Thursday, August 28, 2008

Menulis Artikel Opini

“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama dia tidak menulis dia akan hilang dari masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.
(Pramoedya Ananta Toer dalam Khotbah Dari Jalan Hidup)

-verba valent, scripta manent-
Bahwa kata-kata cepat hilang, tulisan abadi

Saya terngiang-ngiang dengan ucapan Pramoedya Ananta Toer, tokoh besar Indonesia yang sudah wafat itu, yang pernah dibuang ke Pulau Buru selama puluhan tahun itu. Sepandai-pandai orang, kalau dia tidak menulis akan hilang dalam masyarakat, juga dalam sejarah. Hilang berarti tak eksis, dan itu bertanda nilai kemanusiaan kita dipertanyakan. Ergito ergo sum kata petuah kuno (saya berpikir maka saya ada). Lantas berpikir macam apa? Dan bagaimana orang tahu bahwa kita berpikir?



Menulis adalah tingkat keseluruhan dari berpikir itu. Anda tak akan bisa menulis tanpa berpikir. Berpikir menjadi sebuah tanda yang dengan itu eksistensi sebagai manusia menjadi ada. Namun dalam periode sejarah panjang manusia, berpikir saja tidak cukup. Manusia masih perlu menuangkan pemikirannya dalam bentuk kata, simbol-simbol, dan akhirnya abjad-abjad yang membentuk sebuah tulisan. Manusia berpikir dan kemudian menuangkan hasil pemikirannya itu ke dalam bentuk tulisan. Tulisan itu akan terus hidup. Perabadan manusia terus berjalan dan terus melanjutkan apa yang disampaikan pendahulunya lewat berbagai tulisan. Setiap waktu berganti, dan tulisan-tulisan yang dibuat kemarin atau hari ini akan menjadi sejarah bagi masa datang. Dan kini anda semua akan menjadi bagian dari sejarah, karena anda akan menulis.

Menulis secara sederhana

Dalam surat kabar tidak hanya memuat tulisan berbentuk berita, namun juga memuat tulisan opini. Tulisan opini berbeda dari berita, jika berita berlandaskan pada fakta, opini adalah hasil ide, gagasan, dan pendapat dari penulis. Penulisnya bebas untuk mengemukakan pendapat yang disertai argumen untuk meyakinkan pembaca. Jika berita perlu wawancara, penulisan opini tidak harus begitu. Tulisan opini bebas saja. Namun tulisan yang disampaikan haruslah tetap menyampaikan kebenaran.

Banyak hal bisa menjadi bahan tulisan opini. Mulai dari masalah social, politik, sampai kebudayaan. Setiap penulis memiliki pemahaman dan kemampuan yang berbeda-beda tentang suatu masalah, maka sebaiknya menulis sesuai apa yang kita pahami. Jangan memaksakan kehendak untuk menulis yang terlampu sulit dan tidak bisa kita jangkau. Menulislah dengan sederhana dan dari persoalan keseharian kita. Misalnya saja ulasan soal bagaimana menjadi guru yang baik, menulis kenaikan bahan bakar minyak yang menyengsarakan rakyat kecil, menulis tentang bencana dan lain sebagainya.

Dengan menulis yang sederhana dan mudah dipahami itu orang yang membacanya akan bisa menerima dengan nyaman. Bagi anda yang baru belajar untuk menulis opini, sering-seringlah berlatih dan membaca berbagai macam tulisan opini. Semakin sering membaca kita bisa semakin mengerti bagaimana bentuk tulisan opini yang baik. Dan tentu saja kemampuan itu perlu diasah supaya lebih mahir. Namun yang terpenting jangan pantang menyerah. Dengan usaha yang keras, setiap orang bisa menulis opini dengan baik.

Informasi
Tulisan opini yang baik harus berisi informasi yang cukup. Bila kita ingin menulis tentang kenaikan bahan bakar minyak misalnya, kita harus paham tentang tentang itu. Kita perlu menggali informasi dari orang lebih paham, bisa bertanya dengan yang punya keahlian di bidangnya. Sehingga apa yang kita tulis memang benar-benar pas dan sesuai. Dengan menguasai informasi itu kita akan lebih mudah menuangkannya ke dalam tulisan. Atau bacalah buku, artikel, atau tulisan-tulisan yang mengupas persoalan itu.

Siapa saja bisa jadi sumber informasi kamu. Mereka mungkin sebagian besarnya jarang menulis tapi punya ilmu yang banyak. Manfaatkan itu. Seraplah ilmu mereka, dan kemudian bisa kamu racik menjadi sebuah tulisan.

Penting dan Berdampak

Tulisan yang baik memiliki dampak pada pembaca. Dia mengingatkan pembaca pada sesuatu yang mengancam kehidupan mereka, kesehatan, kemakmuran maupun kesadaran mereka akan nilai-nilai. Tulisan memberikan informasi yang ingin dan penting diketahui pembaca.
Kita tidak hidup dalam sangkar. Kita hidup dalam dunia yang luas. Di luar sana banyak hal yang perlu kita kritisi. Tentang pendidikan yang morat marit, bangunan SD yang semakin banyak yang roboh, korupsi di dunia pendidikan, indeks prestasi manusia kalbar yang rendah. Tema itu akan menjadi hal yang sangat gurih untuk diolah. Selezat kuliner. Maknyus.

Tulisan akan lebih kuat dampaknya bagi masyarakat. Karena dia merasuk secara diam-diam. Seperti darah yang mengalir ke sekujur tubuh. Pelan. Pelan. Tapi pasti. Ketika kamu berbicara audiens kamu mungkin 1 orang, 10 orang, 20 orang, tapi akan sulit sampai ratusan. Tapi bila kau menulis dan dimuat di koran misalnya, akan ada ribuan orang yang membaca. Dan bila tulisan itu signifikan maka akan membantu mengubah keadaan.

Konteks


Sesuaikan tulisan dengan apa yang sedang terjadi saat ini. Lihat sekeliling kita berbagai macam persoalan yang perlu diangkat. Adakah yang bisa kita perbaiki dan apa yang semestinya kita lakukan. Dengan mengamati sekeliling kita, kita akan tahu bahwa ada sesuatu masalah yang perlu kita perbaiki.

Kita selama ini terlalu banyak diam, dan sibuk dengan diri sendiri. Sibuk dengan kepentingan kita, sibuk dengan lingkungan sendiri. Tapi kini cobalah untuk menjadi bagian dari masyarakat luas. Kamu akan menjadi milik masyarakat. Karena kamu seorang penulis.

4 comments:

Diar Adhihafsari said...

heri, ini Diar

lama gak di-update nih blog-nya

oya, aku nge-tag heri di:

http://deardiar.wordpress.com/2008/11/13/10-facts-about-me/

her said...

iya emang udah lama banget aku gak nulis...

okekhhhhh

Anonymous said...

piye kabare bro... hilang di telan bumi ke? (F MAn)

heri said...

lagi melanglang buana bro, masuk ke dalam samudra dan mendaki sebukit menoreh. mencari sesuatu yang ada dalam hati sanubari bro!!!!