Monday, December 12, 2011

Sang Penjaga Hutan


Oleh Heriyanto, Bengkayang


Damianus Nadu berjalan cepat masuk ke dalam hutan. Sesekali dia menebaskan parangnya, membuka jalan agar mudah dilalui. Dedaunan masih basah oleh hujan semalam. Sepanjang perjalanan, suara burung terdengar bersahutan di dalam hutan lebat yang berisi pohon-pohon besar tinggi menjulang.

Hutan inilah yang dijaga oleh Damianus Nadu, 47 tahun seorang bekas pembalak liar yang berinisiatif mempertahankan hutan adat seluas 200 hektar itu. “Ini demi anak cucu nanti. Saya telah banyak melihat banyak sekali hutan yang menghilang oleh perusahaan kayu. Saya khawatir dan kasihan sekali melihat anak cucu nanti. Jika mereka mengenal jenis-jenis tanaman seperti bengkirai, kapur dan lain sebagainya, mereka hanya mengenal nama saja,” ujar warga Desa Sahan, Kecamatan Seluas, Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat ini.

Sunday, December 11, 2011

Tato Dayak, Kunci Menuju Surga


Oleh Heriyanto, Kapuas Hulu 

Di sebuah rumah panjang, rumah tradisional suku Dayak, Ganim (60) membuka baju dan memperlihatkan Tato yang memenuhi hampir seluruh bagian tubuhnya, mulai punggung, dada, tangan, kaki, hingga leher. Punggung adalah bagian tubuh yang paling banyak dipenuhi tato.

Bentuk tato di tubuh Ganim beragam. Ada yang bergambar bunga, bulatan, hewan, atau symbol mata angin. Beberapa bentuk tato terlihat aneh. Misalnya saja gambar burung garuda dan di atasnya ada tulisan Singapura. Tato lain yang juga cukup unik adalah gambar pesawat terbang. “Banyak yang bertanya pada saya apa arti tato saya ini,” ujar tokoh masyarakat Dayak Iban di Desa Kelawik, Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat ini.

The Story Of Tatung

Pagi itu, lebih dari 700 Tatung melakukan arak-arakan mengitari jalan-jalan utama di pusat Kota Singkawang, Kalimantan Barat. Warga Tionghoa percaya, Tatung bisa membersihkan kota dari segala marabahaya dan mendatangkan rezeki. Meski memiliki keistimewaan, hidup sebagai Tatung tidaklah enak untuk dijalani. Tapi mereka tak bisa menolak apa yang sudah diwajibkan pada mereka.

Oleh: Heriyanto, Singkawang

Sebelum melakukan arak-arakan, para Tatung berdoa di kelenteng mereka masing-masing. Bau setanggi atau dupa menyeruak di sekitar kelenteng. Lilin-lilin besar berwarna merah, menyala sepanjang hari.

Memburu Ringgit di Kebun Sawit

Cerita mengenai pekerja perkebunan sawit asal Indonesia di Malaysia jarang sekali terdengar. Padahal jumlah mereka mencapai 80 persen dari total pekerja asing di sektor itu. Peranan pekerja Indonesia ini sangat penting bagi perkembangan ekonomi Malaysia. Namun sebagian besar pekerja itu hidup di daerah pelosok di camp-camp pekerja. Gaji kecil dan hidup tanpa fasilitas memadai.

Oleh Heriyanto-Kuala Lumpur, Kuching, dan Entikong

Sore yang cerah itu mobil kami mulai memasuki perkebunan sawit yang luas di kawasan Pekan Semunjan, Negara Bagian Serawak, Malaysia. Semua ruas jalan di perkebunan itu terlihat serupa dan dimana pohon-pohon sawit berdiri rapi di kanan dan kiri jalan. Ini seperti memasuki sebuah labirin, keliru mengambil jalan alamat akan tersesat.

Indigenous People's Community Radio in West Borneo


This community radio is very simple, with no sophisticated equipment such as computers or laptops. A VCD player is used to broadcast songs, drama, and other programmes. But despite its simple operation Radio Sunia Nawangi has got a lot of listeners.

Radio Sunia Nawangi was founded eight years ago and is located in Tunang village in Bengkayang district in West Kalimantan, Indonesia. People in this region have limited access to information be it television or radio. The existence of Radio Sunia Nawangi has helped people gain access to information.

Want Cheap Health Care? Protect Your Forests


Want to get a discount on your medical bills? Well make your your village is not involved in any illegal logging activities. That’s the rule at the sustainable nature Asri Health Clinic, located near a National Park in West Kalimantan on the Indonesian island of Borneo. Reporter Heriyanto takes us deep into the jungle to see how clinic enforces this rule.

Saturday, December 10, 2011

Border School Gives Hope to Indonesian Migrant Workers

Children of Indonesian migrant workers in Malaysia are missing out on an education. They don’t have the documents needed to go state run schools and they can’t affroad private education. As a result many fall victims to human traffickers.


To fill this gap, a school has been set-up in Entikong-on the Malaysian-Indonesian border on the Island of Borneo.  As Heriyanto found out the owners of school pick the children up from remote areas of Malaysia.

Monday, March 16, 2009

Penghargaan Pesona Pariwisata Indonesia


Saya bersyukur, beberapa waktu lalu liputan saya berjudul Wisata di Titik Kulminasi yang disiarkan Kantor Berita Radio 68H memperoleh penghargaan dari Departemen Kebudayaan dan Pariwisata dalam Anugerah Pesona Pariwisata Indonesia. Meski hanya juara 3 saya senang. Ini di luar ekspektasi saya.


Kalau dirunut, liputan ini memang tak diniatkan dibuat untuk dilombakan. Citra Prastuti, Editor Program Saga di 68H yang mengusulkannya. Liputan ini bercerita tentang peristiwa hilangnya bayangan matahari di sekitar Tugu Khatulistiwa yang terjadi setiap 21-23 Maret dan September. Meski di siang bolong, benda-benda tegak di sekitar Tugu mendadak kehilangan bayangan. Menurut para ahli, saat itu matahari berada tepat di garis lintang 0 derajad.


Friday, January 23, 2009

Liukan Para Naga


Keringat di wajah Wendy belum sempat dibersihkan. Baju kaosnya juga tampak basah. Segelas air minum dengan cepat dihabiskannya. Wendy tampak kecapean. 


Malam itu, Wendy dan teman-temannya di Yayasan Budhi Agung baru selesai latihan. Sebentar lagi perayaan Imlek datang. Mereka harus siap-siap. Berlatih sekuat tenaga agar tarian barongsai mereka layak dipertunjukkan. 

Tuesday, January 13, 2009

Geliat Self Publishing


Belakangan ini penerbitan buku di Pontianak mulai menggeliat. Kemunculan beberapa penerbit independent atau biasa disebut self publishing di Pontianak, cukup memberi ruang bagi para penulis lokal untuk menghasilkan karya. Tentu saja ini kabar gembira, mengingat selama ini dalam penerbitan buku masih condong pada “Jawa”. Sementara nuansa “Pontianak” sendiri belum banyak digarap dan dijadikan wacana.

Di Pontianak ada beberapa self publishing yang cukup intens dalam penerbitan buku, sebut aja Pijar Publishing, Literer Khatulistiwa, dan Kitara Creativision. Meski tentu saja frekuensi penerbitannya masih kalah ketimbang kota lain yang selama ini jadi “induk” perbukuan di Indonesia, tapi semangat mereka dalam menghasilkan karya cukup menggembirakan. Beragam tema digelontorkan, mulai dari novel, antologi cerpen  dan puisi hingga biography.