Wednesday, March 14, 2007

Menyoal Moral Akademisi

Oleh: Heriyanto


Perguruan tinggi, saat ini, berada pada situasi yang cukup dilematis. Pada satu sisi, perguruan tinggi mestilah menjadi penjaga moral (moral oracle). Di sana tempat manusia-manusia yang bepikir secara mendalam untuk mencari akar-akar kebenaran dan membangun tatanan masyarakat yang baik. Namun di sisi lain perguruan tinggi dihadapkan pada situasi dunia yang sekarang sudah begitu berubah, di mana globalisasi dan liberalisasi ekonomi sudah begitu dahsyatnya. Perguruan tinggi pun kemudian mesti menyesuaikan dirinya dengan situasi tersebut jika tidak ingin tertinggal.

Ini analogi tentang aliran sungai. Jika kebetulan kita berada di sungai yang deras alirannya, tentu ada dua kemungkinan, akan ikut arus atau kita bertahan dan jika bisa melawan arusnya dengan sebuah konsekuensi butuh tenaga yang besar. Barangkali karena kuat arusnya sehingga lebih banyak yang terbawa arus itu.

Sama halnya dengan perguruan tinggi yang kini dihadapkan pada sebuah arus besar dunia yang lebih kuat terutama pada globalisasi dan pasar bebas. Kecenderungannya, perguruan tinggi lebih banyak ikut arus pada tren global. Katakanlah, lebih condong meniru capaian perguruan tinggi di negara maju dan kemudian mengadopsinya sambil mengabaikan persoalan konteks lokal. Sebut saja misalnya gagasan universitas Enterpreneur, Universitas Abad 21 dan sebagainya. Belakangan malah ada pemikiran untuk mengubah universitas menjadi multiversitas yang dianggap sebagai bentuk pendidikan tinggi pada masa pascamodernitas dan globalisasi. Mereka ingin memenangkan kompetisi di tengah globalisasi. Di Indonesia Beberapa perguruan tinggi --sebut saja misalnya UI dan UGM-- sudah berubah status menjadi Badan Hukum Milik Negara.

Perguruan tinggi dibuat seperti perusahaan, dengan hitung-hitungan keuntungan sebanyak-banyaknya. Perangkap ekonomi pun hadir, yaitu ketika pendidikan tinggi menjadi bagian dari sebuah sistem komersial dan ekonomi, yang menjadikannya sebagai sebuah komoditi untuk diperjualbelikan. Perguruan tinggi pun kemudian menjadi semacam lembaga yang sudah disetting untuk menghasilkan lulusan yang siap pakai sebagai sumber daya produksi, siap menjadi pekerja, atau menjadi sekrup-sekrup industri.

Sementara itu mahasiswa dibebankan biaya kuliah yang tinggi dan bagi mereka yang kurang mampu akan sulit untuk bisa kuliah di sana. Hal ini berimbas pada proses perkuliahan di kelas. Nilai-nilai moral pun tidak lagi menjadi hal utama yang diajarkan di kampus karena dianggap tidak ada relevansinya dengan dunia kerja.

Dengan kondisi ini, boleh-boleh saja bukan, jika kita mempertanyakan apakah perguruan tinggi masih mampu menjaga perannya sebagai penjaga moral? Atau jangan-jangan justru telah kehilangan peran pokoknya itu? Tak jarang ada kritik dari berbagai pihak pada institusi perguruan tinggi, namun sebagian besar para akademisi di dalamnya tampaknya tidak mempersoalkan hal ini.

Hal lain yang membuat peran sebagai penjaga moral semakin menghilang adalah bertautnya relasi pendidikan tinggi dengan relasi kekuasaan. Terjadi simbiosis yang saling menguntungkan antara akademisi dan penguasa. Dalam kekuasaan politik, tak jarang para pemegang kekuasaan dan partai politik melibatkan juga kaum akademisi dari perguruan tinggi untuk masuk dan menempati jabatan stuktural di dalamnya. Tidak sedikit bukan, elit penguasa adalah akademisi kampus? Banyak pula di antara akademisi yang mencoba meraih peruntungan dalam dunia politik. Mereka yang sering “berganti baju”, kadang ikut berpolitik, dan ketika kalah, mereka mengenakan kembali baju akademisinya.

Adalah hal yang tidak bisa disangkal bahwa perguruan tinggi mempunyai satu kekuatan yang begitu besar, baik soal daya manusianya, kemampuan posisi tawar, kemampuan analisisnya dan lain sebagainya. Sementara kekuasaan menjanjikan kemakmuran, kemewahan dan uang. Hal inilah yang kemudian banyak dimanfaatkan oknum-oknum yang punya kepentingan terhadapnya.

Jika kemudian ini terus berlangsung, kaum intelektual hanya akan menjadi bagian dari kepentingan kekuasaan dan ekonomi sementara otonomi dirinya sebagai sebuah kekuatan yang punya peran dalam perubahan bangsa ke arah yang lebih baik hilang begitu saja. Kemampuan menganalisis persoalan pun lumpuh dan tumpul setelah bersentuhan dengan kekuasaan. Dan adalah lebih berbahaya ketika kaum intelektual tidak lagi berhasrat berbicara bagaimana mengembangkan pengetahuan, apalagi masalah rakyat jelata, melainkan hanya berbicara soal kekuasaan dan keuntungan ekonomi.

Akhir-akhir ini semakin banyak berita di koran, banyak kaum intelektual yang ternyata ketika masuk ke ranah kekuasaan dan kemudian bersentuhan dengan peluang-peluang empuk, akhirnya terbawa arus. Banyak juga para akademisi yang kemudian melakukan kecurangan, korupsi, dan sebagainya. Padahal dari mereka-merekalah seharusnya kita belajar soal moral dan moralitas.

Beberapa hari yang lalu di koran ini Mohd Rif’at, dosen saya di FKIP Untan, menulis bagaimana membangun masyarakat melalui perguruan tinggi. Terlepas dari beberapa bagian tulisan beliau yang sulit saya pahami, ada satu pesan yang bagi saya menarik untuk dibahas yaitu soal asas moral yang seharusnya memengaruhi sikap formal perguruan tinggi antaralain: kebijaksanaan, signifikansi, tidak mempunyai kepentingan yang dapat berbenturan, dan menyandarkan diri pada kekuatan menilai tanpa mempunyai ikatan primordial, baik secara sosial maupun politis dalam pengambilan keputusan. Menurutnya, sikap moral pimpinan perguruan tinggi semestinya konsisten dengan asas-asas moral ini.

Namun dunia ini mungkin sudah ditakdirkan dengan banyak masalah, demikian juga pada perguruan tinggi: Antara das sollen (apa yang seharusnya terjadi) dan das sein (kenyataan yang terjadi) tidak sambung. Ternyata dalam kenyataannya pada lingkungan pimpinan perguruan tinggi kebijaksanaan justru hilang; perguruan tinggi punya kepentingan dengan kekuasaan dan ekonomi; sementara kekuatan menilai lumpuh karena rasa primordialisme merasuk juga pada struktur perguruan tinggi. Lantas di manakah perguruan tinggi meletakkan asas moralnya? Moral pun kemudian hanya disimpan di laci-laci meja belajar. Siapa yang peduli? []

No comments: