerucuk juga dipakai untuk menopang sementara konstruksi bangunan. Jenis-jenis cerucuk dari hutan Kabupaten Pontianak antaralain: Bintangor, Gelam, Medang, dan Ubah.

Ada sekitar 30 pekerja di sana. Rata-rata sekitar 20-30 tahun. Seorang mandor bernama Pandi Effendi atau biasa dipanggil Atat bersedia saya wawancarai. Umurnya 45 tahun. Dia sudah puluhan tahun bekerja jadi mandor. Atat cerita bagaimana kayu-kayu itu diambil dari hutan, mulai proses penebangan hingga pengangkutan ke truk.
”Kami beli kayu cerucuk ini dari masyarakat sekitar hutan. Sehari ada ratusan batang. Satu batang belinya 1000 rupiah. Sudah diambil, diangkut keluar,” kata Atat pelan.

Para pekerja dibagi dalam tiga kelompok. Pertama yang menebang di hutan, kemudian ada yang mengangkut, dan terakhir yang memuatnya ke truk. Sistemnya borongan. Setelah ditebang, kemudian dibersihkan, dan diangkut dengan menggunakan gerobak. Mereka punya tiga gerobak. Menurut Atat, kayu yang diambil adalah milik rakyat. Jarak antara tempat penebangan dengan tempat pengumpul sekitar 3-4 kilometer. Ada jalan-jalan kecil yang menghubungkan tempat itu. Cerucuk yang diambil ada yang panjang 4 meter, 6 meter, 8 meter, dan 12 meter. Atat menjual kayu cerucuk itu pada pengumpul di daerah Kuala Sungai Ambawang.

”Saat ini, memang permintaan cerucuk cukup banyak. Untuk satu proyek bangunan itu butuh ribuan cerucuk. Di sungai ambawang ada beberapa tempat yang mengusahakan kayu cerucuk ini,” katanya. Menurut hitungannya, di desa Bakung saja ada empat tempat tempat usaha sejenis.

Atat mengurus perijinan di kecamatan dan kepala desa. ”Saya pernah coba mengurus ijin kehutanan, namun untuk kerja cerucuk belum ada Perda-nya Pak,” kata Atat menceritakan soal belum adanya regulasi soal penebangan cerucuk ini. Sayangnya setelah menebang, masyarakat di sana tidak menanam kembali yang sudah ditebang.

Setelah merasa cukup mengambil gambar dan memperoleh sumber wawancara, saya dan tim memutuskan kembali ke Pontianak. Matahari semakin terik. Jam menunjukkan waktu 11.30. Tujuan selanjutnya Dinas Kehutanan Provinsi Kalbar.

Di Dishut, kami menemui Kabid Produksi Dishut Bambang Prihanung. Dia membenarkan belum ada regulasi yang mengatur pengambilan kayu cerucuk. ”Cerucuk masih berupa anakan pohon. Jika anakan ini terus ditebang secara berlebihan akan berakibat dalam beberapa tahun ke depan terputusnya regenerasi,” kata Bambang saat ditemui di ruang kerjanya. Padahal sampai saat ini penebangan cerucuk masih tentu saja belum jelas aturannya.

Penebangan kayu cerucuk ada di beberapa tempat, di kawasan hutan dan di luar kawasan. Yang bermasalah, menurut Bambang adalah bila pengeksploitasian kayu itu berada di wilayah hutan.

Memandang pentingnya adanya regulasi terhadap penebangan cerucuk ini, maka Dinas Kehutanan Provinsi Kalbar saat ini sedang melakukan berbagai kajian agar segera mungkin bisa dhasilkan satu rumusan yang jelas sehingga ada peraturan yang bisa diterapkan dengan baik.

Teriakan Pilu

Oleh Heri Limbung

Besi meraung di atas udara
panas
Di tanah gersang
Rentetan suara memekkan telinga

Pasir
Jembatan
Rumah
Dan tempat ibadah

Seorang anak kecil berteriak: Ibu!
Di tangannya ada luka
Kening, hidung dan mulutnya ada darah
Dan di matanya tersimpan duka

Dua jengkal dari sisi kanannya
seorang ibu terbaring
Tak ada lagi napas,
Tak air susu dan panggilan anakku-anakku

Di tempat berbeda
Sekelompok orang berseragam, tertawa
Tadi aku telah menyalakan api, katanya
Ke sebuah rumah, dengan satu kali hitungan
Dan pencetan tombol di angkasa

Menimbang Ulang Reformasi

Oleh Heriyanto

Reformasi pada dasarnya adalah suatu pengharapan. Dan setiap orang Indonesia punya pengharapannya masing-masing terhadap reformasi. Tahun 1998, saat harga kebutuhan pokok melambung tinggi; saat korupsi merajalela; atau saat negara dalam kondisi goyah dan tatanan kehidupan negara karut-marut, yang tersisa adalah harapan agar persoalan itu membaik. Di bawah Soeharto yang otoriter, kebebasan dan demokrasi adalah hal langka. Saat itu kita juga rindu kebebasan dan demokratisasi. Saat itu kita berharap ada regenerasi kepemimpinan nasional.

Dan benar saja. Ketika Soeharto dengan suara pelan membacakan surat pengunduran dirinya sebagai presiden pada pagi 21 Mei 1998, sorak-sorai mahasiswa membahana di gedung DPR. Sujud syukur, teriakan haru, dan tangisan mahasiswa pecah saat itu. Soeharto tumbang dan digantikan Bj Habibie! Ada ribuan harapan saat itu. Tak sia-sia pengorbanan nyawa demonstran, begitu pikir mahasiswa. Sejak itu kata reformasi menjadi tuah; dia disebut di mana-mana.

Kaum muda menuntut perbaikan atas apa yang sudah dikerjakan kaum tua. Di mana-mana kaum muda memang jadi pendobrak, karena kaum tua terlalu lamban untuk itu. Mendobrak berarti mendorong dengan kuat. Namun mahasiswa tidak selamanya turun ke jalan. Mereka harus belajar. Mereka harus kembali ke kampus. Dan pemerintahan tetap diisi generasi tua.

Namun mahasiswa lupa, yang berganti hanya presidennya, sementara sistem yang korup selama 32 tahun sudah terlanjur mengakar kuat. Apa yang terjadi dan apa yang dilakukan tak jauh bedanya pada masa orde baru. Walhasil, kita seperti yang diibaratkan Komaruddin Hidayat: memanjat pohon yang salah. Ibarat memanjat pohon yang tinggi, bangsa Indonesia telah mengeluarkan ongkos yang teramat mahal, baik tenaga, kekayaan alam, utang luar negeri, maupun modal sosial untuk sampai ke puncak. Tetapi sungguh ironis, sesampai di puncak pohon ternyata buah yang didambakan tidak ada.

Kini sudah sembilan tahun reformasi. Bagai bayi yang merangkak, reformasi berjalan dengan pelan. Sembilan tahun adalah masa-masa pembuktian. Sudahkah reformasi terwujud? Tapi kita tidak bisa buru-buru bilang reformasi gagal atau sebaliknya berhasil. Reformasi bukanlah hanya kata-kata yang diteriakkan demonstran. Reformasi juga tidak bermakna hanya sekadar tumbangnya pemerintahan otoriter. Ia bukanlah makna final, namun reformasi adalah sebuah proses. Dan proses itu terus berjalan hingga sekarang. Karena sesuai katanya, reform, maka dia akan senantiasa berubah. Ada proses berarti ada kerja. Dan di dalam kerja itu banyak orang yang terlibat. Karena reformasi adalah sebuah proses, maka dia bukan tujuan. Kesejahteraan rakyat adalah tujuannya. Reformasi apanya bila rakyat masih menderita?

Makanya kita tak bisa melihat hitam-putih apakah reformasi berhasil ataukah gagal. Tapi kita bisa menjawabnya atas dasar pengharapan yang kita miliki atas reformasi. Namun pengharapan sering tak mewujud menjadi sebuah capaian. Banyak orang yang berharap dalam gelap dan saat terang tak ia dapati seperti harapannya. Ada harapan, ada kenyataan, namun tak selamanya yang kita harapkan sesuai kenyataan. Itulah bila das sollen jauh dari das sein-nya.

Bang Mashuri, si PKL mungkin bisa bilang reformasi gagal, karena pengharapannya terhadap reformasi tak terwujud. Dia yang pernah hidup di jaman orde baru mungkin membandingkan kehidupannya saat dulu dengan sekarang. Ternyata saat ini harga kebutuhan pokok lebih mahal, pun demikian ia sulit cari kerjaan, dan dikejar-kejar polisi pamong praja. Reformasi memberinya kenyataan: hidup tambah susah. Padahal pengharapannya sederhana dia ingin tenang cari nafkah.

Bagi Nurdin si mahasiswa reformasi nyata-nyata telah gagal. Dia melihat dengan hatinya bahwa rasa keadilan telah diperdagangkan, koruptor masih enak-enak hidup nyaman dalam villa mewah, hukum jadi bahan mainan, dan rakyat semakin banyak miskin. Di situ dia melihat tak ada reformasi. Yang ada cuma pergantian pimpinan nasional, sementara orang-orang dalam struktur pemerintahan masih tetap orang-orang lama, yang ketika jaman Soeharto ikut menjadi bedinde menikmati lezatnya kekuasaan. Reformasi menyisakan orang-orang yang hipokrit.

Dia juga melihat partai yang dulu turut andil dalam mengacaukan negara ini ternyata menang pemilu dan berubah bentuk jadi partai dengan muka baru. Reformasi mengecewakannya. Dan betul. Orang akan kecewa bila harapannya pupus begitu saja. Dan dia pun kembali membawa megaphone dan membakar ban di jalan. Dia berteriak. Dia sambangi gedung DPR untuk minta pertanggungjawaban atas amanah yang diberikan rakyat. Namun orang-orang di gedung itu mungkin menutupi telinga. Mereka tak sadar mewakili siapa.

Namun di sini kontrakdisi itu ada. Bagi si korup barangkali reformasi berhasil. Reformasi telah berhasil membuat ia leluasa untuk korupsi. Dengan begitu reformasi malah begitu mudah diobral dan jadi bahan omongan. Para pejabat korup paling pandai untuk mengaku dan bicara atas nama reformasi. Seolah-olah mereka adalah para penyokong reformasi. Di mulut korup itu reformasi jadi bahan renyah untuk pidato. Mereka kaum hipokrit yang menghancurkan makna reformasi. Mereka senantiasa akan mencari hal yang lebih enak. Orang-orang yang korup dengan lantang bicara soal reformasi sambil dengan enak menginjak-nginjak reformasi itu sendiri.

Setiap pergantian presiden selalu saja ada harapan baru. Pasca mundurnya Soeharto sudah ada empat presiden: Bj Habibie, Gusdur, Megawati dan SBY. Meskipun demikian selalu saja ada yang dikecewakan. Mereka semua kaum tua yang lamban, generasi tua yang gagap. Mereka lebih suka kompromistis. Mereka tak berani menangkap para koruptor. Mereka juga tak berani mengadili Soeharto dan kroni-kroninya. Mereka memang perlu disentil-sentil supaya ingat!

Terkadang kita tak tahu sampai batas mana harus berhenti. Sampai batas mana harus berbuat. Sampai batas mana yang benar dan yang salah. Sampai akhirnya ada kenyataan yang membuat kita bergumam, ”kok sampai begitu?” Begitu pula di negeri ini. Kita melangkah dan kemudian tak tahu sampai batas mana bahwa yang kita lakukan itu mencapai keberhasilan. Sampai akhirnya kita sadar bahwa kita berada dalam sebuah lingkaran yang berputar-putar. Dan harapan-harapan itu selalu dikecewakan.

Reformasi menjadi kontradiksi ketika tak ada yang berubah kecuali korupsi yang semakin merajela, rakyat yang semakin miskin, atau negara yang semakin tergadai. Masihkah ada harapan ke depan?

Hurke Hedges dalam The Parable Of Pipeline

Hurke Hedges dalam The Parable Of Pipeline membuat ilustrasi menarik. Tahun 1801 di sebuah lembah di Italia, ada dua orang saudara sepupu yang sangat ambisius: Pablo dan Bruno. Mereka memiliki cita-cita yang tinggi. Kedunya bekerja mengangkut air dari sumber air ke penampungan di tengah desa. Namun, jarak yang jauh dan kondisi jalan yang kurang memungkinkan adalah rintangan terbesarnya.
Pablo memberikan usul,” Bagaimana bila kita membangun saluran air?” Usulan pablo dianggap angin lalu oleh Bruno. Pablo kemudian mengerjakan sendirian rencana itu, sementara Bruno tetap usahanya sejak awal. Orang-orang di desa mengejek apa yang dikerjakan Pablo dan menyebutnya Si Manusia Pipa. Namun dia terus mengerjakannya: menyambung-nyambung batang-batang bambu. Sendirian. Dua tahun berlalu, saluran pipanya akhirnya rampung. Orang-orang desa berkumpul saat air mulai mengalir dari saluran pipa menuju ke penampungan air. Desa itu sudah bisa mendapatkan pasokan air bersih secara tetap. Semua bergembira, hanya Bruno yang tampak murung dengan tubuh bungkuk karena setiap hari mengangkut air.
Pablo berkata pada Bruno, “Dua tahun lamanya saya bekerja untuk menyelesaikan pembangunan pipa itu. Selama itu saya belajar banyak hal. Dan saya sudah mengerti bagaimana membangun saluran pipa dengan lebih mudah. Sebetulnya saya bisa mengerjakannya sendirian, tetapi rasanya untuk apa saya menghabiskan waktu satu tahun hanya untuk membangun satu saluran pipa. Rencana saya adalah mengajari kamu dan warga desa lainnya, sehingga bisa membangun sendiri saluran pipa untuk mereka. Semua tempat akan bisa teraliri air.”

Tuesday, May 22, 2007

Dampak Negatif Televisi bagi Pendidikan Anak

Oleh Heriyanto

Ada hal yang sangat menggelisahkan saat menyaksikan tayangan-tayangan televisi belakangan ini. Kecuali Metro TV, hampir semua stasiun-stasiun televisi, banyak menayangkan program acara (terutama sinetron) yang cenderung mengarah pada tayangan berbau kekerasan (sadisme), pornografi, mistik, dan kemewahan (hedonisme). Tayangan-tayangan tersebut terus berlomba demi rating tanpa memperhatikan dampak bagi pemirsanya. Kegelisahan itu semakin bertambah karena tayangan-tayangan tersebut dengan mudah bisa dikonsumsi oleh anak-anak.

Yayasan Kesejahteraan Anak Indonesia, misalnya, mencatat, rata-rata anak usia Sekolah Dasar menonton televisi antara 30 hingga 35 jam setiap minggu. Artinya pada hari-hari biasa mereka menonton tayangan televisi lebih dari 4 hingga 5 jam sehari. Sementara di hari Minggu bisa 7 sampai 8 jam. Jika rata-rata 4 jam sehari, berarti setahun sekitar 1.400 jam, atau 18.000 jam sampai seorang anak lulus SLTA. Padahal waktu yang dilewatkan anak-anak mulai dari TK sampai SLTA hanya 13.000 jam. Ini berarti anak-anak meluangkan lebih banyak waktu untuk menonton televisi daripada untuk kegiatan apa pun, kecuali tidur (Pikiran Rakyat, 29 April 2004).

Lebih mengkhawatirkan, kebanyakan orang tua tidak sadar akan kebebasan media yang kurang baik atas anak-anak. Anak-anak tidak diawasi dengan baik saat menonton televisi. Dengan kondisi ini sangat dikawatirkan bagaimana dampaknya bagi perkembangan anak-anak. Kita memang tidak bisa gegabah menyamaratakan semua program televisi berdampak buruk bagi anak. Ada juga program televisi yang punya sisi baik, misalnya program Acara Pendidikan. Banyak informasi yang bisa diserap dari televisi, yang tidak didapat dari tempat lain. Namun di sisi lain banyak juga tayangan televisi yang bisa berdampak buruk bagi anak. Sudah banyak survei-survei yang dilakukan untuk mengetahui sejauh mana dampak tayangan televisi di kalangan anak-anak. Sebuah survei yang pernah dilakukan harian Los Angeles Times membuktikan, 4 dari 5 orang Amerika menganggap kekerasan di televisi mirip dengan dunia nyata. Oleh sebab itu sangat berbahaya kalau anak-anak sering menonton tayangan TV yang mengandung unsur kekerasan. Kekerasan di TV membuat anak menganggap kekerasan adalah jalan untuk menyelesaikan masalah (Era Muslim, 27/07/2004).

Sementara itu sebuah penelitian di Texas, Amerika Serikat, yang dilakukan selama lebih dari tiga tahun terhadap 200 anak usia 2-7 tahun menemukan bahwa anak-anak yang banyak menonton program hiburan dan kartun terbukti memperoleh nilai yang lebih rendah dibanding anak yang sedikit saja menghabiskan waktunya untuk menonton tayangan yang sama (KCM, 11/08/2005). Dua survei itu sebenarnya bisa jadi pelajaran.

Namun di Indonesia suguhan tayangan kekerasan dan kriminal seperti Patroli, Buser, TKP dan sebagainya, tetap saja dengan mudah bisa ditonton oleh anak-anak. Demikian pula tayangan yang berbau pornografi dan pornoaksi. Persoalan gaya hidup dan kemewahan juga patut dikritisi. Banyak sinetron yang menampilkan kehidupan yang serba glamour. Tanpa bekerja orang bisa hidup mewah. Anak-anak sekolahan dengan dandanan yang "aneh-aneh" tidak mencerminkan sebagai seorang pelajar justru dipajang sebagai pemikat. Sikap terhadap guru, orangtua, maupun sesama teman juga sangat tidak mendidik.

Dikawatirkan anak-anak sekolahan meniru gaya, sikap, serta apa yang mereka lihat di sinetron-sinetron yang berlimpah kemewahan itu. Peranan Orangtua Memang televisi bisa berdampak kurang baik bagi anak, namun melarang anak sama sekali untuk menonton televisi juga kurang baik. Yang lebih bijaksana adalah mengontrol tayangan televisi bagi anak-anak. Setidaknya memberikan pemahaman kepada anak mana yang bisa mereka tonton dan mana yang tidak boleh. Orang tua perlu mendampingi anak-anaknya saat menonton televisi. Memberikan berbagai pemahaman kepada anak-anak tentang suatu tayangan yang sedang disaksikan. Selain sarana membangun komunikasi dengan anak, hal ini bisa mengurangi dampak negatif televisi bagi anak. Kebiasaan mengonsumsi televisi secara sehat ini mesti dimulai sejak anak di usia dini.

Perlu dipahami bahwa tempat pendidikan paling utama adalah di keluarga, dimana orangtua adalah yang paling bertanggungjawab di dalamnya. Kenapa mesti orangtua? Karena orangtua yang bisa mengawasi anaknya lebih lama. Orangtua paling dekat anaknya. Dalam keluargalah anak bertumbuh kembang. Membiarkan anak menonton televisi secara berlebihan berarti membiarkan tumbuh kembang dan pendidikan anak terganggu. Kewajiban orangtua juga untuk memantau kegiatan belajar anak di rumah. Perkembangan si anak tidak bisa terlalu dibebankan pada sekolah.

Dalam kesehariaannya, guru di sekolah tidak akan bisa mengantikan peran orangtua. Karena itu menjadi suatu keharusan bagi orangtua untuk tetap memperhatikan si anak selama di rumah. J Drost SJ (2000), seorang ahli pendidikan dari IKIP Sanata Dharma pernah menulis dalam buku Reformasi Pengajaran: Salah Asuhan Orantua?: "Penanaman nilai-nilai dalam pembentukan watak merupakan proses informal. Tidak ada pendidikan formal. Jadi seluruh pembentukan moral manusia muda hanya lewat interaksi informal antara dia dan lingkungan hidup manusia muda itu. Maka pendidik utama adalah orangtua."

Dimuat di Pontianak Post, Minggu, 4 Desember 2005

Impor Beras, Kebijakan Tanpa Kebajikan

Oleh Heriyanto

BUKAN kebijakan namanya jika dikeluarkan secara tidak bijak. Tetapi kelucuan ini bukan hal lucu di Indonesia. Benar-benar terjadi. Satu kebijakan salah, maka kemudian ditutupi dengan kebijakan lainnya. Satu kebohongan di keluarkan, maka besok akan ada kebohongan lainnya yang akan dibuat untuk menutupinya. Tidak percaya? Satu contoh yang paling mudah yaitu impor beras. Dilihat dari sisi manapun itu sangat tidak bijak? Sekarang saya tanya, "Apa alasan utama impor beras?" Pasti kita berpikir karena kekurangan beras. Dan bila kebutuhan itu tidak terpenuhi bisa bikin busung lapar. Tapi, ternyata tidak. Indonesia tidak kekurangan beras. Stok beras dalam negri sangat mencukupi. Bahkan Menteri Pertanian Anton Apriantono (mungkin) jika diajak sumpah potong tangan atau sumpah pocong tidak akan berani membantahnya.

Baca saja pernyataannya di beberapa media. Kata Mentan, "Akan kami tentang sampai kapan pun bila alasannya stok beras tidak cukup, kecuali alasan impor beras adalah untuk meredam inflasi." (KCM, 22/11/2005). Sementara itu produksi nasional, diakuinya, masih cukup untuk beberapa bulan mendatang. Berbeda dengan Mentan, Wakil Presiden Yusuf Kalla justru ngotot bahwa impor beras mutlak diperlukan. Menurutnya, alasan pemerintah mengimpor beras untuk menghindari munculnya risiko kekurangan pangan.

"Pemerintah tidak mau ambil risiko jika terjadi kekurangan (beras) untuk seluruh rakyat. Jika kekurangan tekstil atau bahan bakar minyak, efeknya tidak terlalu besar. Paling orang antre sedikit. Tapi jika gangguannya menyangkut kebutuhan pokok seperti beras, maka itu bahaya. Bisa saja terjadi badai hujan sehingga mengganggu panen di lapangan sehingga mengganggu stok beras yang dimiliki Perum Bulog saat ini." (Tempo Interaktif, 22/11/2005).

Dua argumen berbeda diungkapkan dua pejabat negara. Lantas mana yang benar. Dalam ilmu logika jika dua orang berkata tentang satu hal, tetapi pernyataan yang satu berbeda dari pernyataan kedua, bisa jadi ada beberapa kemungkinan. Pertama, pernyataan yang satu benar dan yang lainnya salah. Kedua, kedua-duanya salah. Namun, tidak mungkin kedua-duanya benar. Jika demikian, siapa yang berdusta.

Pak Menteri atau Pak Wapres. Atau kedua-keduanya yang berdusta? Waduh repot. Saya kira persoalan inflasi seperti yang dikemukakan oleh Mentan bisa jadi alasan kuat impor beras. Sungguh mengejutkan, menurut BPS, inflasi tahunan mencapai 17,89 persen. Bagi orang awam, angka ini bukanlah apa-apa. Kecuali kenyataan semakin mahalnya barang kebutuhan hidup. Tapi bagi pemerintah, angka ini tentu sangat berarti. Dengan inflasi yang begitu tinggi ini kemampuan pemerintah dalam mengelola negara patut dipertanyakan.

Kembali kebelakang, ketika pemerintah menaikkan harga BBM pada 1 0ktober lalu, semua orang tahu bahwa alasan utama yang sering dilontarkan pemerintah adalah persoalan defisit anggaran. Bahwa kita akan bangkrut bila BBM tidak segera dinaikkan. Maka minyak dijual lebih mahal dengan tujuan bisa menambal defisit anggaran. Namun, pemerintah (barangkali) sama sekali tidak menduga bahwa angka inflasi itu akan begitu tinggi. Jauh di atas perhitungan para ekonom yang turut membidani keputusan kenaikan BBM. Kini, sudah jelas, berbagai alasan kenaikan BBM terbantahkan.

Pertama, masalah defisit anggaran. Bagaimana mungkin bila defisit tapi ternyata pengeluaran untuk impor beras, kenaikan DPR, dana BLT juga sangat besar. Demikian pula untuk nilai sebuah kesabaran rakyat. Kedua, harga minyak internasional sangat fluktuatif. Bila kemarin sempat mencapai 70 dollar per barrel, bisa jadi besok turun menjadi 50 dollar per barrel. Pemerintah berpendapat, BBM suatu waktu memang bisa diturunkan sesuai harga internasional itu.

Namun ketika harga minyak sudah dinaikkan, harga barang yang juga melonjak naik akan sulit untuk diturunkan. Kini inflasi sudah begitu tinggi. Namun cara pemerintah mengatasinya ingin mudahnya saja: mengimpor beras. Memang cara mudah, karena tinggal menggunakan devisa yang kita punya untuk membayarnya. Toh mereka yang masuk lingkaran proyek pengadaan beras itu akan mendapat keuntungan sekian persen dari jumlah keseluruhan proyek. Saya lebih condong berpikir, kebijakan itu lebih bersifat politis. Jika tidak dilakukan akan menurunkan kredibilitas pemerintah. Hanya saja ini tentu akan "memukul" para petani, karena dengan masuknya beras impor ini bisa dipastikan harga beras produksi petani akan menjadi rendah. Hilang harapan para petani untuk bisa merasakan sedikit keuntungan hasil panennya.

Kebijakan tanpa Kebajikan Kebijakan kenaikan BBM yang tak diperhitungkan berbagai dampak (buruk) nya itu, harus ditambal dengan kebijakan lainnya yang sama-sama buruk. Ini hanyalah salah satu dari sekian banyak kebijakan pemerintah tanpa memperhatikan kebajikannya. Banyak kebijakan pemerintah yang semestinya bijak, namun pada kenyataannya bukan hal bijak. Kepentingan politik untuk tetap melanggengkan kekuasaan Mereka, yang justru menambah penderitaan rakyat.

Katakanlah, rakyat bisa menjadi korban dari kebijakan pemerintah. Cara menangani persoalan di negeri bisa disamakan dengan cara para penjajah. Terus memeras untuk mendapatkan keuntungan diri sendiri. Hanya bedanya dulu penjajahnya orang asing, sementara sekarang adalah bangsa kita sendiri. Apa pertanggungjawaban kebijakan kenaikan harga BBM. Dengan angka statistik pemerintah mempropagandakan akan menurunkan angka kemiskinan. Tapi apa lacur? Angka inflasi naik, angka kemiskinan naik, gaji DPR naik, gaji presiden naik, gaji menteri naik, dan orang yang bunuh diri juga naik.

Dan petani mendapatkan "hadiah" impor beras yang semakin menyengsarakan. Kini kelompok masyarakat marginal semakin jauh dari akses untuk memperbaiki kondisi mereka. Potensi ekonomi dimatikan. Jika ada, program-program untuk rakyat miskin hanya sebatas untuk menekan "riak-riak" kecil di masyarakat. Tingkat penghisapan negara semakin besar. Sektor informal yang masih bisa dijangkau justru sering dihambat pemerintah sendiri. Orang jualan di pinggir jalan semakin banyak di gusur, pasar tradisional semakin sepi karena banyak orang yang beralih ke hypermart, supermart dan mall-mall. Rakyat kecil sendiri kebanyakan belum tersadarkan, bahwa mereka adalah korban atas kebijakan pemerintah. Belum menyadari bahwa banyak hak mereka tidak terpenuhi, padahal ketika berbicara kewajiban, rakyat seperti sapi perahan. Biarkan rakyat lapar asal negara tidak rugi. Biarkan rakyat berkerja keras asal para pejabat bisa hidup enak. Atau biarkan impor beras asal masih bisa menjabat sebagai wakil presiden dan dapat dana proyek. Ini perlu direnungkan agar dalam realitas kehidupan ini, kembali keadaanya semestinya. Jangan sampai setiap kebijakan pemerintah tanpa kebajikan sama.

Dimuat di Harian Pontianak Post, Selasa, 6 Desember 2005

Monday, May 21, 2007

Aksi Terorisme dan Kebencian Terhadap AS

Oleh Heriyanto



SORE itu, masih di bulan Nopember, salah satu televisi swasta menayangkan rekaman video yang cukup mencengangkan berisi pernyataan pelaku Bom Bali II. Isinya antara lain alasan mengapa mereka melakukan aksi pengeboman, pesan kepada keluarga yang ditinggalkan, dan keyakinan perjuangan mereka itu sebagai aksi jihad yang akan membuahkan surga. Di akhir tayangan itu, seorang pria bertopeng berlogat Melayu (yang diyakini polisi) sebagai gembong teroris Noordin Mohamad Top mengatakan bahwa musuh mereka adalah Amerika Serikat, Australia, Inggris, dan Italia. Mereka juga mengancam akan terus melawan para penolong George W. Bush (Presiden AS) dan Tony Blair (Perdana Mentri Inggris).

Aksi bom bunuh diri atas nama jihad, jelas tidak bisa dibenarkan. Bukankah ajaran Islam melarang seseorang melakukan bunuh diri? Apalagi jika mengakibatkan orang lain yang tidak tahu menahu juga jadi korbannya. Ratusan jiwa terbunuh, kehilangan anggota tubuh, dan akibat secara psikologis seperti trauma juga menyertai para korban. Lebih lagi, korbannya tidak hanya berasal dari empat negara yang mereka musuhi itu, tetapi dari warga negara Indonesia juga ada. Akibat lainnya, stabilitas keamanan dan ekonomi menjadi turut terganggu. Sepintas, aksi bom bunuh diri itu memang tidak logis. Jika ingin menyerang Amerika, mengapa sasarannya kafe, tempat wisata, dan tempat-tempat lain yang jauh hubungannya dengan Amerika.

Namun terlepas dari berbagai argumen salah atau benar, logis atau tidak, ada satu isyarat yang ingin para pengebom itu sampaikan yaitu kebencian yang begitu besar terhadap Amerika Serikat dan negara-negara pendukungnya. Setidaknya hal ini tampak dari pernyataan mereka yang akan memusuhi para penolong Bush dan Blair. Bush adalah representasi dari Amerika Serikat, sementara Blair adalah representasi Inggris, negara yang selama ini begitu mendukung kebijakan-kebijakan AS. Sementara Australia dan Italia juga merupakan negara yang selama ini mendukung kebijakan-kebijakan AS.

Lantas yang jadi pertanyaan kemudian, mengapa mereka begitu membenci Amerika serikat dan negara yang mendukungnya itu? Berbagai asumsi serta argumen bisa disampaikan untuk menjawabnya. Tulisan ini adalah asumsi penulis.

Kita tentu ingat tragedi 11 September 2001 (11/9). Negara sekuat Amerika bobol pertahanannya oleh sebuah aksi bunuh diri. Lambang kemakmuran dan kejayaan ekonomi, serta keperkasaan Amerika, gedung World Trade Center (WTC) dan Pentagon luluh lantak oleh serangan kelompok radikal -hingga kini belum ada yang mengaku bertanggung jawab atas aksi itu-. Amerika mendefinisikan serangan itu sebagai aksi terorisme. Pasca tragedi itu, ketakutan terhadap terorisme telah membuat AS menjadi sangat sensitif. Kekhawatiran AS atas bangkitnya gerakan-gerakan radikal Islam menjelma menjadi semacam fobia terhadap negara-negara Islam. Kecurigaan-kecurigaan tanpa dasar pun berseliweran. Negara-negara yang bersebarangan dengan Amerika akan dianggap negara teroris. Iran dan Iraq, misalnya, digolongkan menjadi anggota negara "poros setan". Atas nama memerangi terorisme, AS bisa saja menyerang negara lain. Misalnya saja penyerangan AS ke Afganistan dengan alasan mencari Usamah Bin Laden. Pemimpin Al Qaeda itu tidak tertangkap, namun Afganistan terlanjur menjadi daerah berdarah. Begitu banyak korban jiwa, harta benda hancur, dan korban secara psikologis tak terhitung. Padahal mereka tidak tahu menahu tentang tragedi 11/9.

Setelah menyerang Afghanistan, AS menyerang Iraq dengan alasan adanya laporan inteligen Amerika bahwa Irak memiliki senjata pemusnah massal. Tapi diketahui kemudian bahwa laporan itu salah, Irak tidak terbukti memiliki senjata pemusnah massal. Korban berjatuhan, sementara AS dengan enaknya mengalihkan isu senjata pemusnah massal ke kediktatoran Saddam Husein sebagai pembenaran untuk tetap melanjutkan serangannya.

Selama ini, diakui atau tidak, kebijakan Amerika terhadap Timur Tengah tentu juga dipengaruhi kepentingan nasional jangka pendek, khususnya penguasaan sumber minyak. Bisa dibayangkan negara sebesar AS tanpa memiliki sumber cadangan energi. Padahal negara itu bukanlah penghasil minyak. Satu-satunya cara adalah menguasai sumber-sumber minyak dari negara penghasil minyak, baik secara halus maupun kasar.

Sementara itu dominansi ekonomi AS yang begitu besar terhadap negara-negara lain, termasuk Indonesia, sehingga negara lain seperti tak berkutik di depan Amerika. Lingkaran utang serta ketergantungan negara lain sulit untuk diputus. IMF, Bank Dunia, serta lembaga-lembaga internasional bentukan Amerika telah memasung banyak negara dalam kubangan utang sehingga menjadi negara yang terjajah secara ekonomi.

Hal inilah yang membuat sentimen anti Amerika justru semakin membesar. Kebencian terhadap Amerika tidak hanya dalam aksi bom bunuh diri. Aksi demo juga gencar di beberapa negara. Beberapa waktu yang lalu di Argentina, misalnya, ribuan orang melakukan demo anti Amerika pada saat Bush ke negara tersebut. Demikian pula saat KTT APEC berlangsung di Busan Korea November ini, ribuan orang turun ke jalan meneriakan yel-yel anti Amerika. Bagi kelompok-kelompok radikal mereka melawan AS dengan cara mereka sendiri. Mereka tahu, melawan ekonomi tentu tidak mampu, sementara melawan secara langsung akan berhadapan dengan kekuatan militer AS yang begitu kuat.

Bom bunuh diri bisa jadi adalah bentuk keputusasaan dari berbagai cara yang sudah sangat sulit untuk dilakukan. Dan itu dinilai menjadi cara yang cukup efektif dalam menyampaikan pesan, protes, dan perjuangan mereka. Saya kira, Amerika perlu melakukan instrospeksi atas segala kebijakan yang telah dibuat. Tidak perlu merasa menjadi "hero" yang mendefinisikan diri sebagai polisi dunia. Dan bagi para pengebom, aksi-aksi itu justru tidak akan mendapat dukungan dari masyarakat dunia dan membuat citra Islam menjadi kurang baik. Salah sasaran, ingin melawan Amerika tapi justru menyengsarakan penjaga kafe, wisatawan, atau orang-orang tak bersalah lainnya. **

tulisan ini pernah dimuat di harian Pontianak Post, 26 November 2005