Tuesday, March 13, 2007

Dampak Negatif Televisi bagi Pendidikan Anak

Oleh Heriyanto

Ada hal yang sangat menggelisahkan saat menyaksikan tayangan-tayangan televisi belakangan ini. Kecuali Metro TV, hampir semua stasiun-stasiun televisi, kini banyak menayangkan acara-acara (terutama sinetron) yang cenderung mengarah pada tayangan berbau kekerasan dan sadisme, pornografi, mistik (klenik), dan kemewahan (hedonisme). Tayangan-tayangan tersebut terus berlomba demi rating tanpa memperhatikan dampak bagi pemirsanya.
Nampaknya kegelisahan itu akan semakin bertambah karena tayangan seperti itu tidak hanya ditonton orang dewasa saja tapi juga anak-anak. Yayasan Kesejahteraan Anak Indonesia, misalnya, mencatat, saat ini rata-rata anak usia sekolah dasar menonton televisi antara 30 hingga 35 jam setiap minggu. Artinya pada hari-hari biasa mereka menonton tayangan televisi lebih dari empat hingga lima jam sehari. Sementara di hari Minggu bisa tujuh sampai delapan jam.
Jika rata-rata 4 jam sehari, berarti setahun sekitar 1.400 jam, atau 18.000 jam sampai seorang anak lulus SLTA. Padahal waktu yang dilewatkan anak-anak mulai dari TK sampai SLTA hanya 13.000 jam. Ini berarti anak-anak meluangkan lebih banyak waktu untuk menonton televisi daripada untuk kegiatan apa pun, kecuali tidur (Pikiran Rakyat, 29 April 2004).
Lebih mengkhawatirkan, kebanyakan orang tua tidak sadar akan kebebasan media yang kurang baik atas anak-anak. Anak-anak tidak diawasi dengan baik saat menonton televisi. Dengan kondisi ini menjadi sebuah pertanyaan, bagaimana dampak tayangan televisi yang tidak mendidik bagi perkembangan anak-anak kelak?
Kita memang tidak bisa menyamaratakan semua program televisi berdampak buruk bagi anak. Tentu ada sisi baiknya juga, misalnya penyerapan informasi yang tidak didapat di sekolah atau di rumah. Namun disisi lain banyak lho dampak buruk yang diakibatkan oleh tayangan televisi itu.
Sudah banyak survei-survei yang dilakukan untuk mengetahui sejauh mana tayangan televisi dan pola menontonnya di kalangan anak-anak. Sebuah survei yang pernah dilakukan harian Los Angeles Times membuktikan, 4 dari 5 orang Amerika menganggap kekerasan di televisi mirip dengan dunia nyata. Oleh sebab itu sangat berbahaya kalau anak-anak sering menonton tayangan TV yang mengandung unsur kekerasan. Kekerasan di TV membuat anak menganggap kekerasan adalah jalan untuk menyelesaikan masalah (Era Muslim, 27/07/2004).
Padahal di televisi kita, suguhan tayangan kekerasan dan kriminal dikemas sedemikian rupa dalam program acara seperti patroli, buser, TKP dan sebagainya, dengan mudah bisa di tonton oleh anak-anak.
Sementara itu sebuah penelitian di Texas, Amerika Serikat, yang dilakukan selama lebih dari tiga tahun terhadap 200 anak usia 2-7 tahun menemukan bahwa anak-anak yang banyak menonton program hiburan dan kartun terbukti memperoleh nilai yang lebih rendah dibanding anak yang sedikit saja menghabiskan waktunya untuk menonton tayangan yang sama (KCM, 11/08/2005).
Persoalan gaya hidup dan kemewahan juga patut dikritisi. Banyak sinetron yang menampilkan kehidupan yang serba mudah. Tanpa bekerja orang bisa hidup mewah. Anak-anak sekolahan dengan dandanan yang aneh-aneh selalu dipajang sebagai pemikat. Sikap terhadap guru, orangtua, maupun sesama teman juga sangat tidak mendidik. Dikawatirkan anak-anak sekolahan meniru gaya, sikap, serta apa yang mereka lihat di sinetron-sinetron yang berlimpah kemewahan itu.
Peranan Orangtua
Memang televisi bisa memberikan dampak yang kurang baik bagi anak. Namun melarang anak sama sekali untuk menonton televisi juga kurang baik. Yang lebih bijaksana adalah dengan mengontrol tayangan televisi yang ditonton anak-anak. Setidaknya memberikan pemahaman kepada anak mana yang bisa mereka tonton dan mana yang tidak boleh.
Orang tua perlu mendampingi anak-anaknya saat menonton televisi. Orangtua juga perlu memberikan berbagai pengertian mengapa anak-anaknya perlu mengurangi menonton televisi secara berlebihan. Selain sarana membangun komunikasi dengan anak, hal ini bisa mengurangi dampak negatif televisi bagi anak. Kebiasaan mengonsumsi televisi secara sehat ini mesti dimulai sejak anak di usia dini.
Perlu dipahami bahwa tempat pendidikan paling utama adalah dalam keluarga, dimana orangtua adalah yang paling bertanggungjawab di dalamnya. Kenapa mesti orangtua? Karena orangtua yang bisa mengawasi anaknya lebih lama. Orangtua paling dekat dengan si anak. Dalam keluargalah anak bertumbuh kembang. Membiarkan anak menonton televisi secara berlebihan berarti membiarkan tumbuh kembang anak terganggu.
Banyak menonton televisi juga bisa mengakibatkan jam belajar anak terganggu. Kewajiban orangtua juga untuk memantau kegiatan belajar anak di rumah.
Perkembangan si anak tentu tidak bisa terlalu dibebankan pada sekolah. Dalam kesehariaannya, guru di sekolah tidak akan bisa mengantikan peran orangtua. Karena itu menjadi suatu keharusan bagi orangtua untuk tetap memperhatikan si anak selama di rumah.
J Drost SJ, seorang ahli pendidikan dari IKIP Sanata Dharma pernah menulis dalam buku Reformasi Pengajaran: Salah Asuhan Orantua? Bahwa tujuan pendidikan ialah membantu anak menjadi dewasa mandiri dalam kehidupan bermasyarakat. Dan orang itu adalah orang yang mengetahui akan dirinya, baik keunggulannya maupun kelemahannya, yang bertanggungjawab dan penuh perhatian terhadap sesama. “Penanaman nilai-nilai dalam pembentukan watak merupakan proses informal. Tidak ada pendidikan formal. Jadi seluruh pembentukan moral manusia muda hanya lewat interaksi informal antara dia dan lingkungan hidup manusia muda itu. Maka pendidik utama adalah orangtua (J Drost SJ, 2000)”. **

No comments: