Oleh Heriyanto, Bengkayang
Damianus Nadu berjalan cepat masuk ke dalam hutan. Sesekali dia menebaskan parangnya, membuka jalan agar mudah dilalui. Dedaunan masih basah oleh hujan semalam. Sepanjang perjalanan, suara burung terdengar bersahutan di dalam hutan lebat yang berisi pohon-pohon besar tinggi menjulang.
Damianus Nadu berjalan cepat masuk ke dalam hutan. Sesekali dia menebaskan parangnya, membuka jalan agar mudah dilalui. Dedaunan masih basah oleh hujan semalam. Sepanjang perjalanan, suara burung terdengar bersahutan di dalam hutan lebat yang berisi pohon-pohon besar tinggi menjulang.
Hutan
inilah yang dijaga oleh Damianus Nadu, 47 tahun seorang bekas pembalak liar
yang berinisiatif mempertahankan hutan adat seluas 200 hektar itu. “Ini demi
anak cucu nanti. Saya telah banyak melihat banyak sekali hutan yang menghilang
oleh perusahaan kayu. Saya khawatir dan kasihan sekali melihat anak cucu nanti.
Jika mereka mengenal jenis-jenis tanaman seperti bengkirai, kapur dan lain
sebagainya, mereka hanya mengenal nama saja,” ujar warga Desa Sahan, Kecamatan
Seluas, Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat ini.





