Tuesday, April 3, 2012

Cerita tentang Sekolah di Pedalaman


Oleh Heriyanto, Kapuas Hulu

Lidia Lahe berkali-kali melongok keluar pintu. Tapi yang ditunggu-tunggu tak juga datang. Padahal pagi itu jam sudah menunjukkan pukul 7.30. Perempuan muda itu lantas keluar ruang kelas dan berdiri di jalan masuk menuju sekolahan. ”Beginilah di sini. Guru harus sabar menunggu murid datang,” kata Lidia tentang siswanya yang sering terlambat masuk sekolah, awal Maret lalu.

Tak berapa lama beberapa anak yang ditunggu nongol dari ujung jalan. Lidia meminta mereka untuk langsung masuk kelas. Anak-anak berseragam pramuka dan kebanyakan tak bersepatu itu bergegas masuk ke ruangan. ”Kalau tidak kita suruh masuk, bisa-bisa mereka malah bermain di halaman,” tambah Lidia yang masih menunggu beberapa siswa lain-- yang tak beberapa lama kemudian muncul. 

Lidia Lahe adalah guru di SDN 16 Nanga Hovat. Nanga Hovat adalah sebuah dusun yang terletak di Pedalaman Kapuas Hulu, Kalimantan Barat. Jaraknya ribuan kilometer dari Pontianak dengan waktu tempuh sekitar 20 jam perjalanan. Dusun ini dihuni 44 kepala keluarga.

Dari ibukota Kabupaten Kapuas Hulu, Putussibau, perjalanan menuju ke dusun ini hanya bisa dicapai dengan menggunakan jalur sungai. Tak ada jalan darat yang menghubungkan daerah ini dengan dunia luar. Alat transportasi yang biasa dipakai adalah perahu kayu yang dilengkapi dengan mesin motor atau biasa disebut mesin tempel. Nanga Hovat sendiri merupakan dusun terakhir sebelum benar-benar masuk ke hutan belantara di kawasan Taman Nasional Betung Kerihun.

Sekolah ini hanya memiliki 2 orang pengajar: Lidia Lahe, guru sekaligus kepala sekolah dan Marselinus Hajang, guru olahraga. Total siswa hanya 21 orang saja. Kelas I ada 4 siswa, kelas II ada 5 siswa, kelas III ada 4 siswa, kelas IV ada 1 siswa, kelas V ada 3  siswa, dan kelas VI ada 5 siswa.

Tak ada yang benar-benar betah mengajar di sini. Sebelumnya ada satu guru honor, namun sekarang tidak mengajar karena sakit-sakitan. Maka praktis, Lidia Lahe harus menangani semua kelas. Marselinus Hajang yang seorang guru olahraga membantu Lidia mengajar materi apa saja. Mereka membagi tugas. Lidia mengajar kelas 4, 5 dan 6 dan Marselinus Hajang sisanya.

Sulit membayangkan bagaimana satu ruangan diisi oleh 3 kelas. Tak ada dinding atau sekat yang memisahkan masing-masing kelas. ”Saat saya menjelaskan pelajaran kelas 6, siswa kelas 4 dan 5 juga ikut mendengarkan,” cerita perempuan lulusan Pendidikan Guru SD ini. Meski begitu, dalam berbagai obrolan, tak ada sama sekali pesimisme yang ditampakkan Lidia Lahe.

Marselinus Hajang (25) yang sudah setahun mengajar di sekolah ini sudah merasakan betapa sulitnya mengajar di daerah pedalaman. “Di sini siswa kurang termotivasi untuk belajar,” ujarnya. Hajang bercerita, anak-anak sering diajak orang tuanya berburu, mencari ikan, atau pergi berladang. Akhirnya siswa jadi sering bolos sekolah.

“Dukungan orangtua memang kurang. Mereka tak menganggap sekolah anak-anaknya penting,” ujar Hajang. Terkadang ada saja orangtua yang datang ke sekolah meminta ijin supaya anaknya bisa ikut mereka ke ladang.

Pemuda setempat, Kaban mengatakan, kebanyakan orangtua mereka memang tak tamat sekolah dasar. Karena itu pandangan mereka tentang nilai penting pendidikan juga tidak begitu luas. ”Ya di sini kan kebanyakan orang ke hutan. Cari babi, ikan, rusa. Pemikirannya ya seputar itu saja,” ujar pemuda 25 tahun ini.  

Dusun Nanga Hovat dihuni oleh Suku Bukat. Mereka sangat tergantung dengan kemurahan alam. Mereka berburu, mencari ikan dan mengumpulkan berbagai hal dari hutan. Cocok tanam dilakukan dengan sistem berladang berpindah. Semuanya diajarkan secara turun temurun, namun tidak memerlukan tingkat pendidikan yang tinggi.

Namun di masa mendatang hutan tampaknya tak akan bertambah luas. Alam tentu saja tidak akan semurah beberapa tahun sebelumnya. Pak Narok, tokoh masyarakat setempat, misalnya, membandingkan sepuluh tahun lalu dengan saat ini. ”Dulu kami bisa dengan mudah mendapatkan ikan atau babi hutan. Tapi sekarang sudah jauh berkurang,” ujarnya saat ditemui sedang beristirahat di ladangnya. Dari apa yang dibicarakannya, terbersit sebuah kekawatiran akan situasi di masa depan yang mungkin akan jauh lebih sulit.

Atas dasar pemikiran inilah, barangkali, yang membuat Pak Narok menjadi warga pertama di kampung itu yang memecahkan rekor mampu menyekolahkan anak hingga bangku SMA. ”Anak saya sekolah di kota. Saya harap dia mampu menjadi orang pintar,” harap pria setengah baya ini.  

Menurut Lidia Lahe, anak-anak harus sekolah supaya bisa membangun desa mereka. ”Kearifan lokal tidak boleh hilang, namun pengetahuan formal juga penting.”

Marselinus Hajang yang lulusan Sekolah Tinggi Keguruan Ilmu Pendidikan di Pontianak sebenarnya bisa saja memilih mengajar di kota, tapi dirinya justru merasa lebih tertantang mengajar di pedalaman. ”Saya merasa lebih dibutuhkan di sini,” ujarnya. Hajang tentu saja harus menerima segala resiko atas apa yang diputuskannya: tinggal di rumah dinas yang kecil dan reot, tak ada listrik, tak ada televisi, dan tak ada sinyal telepon. 

Meski Hajang adalah guru olahraga, dia harus juga mengajar bahasa Indonesia, matematika, ilmu pengetahuan alam, atau sejarah. Dia bahkan harus mengajar agama. 

Pagi itu, Hajang mengajar matematika. Dia bertanya pada para siswa. ”Anak-anak, satu ditambah satu berapa?” Dengan serempak anak-anak menjawab, ”Dua, Pak”. Tiba-tiba ada satu siswa yang menunjuk tangan. Dengan polos dia menjawab, ”Kalau saya tiga, Pak!” Anak menunjuk tangan itu duduk di kelas 2.

Lidia Lahe mengatakan kemampuan siswa di sana memang sangat lemah. Hal ini tentu saja karena jumlah guru yang kurang sehingga pengajaran tidak maksimal. ”Kami butuh sekali tambahan guru,” ujar Lidia. 

Beberapa waktu lalu Lidia mendapatkan kabar gembira. Ada satu guru yang akan ditugaskan mengajar di sana. Seorang perempuan. Tapi bukannya si guru yang muncul, tetapi ayah si calon guru itu yang datang untuk memeriksa apakah tempat itu layak bagi anaknya atau tidak. ”Setelah Bapak itu pulang, si guru tak pernah muncul.”

Pagi itu, perempuan 29 tahun ini akan memberikan try out atau ujian percobaan bagi siswa kelas 6. ”Sebentar lagi mereka ujian. Jadi saya ingin lihat kemampuan mereka,” ujarnya sambil membagikan kertas berisi soal-soal ujian. Lidia meminta siswa kelas 4 dan 5 untuk bermain-main di halaman sekolah agar tidak menganggu konsentrasi siswa yang sedang mengerjakan soal. “Saya berharap mereka bisa lulus semua,” ujarnya.

Beberapa tahun sebelumnya, jarang sekali ada siswa yang bisa menamatkan sekolah dasar di dusun ini. “Kebanyakan hanya sampai kelas 3. Mereka bilang bisa baca tulis sudah cukup. Punya ijazah pun tidak bisa dipakai,” cerita Lidia. 

Kini kondisi sekolah sudah jauh membaik. Lidia terus memotivasi siswa agar tidak putus sekolah. Lidia juga kerap berbicara dengan orangtua siswa dan memberi pengertian pada mereka agar anaknya tetap sekolah.

Biasanya Lidia memberi tambahan pelajaran ekstra bagi siswa yang hendak mengikuti ujian nasional. Ujian Nasional tidak dilaksanakan di sekolah itu melainkan menginduk di ibukota Kabupaten, Putussibau. Lidia menyiapkan perahu motor untuk membawa siswanya ke kota. Tak jarang uang transport itu menggunakan uang pribadinya. ”Ada sih anggaran dari sekolah, tapi kadang kan tak cukup. Perjalanan menggunakan air ini cukup mahal. Perahu membutuhkan bahan bakar yang cukup banyak karena jarak yang jauh.”

Usaha yang dilakukannya tidak sia-sia. Tahun lalu misalnya semua siswanya lulus ujian. ”Saya memang tak bergaji tinggi. Tapi saya senang melihat siswa saya bisa lulus sekolah. Saya harap mereka agar bisa melanjutkan ke SMP,” tutup Lidia Lahe sembari mengemaskan buku-buku di meja. (*)  



2 comments:

Zahid Hamidi said...

Assalamu alaikum warohmatullahi wabarakatu.
Saya ingin berbagi cerita siapa tau bermanfaat kepada anda bahwa saya ini seorang TKI dari johor bahru (malaysia) dan secara tidak sengaja saya buka internet dan saya melihat komentar bpk hilary joseph yg dari hongkong tentan MBAH WIRANG yg telah membantu dia menjadi sukses dan akhirnya saya juga mencoba menghubungi beliau dan alhamdulillah beliau mau membantu saya untuk memberikan nomer toto 6D dr hasil ritual beliau. dan alhamdulillah itu betul-betul terbukti tembus dan menang RM.457.000 Ringgit selama 3X putaran beliau membantu saya, saya tidak menyanka kalau saya sudah bisa sesukses ini dan ini semua berkat bantuan MBAH WIRANG,saya yang dulunya bukan siapa-siapa bahkan saya juga selalu dihina orang dan alhamdulillah kini sekaran saya sudah punya segalanya,itu semua atas bantuan beliau.Saya sangat berterimakasih banyak kepada MBAH WIRANG atas bantuan nomer togel Nya. Bagi anda yg butuh nomer togel mulai (3D/4D/5D/6D) jangan ragu atau maluh segera hubungi MBAH WIRANG di hendpone (+6282346667564) & (082346667564) insya allah beliau akan membantu anda seperti saya...





PAK RUSDI DI SEMARANG said...

Assalamualaikum wr.wb mohon maaf kepada teman teman jika postingan saya mengganggu anda namun apa yang saya tulis ini adalah kisah nyata dari saya dan kini saya sangat berterimah kasih banyak kepada Mbah Rawa Gumpala atas bantuan pesugihan putihnya tampa tumbal yang sebesar 15m kini kehidupa saya bersama keluarga sudah sangat jauh lebih baik dari sebelumnya,,saya sekaran bisa menjalanka usaha saya lagi seperti dahulu dan mudah mudahan usaha saya ini bisa sukses kembali dan bermanfaat juga bagi orang lain,,ini semua berkat bantuan Mbah Rawa Gumpala dan ucapa beliau tidak bisa diragukan lagi,bagi teman teman yang ingin dibantuh seperti saya dengan pesugihan putih bisa anda hubungi di no 085 316 106 111 jangan anda ragu untuk menghubuni beliau karna saya sud ah membuktikannya sendiri,karna Mbah tidak sama seperti dukun yang lain yang menghabiskan uang saja dan tidak ada bukti sedankan kalau beliau semuanya terbukti nyata dan sangat dipercay,,ini unkapan kisah nyata dari saya pak Rudi di semarang.Untuk lebih lenkapnya silahkan buka blok Mbah di šŸ£PESUGIHAN PUTIH TANPA TUMBALšŸ£