Tuesday, March 13, 2007

Lupakan Saja Pasar Bebas bila Membuat Kita Terjajah!

Oleh Heriyanto

Kini anda tak perlu susah-payah sekadar untuk belanja satu dua ons cabe, ikan teri, atau ikan asin di tempat yang nyaman, bersih, dan sejuk. Anda tinggal pergi ke hipermart. Tak perlu berdesak-desakan, menginjak tanah becek, dan mencium bau busuk menyengat seperti yang biasa kita temui di pasar-pasar tradisional. Bahkan Anda bisa sekaligus menonton film “King Kong” di bioskop sambil makan popcorn. Jika duit Anda masih cukup, Anda bisa menikmati ayam goreng Amrik.
Dunia memang begitu cepat berubah. Sepuluh atau dua puluh tahun yang lalu hal di atas belum Anda bayangkan, tentu. Ada pergeseran pola hidup manusia yang mengikuti pola zamannya. Dahulu, telpon selular adalah barang mewah yang hanya dimiliki golongan menengah ke atas. Bagi mereka yang hidupnya pas-pasan, jangankan untuk membelinya, membayangkan saja tidak. Tapi kini, barang itu dengan mudah bisa kita temui. Tukang sapu atau tukang becak bisa saja memilikinya. Bagaimana dengan produk lain semisal komputer atau televisi? Sama saja.
Memang, saat ini berbagai produk luar negeri sudah begitu dahsyat membanjiri negeri ini: mulai dari produk-produk elektronik, alat rumah tangga, makanan, hingga yang paling kecil sekalipun. Kecanggihan teknologi juga membuat dunia semakin kecil. Bayangkan saja, kita bisa ngobrol dengan orang lain yang berjarak berkilo-kilo meter dari kita, sambil menyaksikan siaran langsung sepakbola dari Inggris; Mengklik winamp untuk mendengarkan suara Bon Jovi, Britney Spears, atau Greenday sambil membalas email ke teman; Atau duduk sebentar mendownload berbagai informasi dari penjuru dunia lewat search engine google. Produk-produk luar itu kita nikmati dan menjadi bagian hidup sebagian dari kita saat ini.
Hidup tampaknya menjadi lebih praktis dan ekonomis. Nyaman. Barangkali itu yang sering kita rasakan dengan adanya berbagai produk itu. Sebagian pekerjaan kita juga menjadi termudahkan. Tapi benarkah dengan itu berarti kita sudah lebih maju dibandingkan dengan dahulu? Atau apakah itu menandakan keberhasilan pembangunan saat ini, dan berarti pula kita siap menyongsong globalisasi?
Pertanyaan ini barangkali wajib diajukan, mengingat saat ini bangsa Indonesia memang sedang berada dalam persimpangan jalan antara mengikuti derasnya arus pasar bebas atau menolaknya. Tapi melihat berbagai kebijakan pemerintah saat ini, tampaknya Indonesia cenderung mengarah pada pasar bebas itu.
Namun yang membuat kita sedih adalah kenyataan bahwa bangsa kita lebih sebagai bangsa pengimpor alias konsumen yang baik. Sementara kemampuan produksi nyaris tak terdengar. Kita sering bangga bila bisa mengonsumsi barang luar negeri. Melihat kenyataan ini dengan nada pesimis kita bisa berujar, akankah kita mampu menahan derasnya arus globalisasi? Di mana kita dihadapkan pada keharusan mampu bersaing dengan bangsa lain. Mampukah?
Ketika pemerintahan Orde Baru memakai gagasan Walt Whitman Rostow tentang Tahap Tinggal Landas, kenyataannya tahapan yang dimimpikan itu justru tak pernah tercapai, kecuali menyisakan berbagai persoalan di negeri ini semisal utang yang menumpuk yang membuat Indonesia semakin terpuruk. Sama halnya bagaimana resep ekonomi yang disarankan IMF ternyata tidak mampu “mengobati” krisis ekonomi yang melanda Indonesia. Maka dari itu, menjadi pelajaran bagi bangsa ini ketika dihadapkan pada pilihan untuk memasuki kancah ekonomi pasar bebas.
Mempertanyakan Pertumbuhan Ekonomi
Sekedar bercerita, pada pertengahan September lalu saya menerima postingan sebuah email dari salah satu anggota diskusi di milist mediacare. Intinya, dia mempertanyakan kembali basis pembangunan dan pertumbuhan ekonomi yang kita anut dalam tiga dasawarsa terakhir, sebagaimana pernah ditanyakan oleh EF Schumacher dalam buku "Kecil itu Indah". Menurutnya jika renungkan kembali pembangunan dan pertumbuhan ekonomi itu sebenarnya menimbulkan lebih banyak problem ketimbang solusi: tentang ketimpangan, utang negerimiskin, involusi pertanian, global warming, krisis energi dan seterusnya.
"Mengambil antara lain filosofi Buddha dan kesederhanaan Gandhi,Schumacher mengajukan pertanyaan paling elementer: benarkahkita memerlukan pertumbuhan dan "kemajuan"? Jika membungkus makanandengan daun pisang lebih sederhana dan ramah lingkungan, haruskah kitamemproduksi plastik hanya untuk menunjukkan kita lebih maju dan modern? Demikian pula kritik tentang istilah "ekonomis" yang secara umum dipandang sebagai dogma. Segala hal cenderung diukur nilai ekonominya, sehingga "tidak ekonomis" adalah sebuah dosa, bahkan jika itu artinya mencerabut manusia dari kemanusiaannya dan harmoninya dengan alam." Demikian saya kutip dari milist itu.

Lupakan Saja Pasar Bebas
Saya tidak bisa membayangkan bila suatu saat rakyat Indonesia hanya bisa diam termangu di negeri sendiri. Terpinggirkan dan kalah oleh bangsa luar di negeri sendiri. Mau menjual cabe sudah tidak laku, mau jual beras harganya sudah begitu rendah, atau ingin berjualan di pasar tradisional sudah tak mampu bersaing dengan hipermat. Sementara berbagai subsidi dicabut. Lantas kita tinggal menerima kemiskinan yang semakin dahsyat mendera, sementara ada sebagian kecil orang yang akan menuai keuntungan berlipat-lipat.
Barangkali pendapat Ben Perkasa Drajat boleh dijadikan renungan. “Pasar” memang memegang peran penting di arena globalisasi. Namun mengapa mesti takut dibilang “anti pasar”, jika “pasar” ternyata tidak peduli pada hajat hidup kita. Bagi sebagian kaum kapitalis, yang penting bagaimana memperoleh keuntungan sebesar-besarnya. Hancurnya ekonomi suatu negara bahkan ekonomi regional dan global tidak dipedulikan.
Karena itu butuh keberanian seperti Iran untuk menjadi diri sendiri tanpa harus merasa didikte negara lain. Bukankah mengikuti sistem ekonomi pasar juga belum tentu akan membawa kebaikan? Maka lebih baik, seperti dikatakan Sukarno, agar kita bisa berdiri di kaki sendiri.
Apa yang dilakukan petani anti WTO adalah sebagian usaha perlawanan. Lupakan pasar bebas bila itu hanya akan membuat kita menjadi bangsa “terjajah”. Dan yang perlu dipikirkan adalah bagaimana agar SDM Indonesia bangga terhadap bangsanya sendiri dan tak perlu tergantung dengan bangsa lain untuk bisa sejahtera.**

Masih Adakah Nasionalisme?

Oleh Heriyanto

Seorang teman, dalam sebuah diskusi ringan, menggelitik saya dengan pertanyaan, ”Masih adakah nasionalisme saat ini”? Jawaban saya, nasionalisme barangkali tetap ada dalam setiap dada warga negara Indonesia, mulai tukang becak hingga pilot, tukang bakso sampai para pengusaha, atau rakyat biasa sampai penguasa. Namun dengan kadar, pemahaman, serta perwujudan yang berbeda-beda. Masih adanya bangsa Indonesia adalah buktinya. Menyangkalnya berarti menyangkal adanya sebuah bangsa bernama Indonesia.
Indonesia, pada awal abad ke 20, belumlah menjadi sebuah bangsa. Yang ada adalah Suku Jawa, Suku Bugis, Suku batak, dan sebagainya. Multatulli masih menyebutnya sebagai een gordel van smaragd langs de evenaar (untaian zamrud khatulistiwa). Berupa pulau-pulau yang saling terpisah dan masing-masing di sana ada kerajaan-kerajaan yang mengusainya. Tentu saja dengung-dengung tentang nasionalisme belum muncul kala itu, apalagi soal Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Kesamaan rasa dan nasib ketika terjadi penjajahanlah yang kemudian menyatukan antara si Ucok yang ada di Sumatera, misalnya, dengan Kacong di Madura atau Joko di Jawa. Bagaimana mereka yang tak pernah kenal satu sama lain, bahkan begitu jauh tinggalnya itu merasa menjadi satu bangsa tanpa ada kekuatan yang mengikatnya? Adalah kekuatan Nasionalisme jawabannya. Nasionalisme adalah sesuatu yang abstrak, namun mampu mengikat orang-orang dari ujung paling barat sampai ujung timur Indonesia, dari Sabang sampai Merauke, sehingga menjadi sebuah bangsa bernama Indonesia. Inilah yang disebut Benedict Anderson sebagai Imagined Communities (komunitas yang diimajinasikan).
****
Kini, bangsa Indonesia sudah merayakan kemerdekaan yang ke 61, adalah sangat penting untuk mempertanyakan kembali rasa nasionalisme kita, ketika bangsa ini sudah bebas dari penjajahan fisik. Belakangan ini nasionalisme menjadi begitu sempit maknanya pada bentuk yang secara kasat mata bisa dilihat, misalnya, pemasangan bendera di depan rumah saat Agustusan dan upacara bendera. Tidak mengibarkan bendera dianggap tidak nasionalis, tidak mengikuti upacara bendera berarti tidak cinta nusa dan bangsa.
Pertanyaannya, apakah dengan memasang atau mengikuti upacara bendera sudah bisa menandakan seseorang punya jiwa nasionalisme yang kuat? Sudahkah hal itu menjadi semacam penggebuk semangat nasionalisme? Atau jangan-jangan, upacara itu hanya menjadi rutinitas tanpa makna?
Upacara bendera sebagai sebagai sebuah pranata sosial untuk mengenang peristiwa sejarah di masa lalu secara simbolis adalah hal yang bisa diterima. Namun menjadi tidak etis ketika dengan pemaknaan itu kemudian orang bebas memberikan label nasionalis atau tidak pada satu orang atau kelompok lain. Apakah orang seperti Pramoudya Ananta Toer, misalnya, yang tak suka mengikuti upacara bendera itu tidak nasionalis? Bagaimana pula dengan seorang koruptor sejati yang setiap hari senin plus hari ulang tahun kemerdekaan tak pernah absen untuk mengikuti upacara bendera, apakah masih bisa disebut seorang yang nasionalis?
Sulit menjelaskan orang seperti Soeharto yang katanya nasionalis itulah yang justru telah menjual dan menggadaikan bangsa ini. Menumpuk utang yang begitu banyak, kemudian mengorupsinya, dan setelah itu anak cucunya diberikan beban di pudak dengan utang-utang itu? Sebuah paradoks bukan? Jelas ya, bila kita memandang nasionalisme sebatas dimaknai di kulit luar saja, hanya seputar bendera, upacara, dan laku seremonial lainnya.
****
Pada masa Orde Baru, berbeda adalah sebuah ancaman, mengeluarkan pikiran-pikiran yang berbeda dengan pemerintah akan dianggap sebagai makar. Tidak mau ikut upacara bendera dianggap sebagai bentuk pengkhiatan. Bahkan mereka yang tidak mau hormat pada bendera jangan harap bisa lepas dari kejaran aparat. Apalagi mengotak-atik Negara Kesatuan Republik Indonesia, sama saja dengan membuat makar dan mengkhianati bangsa, dan karena itu harus ditangkap.
Atas nama nasionalisme, pemerintah akan dengan mudah menangkap atau membuang mereka-mereka yang dianggap tidak nasionalis. Sebut saja misalnya Pramudya Ananta Toer, Arief Budiman, Sri Bintang Pamungkas dan sebagainya, karena dianggap tidak nasionalis mereka harus masuk Bui atau dibuang ke pulau terpencil. Mereka kemudian mendapat cap Tapol atau Napol sebagai penanda mereka tidak nasionalis. Dengan kata lain, nasionalisme menjadi alat untuk melegitimasi kepentingan politik elit penguasa.
Dengan gaya seperti itu, nasionalisme ada pada tangan pemerintah. Biarkan saja dalam dada orang-orang yang ditangkap itu bergelora semangat cinta dan kepedulian terhadap kondisi bangsa, itu tak akan membantu. Yang tampak adalah mereka adalah kaum makar yang harus diberantas.
Kini zaman telah berubah, dan rezim telah berganti. Di masa reformasi –walaupun pada dasarnya masih banyak orang-orang Orde Baru yang menyaru menjadi manusia reformis di pemerintahan- ada suatu kenyataan bahwa Indonesia sudah begitu parah kondisinya. Korupsi, kolusi, dan nepotisme sudah begitu kronisnya, sementara kondisi perekonomian morat marit. Di sinilah nasionalisme itu diuji kekuatannya. Bangunan nasionalisme sangat rentan untuk roboh ketika tiang-tiang penyangga nasionalisme itu rapuh. Beberapa daerah ribut soal kemerdekaan, sebagian lagi merasa lebih aman minta suaka politik ke negara lain.
Kenyataannya ada daerah yang begitu pesat pembangunannya, sementara di sisi lain banyak daerah yang sangat tertinggal, tentu saja ini tidak sehat. Ketika terjadi perbedaan yang begitu mencolok, di mana suatu daerah begitu lebih maju dibanding daerah lain, sementara kekayaan alamnya telah diambil untuk membangun daerah yang kini telah maju itu, itulah yang memunculkan rasa ketidakadilan. Selanjutnya muncullah bentuk-bentuk perlawanan. Sebut saja misalnya tuntutan merdeka yang dilakukan GAM di Aceh dan Timor Timur (kini Timor Leste). Tuntutan merdeka menjadi bisa jadi pertanda kekuatan nasionalisme semakin berkurang kadarnya. Dan sangat berbahaya bila kadarnya semakin kecil atau bahkan hilang, dan akhirnya eksistensi Indonesia sebagai sebuah bangsa akan musnah. Tak bisa dibayangkan bahwa suatu saat tidak ada lagi Bangsa Indonesia, yang ada bangsa ini di pulau itu, atau bangsa itu di negara ini.
Tentu agar itu tidak terjadi, nasionalisme masih tetap diperlukan sebagai sebuah kekuatan untuk menjaga keutuhan bangsa. Sementara keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia juga mesti ditegakkan. Dan perlu diingat, wacana nasionalisme harus dilepaskan dari dominasi penguasa. Nasionalisme bukan hanya persoalan apel bendera atau pemasangan bendera. Bagaimanapun, setiap diri Warga Negara Indonesia mesti mengatur ritme jejak langkah nasionalisme bangsa yang sakit ini bisa kembali pulih.**

Senjata, Perang, dan Kematian

Oleh Heriyanto

Perang di mana-mana akan menghasilkan tangisan, penderitaan, horor, dan buih kekalutan. Kepala tertunduk lesu, darah berceceran di mana-mana, gedung-gedung hancur dalam hitungan detik, dan suara teriakan-teriakan bernada pilu yang mengisi ruang-ruang kehidupan manusia. Anak-anak, ibu-ibu, dan orang-orangtua yang akhirnya paling banyak jadi korbannya. Bara dendam, dan kebencian pun menjadi sambungan ceritanya.
Sepertinya antara hidup dan kematian itu begitu tipis sekali bedanya. Siapa yang akan mampu merasakan pilu yang dialami oleh seorang ibu yang kehilangan 3, 4, atau 5 anak, serta suaminya sekaligus? Ibu itu adalah korban. Dan sebagaimana korban-korban lain, dialah yang menerima penderitaan atas apa yang tidak ia lakukan. Barangkali ia hanya mampu memprotes lewat tangisan.
Kematian boleh jadi merupakan sesuatu yang mahal dan sakral, akan tetapi bisa, boleh jadi, disebabkan oleh alasan yang banal, ringan. Inilah kematian yang sia-sia, kematian yang menyakitkan, tetapi oleh peristiwa yang sangat sederhana dan biasa. Inilah banalitas kematian ­­­— seperti disebutkan Yasraf A Piliang dalam bukunya Transpolitika—dalam konteks industri persenjataan global (war machine) yang keberlanjutan industrinya hanya dimungkinkan bila selalu ada kebutuhan pemusnahan, artinya selalu ada produksi kematian.
Perang sama saja dari dahulu, sejak zaman pra sejarah hingga saat ini; sejak masa barbarian hingga masa ketika orang menyebut-nyebut dan mengangung-agungkan demokrasi dan Hak Asasi Manusia. Ceritanya sama, gerakannya sama, motifnya sama, dan korbannya juga sama. Bedanya, hanya dengan cara apa manusia versus manusia itu saling bunuh. Makin pintar manusia, makin canggih teknologi yang dipakai untuk membunuh. Kemampuan senjata yang terus disempurnakan, jarak jelajah rudah-rudal Katyusha yang terus ditingkatkan, dan penggunaan senjata anti rudal yang terus berkembang. Pun itu masih ditambah mereka yang sembunyi-sembunyi mengembangkan senjata pemusnah massal. Ribut-ribut soal senjata nuklir dan pemusnah massal sekaligus menandakan bahwa bayang-bayang horor mengerikan tentang kematian masih akan terus menghantui umat manusia di bumi ini.
Kini untuk memusnahkan musuh tak lagi harus berhadapan-hadapan, juga tak perlu kebal-kebalan kulit atau mengandalkan tiupan mantra-mantra magis, cukup berada di ruang monitor, dengan mengatur kode-kode tertentu, mencari target, menguncinya dan kemudian memencet tombol. Meluncurlah, kemudian, rudal-rudal jelajah jarak jauh. Moncong rudal itu tidak akan memilih sasaran, juga tidak menghindari anak-anak kecil yang sedang bermain, masjid ketika orang sedang beribadah, jembatan saat orang lewat, atau ketika orangtua menggendong anaknya. Semua sama saja di hadapan moncong rudal itu.
Sejak dahulu kala ketika masa barbarian hingga sekarang ini, perang terus mewarnai kehidupan manusia. Tampaknya perebutan kekuasaan, harta, dan kejayaan, menjadi penyebabnya. Faktor geopolitik dan ideologi menjadi sebab lain. Ada semacam jiwa keserakah manusia yang senantiasa menjadi semacam pembakar bagi manusia untuk menguasai manusia lainnya. Bagi Thomas Hobbes inilah yang disebut Leviathan, sosok monster yang menakutkan dan menyeramkan.
Kekayaan, kehidupan yang lebih baik dan impian untuk menjadi superior dari bangsa yang lainnya membuat mereka tak segan untuk membawa senjata. Apa yang disebut dengan gold, glory, dan gospel, misalnya, pernah menjadi semacam penyemangat bagi bangsa-bangsa Eropa untuk menjelahi dunia dan kemudian melakukan ekspansinya, menguasai negara-negara lain.
Tapi orang boleh mengatakan apapun soal perang, orang boleh berdemo, dan orang orang boleh tidak setuju. Namun faktanya perang tetap saja terjadi. Mengapa? Karena ada yang diuntungkan dari perang itu. Semua yang dilakukan oleh manusia ada kaitannya dengan motif. Demikian pula ketika Hesbollah menyandera 2 tentara Israel dan kemudian Perdana Menteri Israel Ehud Olmert yang berang atas tindakan itu selanjutnya memuntahkan rudal-rudal Israel ke Lebanon. Pun demikian dengan George W Bush yang dengan serta merta dan senang hati membela dan membantu Israel. Masih adakah keikhlasan? Mungkin ada tapi kadarnya yang semakin menipis. Yang jelas ada motif, sekenario, dan sesuatu di balik itu. Apakah orang dengan tega membunuh manusia lain tanpa ada dorongan apapun?
Saya kira, selain bentuk harga diri, ada yang diuntungkan dari sebuah perang yang sedang berkecamuk. Apapun namanya, bagi mereka yang terlibat perang akan selalu membutuhkan persenjataan. Membutuhkan amunisi, membutuhkan tank-tank, dan juga membutuhkan pesawat-pesawat yang kian hari menjadi sangat canggih.
Siapa yang akan diuntungkan? Jelas yang memproduksinya. Orang akan dengan serta merta mampu menjawab siapa sebenarnya yang mampu memproduksinya. Amerika punya pabrik senjata, bahkan terbesar di dunia. Untuk apa diproduksi jika hanya menjadi pajangan? Bisnis senjata di Amerika sama saja seperti bisnis roti, bisnis baju, atau produk lainnya, yang tentu saja tujuannya memperoleh keuntungan. Dan untuk laku, harus ada yang membelinya. Dan bukankah tidak ada satu negara pun yang tidak butuh senjata?
Dengan mudah ciptakan saja isu terorisme, misalnya, atau buat saja ketegangan di berbagai kawasan, akan ada sejuta alasan untuk kemudian memuntahkan sebagian amunisi itu. Semakin banyak senjata yang diperlukan akan semakin banyak senjata yang dibeli. Dan setiap orang membeli di situ ada uang, dan keuntungan. Dan di situlah kepentingan bisnisnya muncul. Siapa yang peduli dengan jatuhnya korban ketika bisnis, uang, dan keuntungan yang berbicara?
Bagi Pilliang, rezim kebenaran (seperti misalnya rezim Bush), yang memproduksi imajinasi tentang sebuah tata dunia baru yang demokratis, aman, dan manusiawi, yang harus dibebaskan dari ancaman, khususnya terorisme. Rezim kebenaran itu dengan kekuasaan yang dimilikinya mendefinisikan apa yang disebut demokratis, damai, manusiawi, dan teroris itu, sambil secara apik menyembunyikan relasi kekuasaan, berupa kehendak untuk secara sepihak menguasai dunia itu sendiri berserta sumber-sumber kekayaannya. Pertanyaan saya, setelah Afghanistan, Irag, dan terakhir Lebanon, negara mana lagi yang akan jadi korbannya?

Penulis, Mantan Ketua Umum Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Universitas Tanjungpura

Buta Huruf: Bukan Sekadar Tidak Bisa Baca Tulis

Oleh Heriyanto

Membicarakan pemberantasan buta huruf, saya teringat pernyataan Ny Saheen Attiq-ur Rahman --seorang aktivis yang telah bergelut puluhan tahun dalam gerakan pemberantasan buta huruf di kalangan perempuan miskin di Pakistan-- di Harian Kompas 28 Januari 2005 lalu. Ia berkata, “Sebelum berbicara masalah pemberantasan buta huruf, pikirkan dulu bagaimana bisa menyediakan air bersih.”
Sebagian wanita Pakistan menghabiskan sebagian besar waktu dan tenaganya untuk mencari air bagi kebutuhan keluarganya. Hal ini berakibat pada sulitnya mereka menyisihkan waktu dan tenaganya untuk belajar baca tulis. Dengan menyediakan air bersih lebih dahulu, barulah mereka (kaum wanita) bisa menyisihkan waktu dan tenaga untuk belajar baca tulis.
Saya menangkap makna lebih dari pernyataan itu. Bahwa, ada hal yang perlu didahulukan pemenuhannya, sebelum berbicara masalah pemberantasan buta huruf. Dalam konteks Indonesia, pernyataan Saheen memang tidak bisa mentah-mentah kita pakai. Tidak perlu diperdebatkan melimpahnya sumber daya air di Indonesia. Tapi, konteks air bagi penduduk Pakistan bisa disamakan dengan konteks berbeda yang ada di negara-negara berkembang: kelaparan, kemiskinan, sulitnya akses pendidikan, PHK, dan sebagainya.

Pemahaman tentang Buta Huruf
Berbicara masalah buta huruf, hampir semua orang cenderung memahaminya (melulu) berkenaan dengan kemampuan baca tulis huruf latin. Kemampuan ini penting untuk menyerap berbagai informasi yang diperlukan agar dapat meningkatkan kualitas hidupnya. Tujuan akhirnya adalah peningkatan kemakmuran hidup. Dengan angka buta huruf tinggi, maka akan semakin sulit tercapai kemakmuran hidup itu. Karena itu, buta huruf perlu diberantas. Pemerintah pun membuat berbagai program. Misalnya, kerjasama antara Depdiknas Kalbar dan FKIP Untan yang “menerjunkan” para mahasiswa untuk mengajar baca tulis di daerah-daerah yang masih terdapat buta huruf di sana.
Namun dalam prakteknya, hal ini menjadi sangat teknis sekali. “Tidak bisa baca tulis, maka harus diajari baca tulis.” Padahal, berbicara masalah buta huruf, tidak sekadar pada persoalan kemampuan baca tulis belaka, melainkan juga berbagai hal lain yang menjadi penyebabnya, misalnya lingkaran kemiskinan dan sulitnya akses pendidikan bagi kaum miskin. Bisa dipahami bahwa mereka yang buta huruf kebanyakan keluarga miskin yang sulit mengakses pendidikan. Dan ini akan menjadi semacam siklus, yang akan terus berulang.
Kita sepakat bahwa pemberantasan buta huruf adalah hal yang penting. Namun memahami secara mendalam berbagai persoalan lain tersebut jauh lebih penting. Apa yang dikatakan Saheen benar, selama penghambatnya masih belum diatasi, buta huruf juga akan sulit diatasi.
Saya kira lucu, bila mereka yang sudah tua--yang sangat tidak familiar dengan huruf-- itu diajari baca tulis, sementara mereka harus memikirkan bagaimana mengisi perut mereka esok. Dan diantara mereka ada yang mesti bekerja ekstra, pagi, siang, bahkan sampai malam. Pertanyaannya, “Dengan kondisi itu, mampukah mereka menguasai baca tulis?” Bukankah memori mereka sudah sangat sulit untuk menghafal huruf-huruf alphabet itu. Jauh berbeda dengan anak SD yang memang daya serapnya masih sangat kuat.
Atau, katakanlah mereka bisa baca tulis walaupun terbata-bata, namun apa pentingnya kemampuan itu bagi mereka di usia tua. Toh mereka akan terbentur pada persoalan bagaimana bisa bertahan hidup.
Dengan melihat lebih dalam persoalan buta huruf, kita seharusnya tidak memandangnya secara pragmatis jangka pendek. Apalagi jika lebih sebagai proyek dan “pemadam kebakaran”. Proyek selesai, program pun selesai. Kelompok-kelompok baca tulis yang didirikan pun ikut bubar juga. Selesaikah dengan itu semua?

Fokus pada Anak Usia Sekolah
Ada sebuah harapan, generasi kini lebih baik dari generasi sebelumnya, generasi orangtua. Dan generasi berikutnya lebih baik dari generasi kini. Maka itu, saya mengusulkan, program pemberantasan buta huruf lebih ditekankan bagi peningkatan mutu anak-anak usia sekolah.
Banyak anak-anak yang kini tidak mampu mengenyam pendidikan karena masalah kemiskinan. Negara yang berpikiran ke depan, akan menyediakan fasilitas pendidikan lebih memadai yang bisa dengan mudah diakses anak-anak miskin itu. Dengan ini kita bisa memutus siklus buta huruf.
Metodenya tidak berarti harus sama dengan sekolah formal. Bisa disesuaikan dengan kondisi lingkungan anak-anak itu. Di lingkungan pemulung misalnya, programnya berbeda dengan anak-anak nelayan, demikian pula sebaliknya.
Mereka tidak hanya diajari membaca dan menulis, tetapi juga kemampuan lain lain yang dapat berguna untuk masa depannya.
Sasarannya tidak untuk saat ini, tetapi lima, sepuluh, atau dua puluh tahun mendatang, Indonesia bisa bebas buta huruf dan juga punya SDM yang berkualitas.
Sementara bagi mereka yang sudah tua, lebih baik difasilitasi agar mampu memberdayakan segala potensi yang mereka miliki, bukan sekadar diajari baca tulis belaka. Juga memberikan pemahaman kepada mereka akan pentingnya pendidikan bagi anak-anaknya.
Terakhir, semua pihak mesti menyamakan persepsi bahwa masalah buta huruf adalah masalah bersama. Karena itu, pemecahannya bukan hanya urusan pemerintah saja, tapi kita semua.

*) Relawan di Sekolah Anak Merdeka Waduk Permai

Apakah Belajar Mesti Tidak Menyenangkan?

Oleh: Heriyanto

“Anak-Anak, Bermainlah!”. Kata-kata ini menjadi judul dalam makalah yang ditulis oleh Dr. Seto Mulyadi atau yang lebih dikenal dengan nama Kak Seto, yang disampaikan dalam Seminar Pendidikan Anak di Pontianak, 13 Agustus 2005 yang lalu. Terasa aneh memang judul diatas, apalagi bila dibandingkan dengan maunya pemerintah, dimana setiap anak dituntut untuk belajar lebih giat dan rajin agar dapat meningkatkan nilai ujiannya. Hal ini justru berbeda, anak-anak disuruh bermain, sesuatu yang selama ini dianggap kurang bermanfaat dan membuat anak malas belajar.
Anak-anak memang tidak lagi punya waktu yang cukup untuk bermain. Mulai sejak umur 3 tahun mereka sudah mulai dikenalkan berhitung, membaca, dan belajar. Dimulai pada tingkat TK atau juga di Playgroup mereka sudah mulai dijejali dengan berbagai materi pelajaran. Di SD, SMP, SMA, apalagi. Bahkan ketika anak masuk ke SD, akan dianggap terbelakang bila belum bisa berhitung dan membaca. Atau ada juga yang mengetes calon siswa SD itu dengan berhitung dan membaca.

Belajar menjadi Tidak Menyenangkan
Otak siswa hanya satu. Sebagian otak itu ber IQ tinggi, sebagian sedang, dan sebagian yang lainnya idiot. Dua yang terakhir adalah golongan terbanyak di Indonesia. Maklum gen penyusun otak siswa Indonesia lebih sering kurang mendapatkan asupan gizi. Ada yang cacingan, gizi buruk, sampai penyakit busung lapar.
Namun, dalam kesehariannya di sekolah, otak mereka itu harus menghafal dan dijejali banyak sekali materi pelajaran. Tak pandang bulu. Segala macam materi dihafal setiap harinya. Di SD ada sekitar 7 mata pelajaran, SMP 11 mata pelajaran, dan SMA tak kurang 17 mata pelajaran.
Siswa terus dipacu belajar ekstra, mengejar target lulus. Ujian nasional ditentukan standarnya. Di bawah nilai standar tak lulus. Akhirnya, aktivitas guru lebih dominan daripada siswa, untuk mengejar target materi. Siswa tak lebih hanya menghafal ilmu pengetahuan yang disampaikan gurunya, bukan memahaminya. Proses belajar mengajar menjadi sesuatu yang membosankan dan tak menyenangkan. Tak disangkal ada banyak “kepala” yang tertekan.
Bahkan ada yang gantung diri, minum racun serangga, memanjat tiang listrik, dan sebagainya. Wah beratnya!! Sekolah ternyata bisa bikin stress anak-anak. Apalagi banyak diantara siswa yang harus terbebani secara psikologis untuk beli buku tambahan, les tambahan, bayar uang sekolah, dan segala tambahan lainnya.
Yang lulus sekolah, justru jadi manusia bingung. Banyak yang tak tahu apa-apa. Mau kerja, keterampilan tak mencukupi, mau kuliah biayanya mahal. Mereka jadi pengangguran “bisu”. Asing di lingkungannya. Tak mampu menawarkan diri. Tak mampu berkreasi. Bagi yang diterima kuliah, pengetahuannya pas-pasan. Lulus pun karena ada tempat yang masih tersedia, bukan karena bisa melampaui pasing grade. Ya, ujian SPMB kan banyak yang hanya asal-asalan.
Belajar Menyenangkan
Selama ini terframe di otak, belajar adalah sesuatu yang sangat tidak menyenangkan. Bosan dan bikin kepala pusing. Tapi, ungkapan ini akan berbeda sekali dengan pendapat Dr. Setomulyadi, diawal paragraf di atas. Pemikiran ini tentu merupakan antitesa adanya kenyataan selama ini inteligensi diunggulkan sebagai satu-satunya jaminan masa depan bagi kesuksesan anak di masa depan, lalu mengkaitkan inteligensi ini hanya dengan prestasi skolastik belaka. Ya prestasi sekolahlah yang selama ini dianggap paling menentukan masa depan.
Bermain yang merupakan dunia anak-anak yang paling indah pun hilang dan digantikan kegiatan belajar anak-anak di lembaga pendidikan formal. Suasana keceriaan yang seharusnya mereka nikmati diganti dengan suasana belajar yang tegang dan serius.
Karena itu, atas segala macam tekanan psikologi, dengan bermain diharapkan siswa bisa mengisi kembali energi yang telah melemah. Sigmund Freud mengatakan, bermain berguna mengurangi kecemasan anak dengan mencoba mengekspresikan berbagai dorongan impulsifnya dengan cara yang diterima oleh lingkungan. Sementara Jean Piaget mengatakan, bermain amat penting bagi perkembangan kognitif seorang anak dengan melatih kemampuan adaptasi dengan lingkungannya dalam suasana menyenangkan.
Tepatlah juga yang dikatakan oleh Thomas Armstrong, "Semua anak adalah anak yang berbakat. Tiap-tiap anak terlahir ke dunia ini dengan potensi yang unik, yang jika dipupuk dengan benar, dapat turut memberikan sumbangan bagi dunia yang lebih baik. Tantangan terbesar bagi para orangtua dan guru adalah menyingkirkan batu besar yang menghalangi jalan mereka dalam menemukan, mengembangkan, dan merayakan anugerah yang mereka miliki itu."
Seorang anak dikembang kemampuannya sesuai dengan spekturm kecerdasan yang dimilikinya dengan menyenangkan, tidak lagi dipaksakan untuk menerima materi yang belum mampu diterima. Seorang anak yang memiliki bakat dan minat pada musik bisa dikembangkan bakatnya itu, dan tidak harus dipaksakan untuk menguasai matematika, misalnya, padahal ia tak mampu. Sehingga belajar tidak lagi menjadi momok bagi mereka yang memang IQ Nya rendah.
Dengan demikian, mengacu juga pada Teori Kecerdasan Majemuk (KM) dari Howard Gardner, bahwa pikiran manusia tersusun dari tujuh kecerdasan--linguistik, matematis-logis, spasial, kinestetik, musikal, interpersonal, dan interpersonal. Karena itu proses pendidikan hendaknya tidak hanya diarahkan pada pengembangan Inteligensi saja, tetapi bisa saja kecerdasan lainnya yang sesuai kemampuan, minat, serta bakatnya. Semoga anak-anak memperoleh keceriaannya kembali.**

Belajar IPA Dari Alam

Oleh Heriyanto

Selama ini banyak loh pelajar yang berpikiran bahwa belajar IPA itu sulit. Mereka, misalnya, menganggap IPA itu begitu berat untuk dipelajari, terlalu banyak rumus dan banyak hitungan, dan sebagainya. Atau ada yang berpikiran pelajaran IPA hanya untuk orang-orang yang pintar saja. Bahkan ada baru mendengar namanya saja sudah takut duluan. Benar tidak?
Padahal, dalam kehidupan sehari-hari banyak loh gejala atau peristiwa alam yang berhubungan dengan pelajaran fisika dan bisa dipelajari dengan begitu menarik. Jika kamu rajin mengamatinya kamu bisa menyingkap rahasia alam yang begitu banyaknya ini loh.
Kamu tentu ingat dong dengan hukum grafitasi? Hayo siapa yang menemukannya? Ya betul, Sir Isaac Newton. Ia adalah ilmuwan Inggris yang begitu terkenal. Satu cerita yang menarik, pada awalnya dia dianggap kurang pintar dengan prestasi yang rata-rata saja, sehingga ibunya membawanya pulang dari sekolah. Ibunya menganggap anaknya itu lebih cocok untuk mengurusi peternakan di tempat tinggalnya. Untungnya, pamannya melihat potensi Isaac dan menyerankan agar keponakannya itu dikirim kembali ke sekolah untuk mempersiapkan diri masuk ke universitas. Ia kemudian masuk kuliah di Cambridge.
Satu kebiasaannya, ia sejak kecil suka merenungkan hal-hal yang menarik minatnya. Setelah jadi sarjana pun ia masih demikian. Suatu hari, ia duduk di bawah pohon apel. Pada saat itu, sebuah apel jatuh saat ia sedang merenung. Ia memandangnya dengan keheranan. Dalam pikirannya ia bertanya, mengapa apel itu tidak jatuh menyamping atau ke atas, kenapa selalu saja jatuh ke pusat bumi? Ia yakin, alasannya pasti karena ada gaya yang tarik yang mengarah ke pusat bumi. Dan pusat gaya tarik itu pastilah di pusat bumi.
Dari sinilah, lahir hukum grafitasi newton itu, sebuah penemuan yang besar dari ketidaksengajaan. Sesuatu peristiwa yang dianggap sepele ternyata tidak selamanya kurang berarti. Jatuhnya apel dari pohonnya, ternyata berperan dalam lahirnya hukum grafitasi yang begitu universal. Penemuan ini, beserta banyak penemuan lain di bidang sains yang tidak disengaja, bisa kamu baca pada buku Serendipity, yang dikarang oleh Dr. Royston M. Roberts, terbitan Pakar Raya.
Nah kembali ke pelajaran IPA tadi, dari contoh diatas dapatlah diambil pelajaran, bahwa ilmu pengetahuan itu dapat juga didapatkan dari pengamatan terhadap peristiwa dan gejala alam. Bahkan juga dariketidak sengajaan.
Memang, para ilmuwan sejak dahulu kala, mereka sangat ulet mengamati serta memikirkan tentang gejala dan peristiwa alam. Saat mendapati pertanyaan yang belum terjawab, selalu saja mereka pikirkan. Hasil pengamatan dan berpikir itu kemudian diturunkan menjadi teori atau hukum-hukum yang menjadi landasan dalam ilmu fisika. Hasil pemikiran mereka itu kemudian banyak yang dibukukan dan dipelajari kembali oleh para penerus mereka, termasuk kita saat ini.
Para pemikir itu lakukan itu memang tanpa paksaan, bahkan mereka sangat menyukainya. Prinsipnya belajar tanpa keterpaksaan dan tanpa memandang umur. Mereka juga tidak terikat pada sekolah, diluar itupun tetap belajar. Artinya untuk mendapatkan ilmu pengetahuan tidak hanya didapatkan lewat sekolah saja dan tidak dibatasi oleh umur. Dari alam pun mereka bisa belajar.
Bagaimana dengan kamu saat ini, bisakah menemukan hal-hal baru? Ya tentu saja bisa. Hanya saja banyak loh para pelajar yang terjebak pada sebuah rutinitas bahwa belajar IPA itu hanya didapatkan dari kelas saja. Pelajaran IPA jadi sesuatu yang menakutkan dan tidak menyenangkan.
Karena itu, jika ingin menguasai IPA, atau semua pelajaran, terlebih dahulu kamu harus menjadikannya sebagai sahabat. Belajarlah untuk menyukainya dan
jangan menganggapnya sebagai beban. Mencintai pelajaran IPA ini bisa dengan jalan sering belajar dan mengamati alam ini. Belajar juga bisa sambil bermain di alam bebas. Diskusi tentang peristiwa dan gejala alam kemudian dikaitkan dengan pelajaran IPA. Atau kamu bikin penelitian sederhana dengan melakukan pengamatan di sekeliling sekolah atau rumahmu. Mintalah gurumu untuk sesekali belajar IPA di luar kelas, disertai penjelasan gurumu.
Jika kamu sudah menyukai apa yang kamu pelajari itu, ilmu itu akan mudah kita terima. Niscaya kamu bisa menjadi penerus para ilmuwan, seperti Sir Isaac Newton tadi. Semoga.

Sisi Gelap Pertumbuhan

Oleh Heriyanto

Pagi itu di sebuah kantin yang terletak di bilangan Untan, saya memesan teh hangat. Pagi, tentu enak menikmati secangkir teh hangat, pikir saya. Sambil membaca koran Kompas, saya menyeruput teh itu. Namun, saya mendapati rasa berbeda, teh itu terasa payau. Manisnya teh bercampur dengan rasa asin. Ternyata tidak hanya saat berwudu atau mandi saja saya merasakan air payau, tetapi juga merembet ke minuman kegemaran saya. Air teh itu tidak saya habiskan karena rasa mual justru datang dan membuat gairah minum teh di pagi hari itu jadi sirna.
Dalam beberapa waktu belakangan memang air ledeng berubah rasanya jadi payau. Kalau teh yang saya minum itu rasanya payau, apakah ada hubungannya dengan air ledeng? Saya tidak berprasangka jelek, ya barangkali di kantin itu untuk memasak atau mencuci menggunakan air ledeng. Tapi walau kecewa, saya jadi terinspirasi untuk membuat tulisan ini.
Saya teringat satu buku yang saya baca beberapa hari sebelumnya berjudul Titik Balik Peradaban yang ditulis Fritjof Capra. Di dalam buku itu ada satu tulisan menarik yang mengupas tentang sisi gelap pertumbuhan. Saya coba untuk mengulasnya sesuai pemahaman saya, yang kemudian coba saya kaitkan dengan pengalaman saya di atas.
Begini, pertumbuhan teknologi dalam rangka mengejar produktivitas telah menyebabkan suatu lingkungan di mana kehidupan menjadi tidak sehat. Kaum industrialis memprogandakan kemajuan-kemajuan dan kemakmuran namun sisi-sisi gelapnya dikesampingkan. Kerusakan ekologis belakangan ini sudah begitu nampak di depan mata. Banjir, tercemarnya air, krisis air, polusi udara, dan sebagainya. Capra sendiri, lebih banyak memberikan contoh bagaimana bahaya nuklir bagi kehidupan manusia. Dan bahkan mengancam eksistensi manusia, bila skala bencana yang terjadi begitu besar. Di Indonesia, contoh yang paling nampak adalah bencana lumpur panas di Jawa Timur karena hasrat si pengusaha mendapatkan untung besar dan melupakan adanya peluang terjadi bencana.
Menurut Capra, hal ini ada juga hubungan dengan pandangan yang dianut oleh para ilmuwan yang secara runtut lebih menekankan pikiran dan pandangan yang mekanistik ala Descartes dan Newtonian. Bahwa dunia materi dipandang sebagai kumpulan objek-objek yang terpisah yang dirakit menjadi sebuah mesin raksasa. Lebih ringkasnya, hewan, tumbuhan dan segala yang ada di alam sekitar kita ini adalah mesin. Dan manusia juga dipandang sebagai mesin produksi. Mesin-mesin inilah yang dipandang sebagai aset produksi yang bisa menghasilkan keuntungan ekonomis.
Ketika produksi dikejar dan konsumsi semakin meningkat, teknologi juga semakin ditingkatkan. Namun hal ini mengakibatkan telah membuat ketidakseimbangan di alam ini, karena eksploitasi alam secara berlebihan. Dalam sebuah sistem alam, bila ada satu kerusakan pada komponen A bisa saja berakibat pada komponen B, komponen B mempengaruhi komponen C, dan seterusnya. Pernahkah merenungkan bahwa apa yang telah manusia perbuat terhadap dunia ini sudah begitu berlebihan? Sayangnya sisi negatifnya ini tidak mendapatkan proporsi yang cukup untuk dibahas atau mendapatkan perhatian.
Lantas apa ada hubungannya pengalaman saya di atas dengan apa yang ditulis oleh Fijrof Capra? Deman Huri pernah menulis dalam koran ini tentang krisis air. Saya coba melengkapi argumentasi Demanhuri, namun dalam kajian yang lebih singkat seperti yang diulas Fritjof Capra. Ini secara tidak langsung adalah fenomena sisi gelap pertumbuhan yang di kejar-kejar oleh pemerintah selama ini.
Laju kerusakan hutan yang tinggi membawa dampak signifikan terhadap berkurangnya pepohonan sebagai pengikat air. Lantai hutan yang terbuka, membuat titik air langsung meluncur ke sungai, lantas ke laut. Erosi yang terjadi karena tanah yang dibawa oleh air yang mengalir membuat sedimentasi. Sungai pun menjadi dangkal. Pada musim kemarau, volume air berkurang karena sudah terlepas ke laut lepas pada musim penghujan. Karenanya terjadi intrusi air laut. Air sungai yang tawar kemudian berubah menjadi air asin, yang kemudian karena sulitnya air, terpaksa dikonsumsi, termasuk untuk membuat teh yang saya minum itu. Ini hanya bagian kecil saja dari keseluruhan ketidakseimbangan alam.
Nafsu dan keserakahan untuk menguasai alam ini telah membuat sebagian orang-orang bermodal melupakan kelestarian alam, melupakan bencana, melupakan bagaimana nasib anak cucu nanti. Tidak hanya soal ekologis, karena mengejar pertumbuhan ekonomi telah mengakibatkan adanya kesenjangan yang begitu besar antara kaya dan miskin. Pada satu sisi ada manusia-manusia nan kaya dengan harta yang melimpah ruah, namun di sisi lain lebih banyak manusia yang kelaparan karena kemiskinan yang luar biasa. Ada orang yang dengan mesin-mesin produksinya mampu meraup keuntungan berlipat-lipat, namun sebaliknya lebih banyak manusia yang dirugikan.
Titik Balik Pemikiran
Kini, kita dihadapkan pada sebuah realitas bahwa alam telah menjadi seperti sekarang ini. Tinggal bagaimana harus melakukan pemikiran ulang cara pandang pemanfaatan dan pengelolaan alam dan lingkungan. Tentu bukan hal yang mudah. Apalagi saat ini tampaknya para pemikir besar pun sepertinya tidak lagi mampu memecahkan persoalan-persoalan yang dihadapi umat manusia ini.
Barangkali seperti yang dikatakan Dr Aswandi suatu ketika saat saya coba berdiskusi dengan beliau, ”dasarnya ada di hati manusia yang perlu dibersihkan”. Teknologi tetap akan berkembang, namun harus disertai peningkatan moralitas, etika dan keimanan para pemegang teknologi itu.
Soal teh berasa payau? Terus terang, saya tidak ingin terus-menerus meminumnya. Belum lagi jika air di sungai kapuas tercemar oleh berbagai macam bahan kimia. Duh, semakin mual rasanya. Tentu anda juga tidak mau bukan?

Sinergisitas Gerakan Intelektual

Oleh Heriyanto

Semua tentu menginginkan adanya perubahan yang lebih baik bagi bangsa ini. Ada sebungkah harapan, bahwa semua krisis yang melanda bangsa ini akan ”terobati”. Dari harapan-harapan ini, berbagai elemen bangsa berusaha mengadakan perubahan. Ada reformasi hukum, reformasi pendidikan, reformasi birokrasi dan sebagainya. Namun perubahan yang diharapkan masih jauh dari harapan. Jauh panggang dari api. Ada pula yang sekadar ikut-ikutan.
Melahirkan demokrasi memang bukan hal yang mudah. Demikian pula untuk mencapai perubahan ke arah lebih baik. Ada berbagai rintangan yang menghadang. Soal orang-orang lama yang masih ingin situasi seperti yang dulu. Soal sistem yang masih karut marut, dan beragam masalah lain yang belum selesai. Kaum status quo merasa tidak aman. Mereka takut dikejar-kejar akibat dosa lama mereka. Betul saja karena berubah itu sakit. Dan karena menyakitkan, tidak semua orang bisa menerimanya. Keinginan saja tidak cukup. Butuh tenaga yang lebih besar untuk mencapainya, juga butuh tenaga pendorong yang kuat.
Di alam yang mengarah demokrasi saat ini, menduga-duga dan menaruh curiga tentu boleh-boleh saja bukan? Dan tentu saja tidak ada lagi pasal karet yang bakal memenjarakan orang yang melakukannya. Karena itu saya pikir tidak ada salahnya jika kali ini saya yang menaruh curiga.
Suatu ketika ada diskusi antara beberapa teman aktivis LSM dan beberapa jurnalis lokal di Kalbar. Mengemuka sebuah kajian bagaimana membangun gerakan sosial yang lebih manjur dengan sinergisitas gerakan antara tiga komponen, yaitu Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), jurnalis, dan akademisi perguruan tinggi.
Hal ini dilandasi kenyataan bahwa setelah krisis ekonomi, Indonesia tertatih-tatih menuju perbaikan, sementara penyelenggara negara masih banyak yang integritasnya bobrok. Mereka yang justru memanfaatkan kekuasaan untuk keuntungan pribadi, melakukan korupsi, kolusi, dan nepotisme. Sementara itu penegakan hukum yang begitu urgen masih jauh dari harapan. Karena itu, dibutuhkan komponen pendorong supaya sistem yang bekerja bisa bekerja lebih baik. Kepada tiga komponen tadilah harapan itu.
Jika sinergisitas ini dianalogikan seperti sepakbola, maka ada semacam kerjasama antara para pemainnya yang pada akhirnya bertujuan untuk menciptakan sebuah gol. Barangkali akademisi dengan kekuatan analisis, teori, dan keahlian di bidang masing-masing bisa menjadi salah satu tenaga penggerak dan pertahanan. Energi yang dimiliki para intelektual kemudian dilanjutkan oleh aktivis LSM pada bagian tengah, dan baru kemudian giring para jurnalis sebagai penyerang sehingga mampu menghasilkan gol spektakuler. Ketika tiga komponen ini bisa searah, dengan berbagai strategi yang sinergis, isu atau agenda yang dijalankan bisa mencapai target yang diharapkan. Jadilah mereka tiga pendekar.
Pemikiran tentang sinergisitas ini barangkali didasari sebuah kenyataan bahwa selama ini, gerakan-gerakan yang dibangun, baik oleh aktivis LSM, jurnalis, maupun akademisi, terkesan berjalan sendiri-sendiri. Akademisi asik masuk di dalam kampus, LSM ”perang” sendirian, dan para jurnalis malah dibiarkan tanpa teman. Padahal sebenarnya, masing-masing sudah punya satu tujuan yang hampir sama menciptakan kondisi masyarakat yang lebih baik.
Namun di antara ketiga komponen itu, yang dirasakan kurang greget aksinya adalah akademisi. Sementara yang cukup banyak bergerak justru di kalangan LSM dan jurnalis. Sebagai kekuatan analisis, akademisi perguruan tinggi masih jauh dari harapan dan cenderung menjauh. Pandangan ini berdasarkan sebuah pemikiran bahwa selama ini para akademisi lebih banyak berdiam diri. Gerakan yang dibangun oleh para aktivis LSM dan kemudian diteruskan oleh jurnalis kebanyakan patah ditengah jalan ketika tidak ada kekuatan peyokong dari kaum akademisi. Jika pun ada nama-nama akademisi yang bisa diandalkan, itu tidak lebih dari hitungan jari. Dengan tidaknya sinergisnya gerakan itu, misalnya tidak adanya sebuah gerakan bersama yang terencana dan punya strategi jitu, gerakan sosial yang dibangun pun tak punya kekuatan yang menggigit.
Padahal tidak ada lembaga yang melebihi perguruan tinggi untuk soal banyaknya akademisi dan cerdik pandai di dalamnya. Perguruan tinggi bolehlah disebut sebagai sarangnya kaum intelektual. Tidak sedikit yang bergelar doktor dan profesor di dalamnya. Mereka berasal dari berbagai disiplin ilmu dengan tingkat kepakaran masing-masing. Ada yang ahli politik, ahli pertanian, ahli kehutanan ahli hukum, dan sebagainya. Idealnya, dengan situasi ini ada satu kekautan besar dalam soal pemikiran atau pemecahan masalah-masalah yang sedang mendera bangsa ini. Jika kaitannya dengan soal reproduksi ilmu pengetahuan, perguruan tinggi itu seyogyanya ini adalah makanan sehari-hari. Tentu ini dengan satu pemikiran, dengan semakin banyaknya penguasaan atas berbagai macam teori-teori yang bisa menjadi landasan untuk pemecahan masalah yang dihadapi bangsa.
Umpan matang dari para akademisi sangat dibutuhkan dalam membangun gerakan-gerakan kebudayaan misalnya, atau gerakan-gerakan intelektual. Sebagaimana juga kita ketahui bahwa selama ini akademisi belum menjalankan fungsinya dengan sebaik-baiknya.
Persoalannya para penguasa sering merayu kaum intelektual itu untuk mengegolkan kebijakan-kebijakannya. Kaum intelektual menjadi alat legitimasi kekuasaan, supaya apa yang mereka lakukan itu bisa diterima oleh masyarakat luas. Saya masih ingat ketika kebijakan kenaikan BBM diputuskan oleh pemerintahan SBY, sebagian kaum akademis dengan teori-teorinya kemudian menjadi pemikir utama untuk pengambilan kebijakan itu. Kemudian disajikan pula argumentasi-argumenasi ilmiah yang meyakinkan bahwa kebijakan pemerintah itu adalah keharusan.
Barangkali masih ingat dengan LPEM UI melakukan propagandanya dengan menurunkan berbagai hasil kajian. Ternyata kemudian hasil kajian dan analisi itu bertolak belakang. Sebut saja misalnya soal angka kemiskinan dan pengangguran. Disebutkan ketika awal kenaikan BBM dengan berbagai argumentasi dijelaskan bahwa kenaikan BBM bisa menurunkan angka pengangguran, namun setelah beberapa waktu, angka kemiskinan ternyata semakin meningkat. Tidak seperti yang diprediki oleh akademisi yang menjadi arsitek kebijakan pemerintah tersebut. Di sinilah kecurigaan saya muncul.
Namun demikian saya coba menepis kecurigaan itu dan berbaik sangka, ”Bukankah masih banyak kaum intelektual yang punya kredibilitas? Masih banyak pula kaum intelektual yang terus berjuang untuk perbaikan bangsa ini?” Namun mereka bergerak sendiri-sendiri, yang barangkali tidak cukup, karena yang dihadapi begitu besar.
Sinergisitas gerakan yang maksudkan di atas barangkali bisa menjadi satu masukan bagi tiga komponen tadi untuk terus melangkah. Dan nanti bila mereka bisa solid, akan banyak kekuatan pendukung lain yang bakal jadi sahabat! Semoga!

Bencana, Hukum Kausalitas, dan Murka Tuhan


Oleh: Heriyanto

Membicarakan hukum alam adalah membicarakan tentang hukum kausalitas (sebab akibat). Kita boleh membuka kembali lebar-lebar buku logika. Filosof Yunani Leucipos sekitar abad kelima pernah berkata: nihil fit sine causa (tidak ada satu peristiwa pun yang tidak mempunyai sebab). Kausalitas adalah terjemahan empiris dari modus ponen dalam logika Aristotelian yang berbunyi jika a maka b.

Kini 15 abad setelah ucapan Leucipos, kita terkesiap ketika bencana datang secara bertubi-tubi layaknya hamtaman badai pekat yang terus menggulung-gulung. Di tengah harapan akan sejuta kebaikan pada tahun 2007, kita justru menerima berita-berita yang menyedihkan. Belum selesai satu bencana tertangani, di daerah lain sudah muncul bencana lain. Terakhir, banjir melanda beberapa daerah di Indonesia, seperti Sambas dan Jakarta.

Mengacu pada Leucipos, kita bisa bertanya, bencana tentu tidak datang sama sekali lepas dari suatu sebab tertentu, bukan? Berbagai jawaban bisa saja diberikan. Ada yang lebih suka menjawab dari persoalan teologis, namun ada juga yang melihat dari kacamata logika (baca: sebab akibat). Jawaban teologis sering berbeda dari jawaban logika, terutama pada sebab suatu peristiwa terjadi dan bagaimana sebuah peristiwa itu dijelaskan.

Pak ustadz biasanya akan menjawab, bencana datang karena kemurkaan Tuhan pada manusia. Mengapa? Karena manusia telah banyak melakukan maksiat dan melanggar aturan-aturan Tuhan. Itulah teguran Tuhan pada manusia.

Sementara dalam logika, sebab sebagai sesuatu yang melahirkan akibat dibedakan menjadi dua: sebab yang mesti (necessary causa) dan sebab yang menjadikan (sufficient causa). Oksigen, misalnya, merupakan sebab adanya kebakaran. Tanpa adanya oksigen tidak mungkin kebakaran bisa terjadi, namun adanya oksigen tidak harus menimbulkan kebakaran. Ini yang disebut sebab yang mesti. Nah, kompor meledak adalah sebab yang menjadikan (sufficient causa) satu rumah terbakar (cermati buku Logika, Mundiri, 2003).

Untuk itu barangkali perlu ada satu garis lurus yang bisa menghubungkan antara dosa yang diperbuat manusia, datangnya bencana alam, dan kemurkaan Tuhan. Inilah yang saya coba bahas dalam tulisan ini. Dalam hal ini yang pertama perlu kita lihat adalah hubungan antara manusia dan alam. Pertanyaan kuncinya, bagaimana manusia memandang dan memperlakukan alam ini?

Ignas Kleden (1987) pernah mengulas persoalan ini. Menurutnya manusia itu tidak terikat dengan lingkungan. Manusia itu bersifat labil. Bila ikan punya habitat khusus di air, burung punya alam yang cocok baginya, dan orang utan yang jelas hidupnya hutan, sementara manusia pada dasarnya tidak punya tempat hidup spesifik seperti hewan tersebut. Maka manusia perlu membangun tempat hidupnya. Hutan, sungai, atau pantai, bisa berubah menjadi tempat tinggal manusia, hingga mengalami perkembangannya.

Bila hewan memiliki insting yang kuat yang bisa membantunya memahami gejala alam, manusia hampir sama sekali tidak memilikinya. Hewan mampu memanfaatkan alam, demikian pula pada manusia. Perbedaannya, jika hewan memanfaatkan alam secukupnya, manusia sering berlebihan karena memandang alam sebagai pemberian dan disediakan bagi manusia. Ada yang kemudian mengeruk kekayaan alam ini sebanyak-banyaknya. Jumlah manusia semakin bertambah, demikian pula kebutuhannya; dan alam pun semakin berubah. Sayangnya, peningkatan jumlah dan kebutuhan manusia ini tidak disertai dengan peningkatan kesadaran untuk menjaga alam lingkungannya.

Dalam buku Titik Balik Peradaban yang ditulis Fritjof Capra (1994) dijelaskan bahwa pengembangan teknologi dalam rangka mengejar produktivitas telah menyebabkan kerusakan ekologis. Menurut Capra, hal ini ada hubungan dengan pandangan yang dianut oleh para ilmuwan yang secara runtut lebih menekankan pikiran dan pandangan yang mekanistik ala Descartes dan Newtonian. Bahwa dunia materi dipandang sebagai kumpulan objek-objek yang terpisah yang dirakit menjadi sebuah mesin raksasa. Lebih ringkasnya, hewan, tumbuhan dan segala yang ada di alam sekitar kita ini adalah mesin-mesin yang bisa menghasilkan keuntungan ekonomis.

Ketika produksi dikejar dan konsumsi semakin meningkat, teknologi juga semakin ditingkatkan. Namun hal ini mengakibatkan ketidakseimbangan di alam ini, karena eksploitasi alam secara berlebihan.

Dalam sebuah sistem alam, bila ada satu kerusakan pada komponen A bisa saja berakibat pada komponen B, komponen B mempengaruhi komponen C, dan seterusnya. Kita bisa bertanya, mengapa banjir bisa terjadi? Karena air sungai meluap. Kenapa air sungai meluap? Karena air hujan yang turun tak mampu diserap oleh pepohonan. Mengapa tak mampu diserap? Sebagian besar pepohonan telah ditebang. Mengapa ditebang? Untuk dijual kayunya atau dibuat villa? Kenapa demikian? Untuk makan dan gaya hidup... Karena kebutuhan manusia semakin meningkat...Karena tak puas dengan sedikit harta...dst. Setiap sebab merupakan akibat dari sebab yang mendahuluinya.

Namun karena time of respons antara munculnya sebab dan akibat mengambil jarak yang lama sehingga manusia seringkali lalai. Orang baru sadar ketika banjir besar menghantam, padahal manusia sendirilah penciptanya. Nafsu dan keserakahan untuk menguasai alam ini telah membuat sebagian manusia melupakan kelestarian alam, melupakan bencana, melupakan bagaimana nasib anak cucu nanti. Karena ”maksiat” manusia inilah, mungkin Tuhan ”murka”.

Murka di sini bisa diterjemahkan sebagai peringatan bagi manusia. Bukannya Tuhan itu maha pemurah? Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan teologis tentu saja mengandalkan keyakinan masing-masing orang. Tiap orang punya tingkatan tertentu dalam meyakininya tergantung religiusitasnya.

Akan sulit, tentu, menentukan necessary causa dan sufficient causa dari pernyataan teologis. Namun yang jelas hukum sebab akibat adalah hukum Tuhan. Dan itu berarti teguran Tuhan via bencana yang terus mendera bangsa ini perlu segera kita sadari.

Kita tentu tidak ingin bangsa ini akan musnah suatu saat nanti karena bencana alam sudah begitu dahsyatnya? Kesadaran akan adanya hukum sebab akibat ini seharusnya membuat kita bisa lebih arif dalam memperlakukan alam. Itu artinya kepintaran manusia perlu disertai kearifan; tindakan manusia perlu disertai tanggungjawab dan etika; dan satu lagi: keimanan. Pertanyaan terakhir: Siapakah yang dapat melawan hukum Tuhan?


Dimabuk Pilkada

Oleh Heriyanto
Ada politikus yang jadi ustadz, ada gubernur yang hobinya safari, dan ada anggota DPR yang sering bikin iklan di koran. Mereka yang mulanya jarang ke masjid sekarang malah jadi penceramah, ditambah peci plus baju koko yang membuat mereka tampak lebih alim dan bijaksana. Ada juga yang suka keliling daerah menemui kalangan bawah, pasang muka ramah dan senyum seindah-indahnya yang bisa bikin orang terpikat. Sebagian lain rajin membagi-bagikan sembako dan paling sibuk menghadiri acara-acara yang ramai massanya, diliput media dan besoknya akan terpampang di halaman koran.
Meminjam istilah Yasraf Amir Piliang perilaku ini biasa disebut Nomadisme: sesuatu yang tidak tetap, berubah-ubah dari satu tempat ke tempat lain, dari satu bentuk ke bentuk lain, dari satu identitas ke identitas lain. Tentu saja perubahan ini tergantung kepentingannya. Belakangan apa yang disebutkan di atas sering muncul terutama sejak bangsa ini mulai dimabuk Pilkada.
Omong-omong soal demokrasi, apakah ini salah satu efeknya? Soalnya kita sudah terlanjur menyamakan demokrasi sama dengan pemungutan suara. Kalau sudah begitu, ini menjadi bahasan yang laris bak kacang goreng yang ujung-ujungnya tak lari dari persoalan cari-cari suara. Pokoknya kalah-kalah Indonesian Idol atau Akademi Fantasi.
Entah itu kepala desa, entah itu bupati, entah itu gubernur, sampai presiden sibuk dengan “kalkulator sosial” menghitung perkiraan dukungan. Siapa yang banyak suaranya, dia yang jadi pemenang. Tak peduli apakah dia itu moralnya paling bejat se-kabupaten, atau juara nomor wahid untuk soal korupsi se-propinsi. Menang kalah seorang kandidat sangat dimungkinkan terjadi karena kemampuannya mencitrakan diri secara baik. Citra jelek bisa saja ditutupi dengan citra baik. Walau pernah tersandung kasus korupsi, tetap saja bisa menampakkan muka lugu dan innocent (tanpa dosa) menjadi kontestan pilkada.
Kemampuan bermimikri layaknya bunglon adalah ilmu wajib dengan jumlah sks penuh.
Rakyat Indonesia yang sebagai besar tingkat kesadarannya adalah naif bakal jadi bulan-bulanan pencari suara. Diimingi macam-macam, dijanjikan ini itu, dan seterusnya. Rakyat dibuat terkesima dengan segala macam retorikanya. Di kalangan rakyat kecil si kontestan akan sering bicara soal hak-hak wong cilik, di depan masyarakat dengan latar belakang religius dia akan berubah jadi pengkhotbah, di tempat lain dia jadi santa klaus yang membagi-bagikan bingkisan. Padahal kalau sudah terpilih ya sama saja, bikin kaya diri sendiri. Janji manis akan menguap begitu saja ke udara.
Kata orang, pemilihan langsung adalah kemenangan demokrasi. Dulu waktu jaman Jenderal Soeharto berkuasa, alih-alih ada pemilihan presiden atau gubernur secara langsung, orang belum mencoblos pun, Golkar sudah dipastikan menang dan sudah siap dengan calon presidennya. Sementara MPR jadi tukang ketok palunya. Sekarang sebaliknya, tidak pas rasanya jika tidak pakai pemilihan langsung. Walau akhirnya si kaum elit itu jadi lebih banyak mengurus kampanye ketimbang memikirkan bagaimana menyejahterakan rakyatnya.
Kita ini sudah terperangkap pada demokrasi prosedural. Demokrasi jadi murah meriah yang diobral ke sana kemari. Kalau dulu pemilihan umum hanya sekali dalam 5 tahun, sekarang ini malah tidak terhitung lagi. Di desa, di kabupaten/ kota, dan di tingkat propinsi ribut-ribut pemilihan langsung. Entah berapa banyak energi dan anggaran yang mesti disediakan untuk pesta demokrasi ini. Tapi sudahlah! Demi demokrasi.
Tapi apa iya pemilihan langsung selalu bisa membawa konsekuensi terpilihnya pemimpin yang cakap dan bisa membawa perubahan? Atau salah-salah malah kita dapat pemimpin yang salah seperti Durna? Ada teman yang berceloteh, siapapun yang terpilih sama saja, karena kita memilih yang terbaik dari pilihan yang buruk. Masak iya seperti itu?
Demokrasi bisa saja seperti pisau atau bisa seperti pistol. Pisau bisa untuk mengiris bawang, tetapi bisa juga untuk membunuh. Demikian pula pada pistol, yang bisa dipakai polisi untuk menangkap penjahat. Namun pisau dan pistol bisa juga dipakai penjahat untuk merampok. Sindhunata pernah mengibaratkan kelahiran demokrasi sama sakitnya dengan proses persalinan seorang ibu. Betapa sulitnya membangun demokrasi, karena di sana beragam persoalan bakal muncul.
Bagaimanapun ketika demokrasi dijalankan banyak perubahan (baik) yang kita rasakan. Namun yang saya takutkan kita ini terperangkap dalam euforia demokrasi, sehingga melupakan substansi dari demokrasi. Kalau dengan demokrasi justru rakyat makin miskin atau dengan demokrasi kita mendapatkan pemimpin yang buruk, kita perlu menimbang ulang demokrasi kita. Boleh jadi kita merasa apa yang sudah kita lakukan sebagai bagian dari demokrasi, tetapi sebenarnya yang kita lakukan hanya di kulit luarnya saja.
Ibarat membuat pecel, inginnya kita membuat pecel yang enak dan cespleng seperti bikinan bibi-bibi yang jarang dibicarakan dalam hajatan nasional, eh jadinya malah bubur pedas. Ada yang orang yang sejak awal telah berjuang keras supaya demokrasi bisa berjalan sesuai koridornya, eh di tengah jalan ada saja orang justru memanfaatkannya untuk kepentingan diri sendiri, perut sendiri, partai sendiri.
Kalo sudah terperangkap dalam kubangan ini! Duh susahnya! Rakyat banyak yang busung lapar, eh para elit sibuk cari suara. Rakyat banyak yang kelaparan, eh dia malah enak-enak safari ke mana-mana. Isu-isu kerakyatan bergeser ke isu-isu pilkada, partai-partai politik ramai-ramai bikin hajatan khusus menyongsong Pilkada. Kita sudah berdemokrasi? Ah pusing!