Sunday, August 24, 2008

Emak


Rasanya tidak ada yang melebihi emak dalam mengajariku hidup dan kesederhanaan. Walaupun dengan kondisi ekonomi pas-pasan, emak mengatur ritme hidup ini dengan sewajarnya. Dia sering terlihat kecapean ketika pulang dari sawah atau ketika baru pulang dari pasar menjajakan hasil kebun, namun ia lalui itu dengan sabar. Pergi pagi, pulang sore hari. Dari wajahnya aku bisa melihat bagaimana capeknya emak.

Waktu kecil emak biasanya akan mengajakku ke ladang. Di ladang ada sebuah gubuk yang jadi tempat berteduh bila matahari kian panas menyengat. Aku suka bermain-main di gubuk itu. Bila emak sedang bekerja, aku sibuk berlari ke sana kemari mengejar belalang. Aku suka menangkap belalang yang besar untuk kemudian aku bakar untuk dimakan. Rasanya cukup enak.


Di gubuk tersedia makanan yang enak-enak yang emak bawa dari rumah. Biasanya ubi rebus, tela goreng, atau tiwul. Aku suka tiwul yang diberi parutan kelapa dan ditambah gula pasir. Seingatku makanan itu terasa enak sekali meski sangat sederhana. Barangkali karena saat itu hanya makanan itu yang ada, apalagi ditambah perut sudah lapar. Emak juga akan membawa berbagai makanan kudapan dalam rantang. Biasanya berisi nasi putih, sayur serta lauk. Di siang hari, kami memakannya bersama-sama. Meski sederhana, makanan ini sangat mengesankan. Aku selalu mengingatnya hingga kini.

Saat kecil itu aku ingat emakku sudah menanamkan nilai–nilai keagamaan. Emak memang tidak bergelar pendidikan tinggi, emak juga bukan seorang cerdik pandai dalam hal agama. Emak hanya seorang yang menjalankan agama dengan sederhana. Sangat sederhana. Waktu umurku 6 tahun emak mulai mengenalkanku hafalan surat-surat pendek. Aku kemudian mengaji Alquran kepada Mbahku di malam hari. Mbah juga mengajari soal hidup yang lurus.

Waktu kecil aku pemalu dan minder. Aku nggak berani bila jauh-jauh dari ibuku. Kemana pun ibu pergi aku akan selalu ikut. Biasanya setiap bepergian aku akan selalu menggamit tangan ibuku. Umur 7 tahun ibu mendaftarkanku sekolah dasar. Itu yang paling kutakuti. Kalau sekolah aku tentu tak bisa ikut emak ke ladang.

Pertama kali masuk sekolah seperti berada dunia yang sangat asing. Rasanya malu bertemu dengan orang-orang yang baru dikenal itu. Proses adaptasiku cukup lama. Di hari-hari pertama emak masih mengantarku sekolah. Namun begitu prestasiku terus saja melejit. Aku selalu mendapatkan rangking pertama di kelas. Bahkan untuk tingkat kecamatan aku tergolong unggul. Guru-guruku bilang, aku siswa yang cerdas. Nilai ulangan matematika antara 9 dan 10. Jarang di bawah itu. Pernah juga aku mengerjakan soal betul semua. Tapi ternyata kunci jawaban soal yang salah. Aku akhirnya hanya mendapatkan nilai 9,8. Aku protes pada bu guru, tetapi tetap tak mengubah nilaiku.

Tamat SD aku melanjutkan sekolah di SMP Sui Durian- kini SMP 3 Sungai Raya. Sama seperti di sekolah dasar aku juga selalu memperoleh nilai yang memuaskan. Bahkan aku selalu juara umum. Di sana mulai jadi aktifis mushalla. Bahkan aku punya teman-teman karib yang sering diskusi masalah keagamaan. Saat itulah minat bacaku begitu tinggi. Aku bisa menghabiskan waktu berjam-jam untuk membaca buku. Aku paling suka baca novel sufistik dan novel tentang detektif.

Tamat SMP, nilaiku cukup baik. Aku sangat ingin melanjutkan ke SMA Taruna. Sekolah ini memang menjadi idamanku, karena cukup bergengsi. Aku pun mendaftar ke sekolah tersebut. Secara akademis aku lulus. Aku lulus beberapa tahap seleksi. Namun pada tes kesehatan aku gagal.

Kecewa, tentu. Akhirnya mendaftar di sekolah lain. Pamanku mengantarku ke SMA 1 Sungai Raya. Dengan segala kekecewaan itu aku lampiaskan dengan menjadi aktivis sekolah. Aku jadi ketua Osis, Pramuka, mendirikan Paskibra, dan Remaja Masjid.
Aku cukup populer saat itu. Beruntung di SMA aku mendapatkan beasiswa sehingga bisa kutabung. Meski sibuk di organisasi aku masih tetap juara umum di sekolah. Pernah juga aku memperoleh juara 1 Olimpiade biologi tingkat kabupaten Pontianak. Aku berhasil mengalahkan SMA Taruna.

Sambil sekolah aku tetap mencari rumput untuk sapiku. Usaha ini sudah aku jalani sejak SD. Ya biasa orang kampung mesti kerja keras. Dari kecil sudah diajari untuk kerja keras dan berani untuk bertanggung jawab. Hidup mandiri membuatku mampu bertahan dari beban berat itu.

Ketika SMA Bapak mulai sakit-sakitan. Maklum sudah lumayan tua. Aku merasa bimbang. Jelas aku tak bisa mengharapkan bapak untuk terus membiayai sekolahku. Aku sering berdoa di Masjid. Aku merasa tenang sekali. Aku berdoa dan terus berdoa.

Tamat SMA sebenarnya aku ingin kuliah di salah satu perguruan tinggi negeri Jawa. Tapi apa mau dikata, orangtua memang tak mampu untuk membiayai kuliahku. Aku memang punya cita-cita yang cukup tinggi tapi keterbatasan itu membuat aku mengurungkan niatku.

Untungnya, ini mungkin berkat doa ibuku, aku menerima beasiswa yang lebih dari cukup untuk membiayai kuliahku di Universitas Tanjungpura. Aku mendapatkan satu paket beasiswa dari panitia dari beberapa lembaga. Syaratnya, nilai rata-rata Matematika dan bahasa Inggrisku tidak kurang dari 7. Aku sangat bersyukur waktu itu.

Awal kuliah aku menggunakan sepeda balap. Perjalanan dari rumah ke kampus sekitar 1,5 jam. Jaraknya sekitar 20 KM meter. Memang sukup jauh. Tapi waktu itu aku benar lakukan dengan senang hati. Ngongkel sepeda bukan hal yang aneh bagiku.Dengan kondisi keuangan yang seadanya aku memang mesti bisa bertahan hidup. Aku harus mencapai apa yang aku inginkan. Dalam masa-masa sulit itu aku mesti ekstra supaya aku bisa tetap kuliah. Aku sambilan mengajar privat ke beberapa anak. Jangan tanya bagaimana aku mesti mengatur duit yang aku punya.

Di kampus aku mulai aktif di berbagai lembaga, termasuk lembaga dakwah. Semester 1 bahkan aku punya kelompok pengajian tersendiri. Aku ikut kegiatan Badan Kerohanian Mahasiswa Islam. Pernah ikut pelatihan manajemen dakwah. Bahkan sempat jadi mentor pengajian.

Suatu ketika aku melihat pengumuman penerimaan Lembaga Pers Mahasiswa Untan. Saat itu tahun 2003, coba-coba, aku mendaftar. Pikirku dalam hati, kalo bisa menulis aku akan bisa mengirim tulisan ke media massa. Awalnya aku memang tidak terlalu aktif, karena aku masih aktif di HMJ dan di dakwah. Tapi akhirnya malah keterusan

Di LPM Untan lah aku belajar banyak hal. Hingga aku tahu liku-liku yang cukup mengasikkan. Menulis, turun ke jalan, aktifitas di gerakan, diskusi, dan sebagainya. Di aktivitas gerakkan aku intens di Jaringan Mahasiswa Kalimantan Barat. Sementara untuk menyambung hidup aku bekerja di beberapa media. Ya bekerja sambilan agar bisa mendapatkan pendapatan buat kuliah dan hal-hal lain. Seperti yang terus dilakukan emak, dia bekerja dengan sabar, aku pun ingin bekerja dengan sabar dan berharap akan mendapatkan hal yang terbaik.

Kini emak semakin tua. Namun dia masih tetap bekerja keras. Aku merasa belum bisa memberikan apa-apa untuknya. Emak bilang pengin lihat aku dapat pendamping hidup yang baik dan solehah. Ini yang paling berat untuk diwujudkan. Tapi kuharap suatu ketika bisa mewujudkan keinginan emak ini. Kuingin membahagiakan emak.

Semoga saja
Amin...

No comments: