Monday, March 16, 2009

Penghargaan Pesona Pariwisata Indonesia


Saya bersyukur, beberapa waktu lalu liputan saya berjudul Wisata di Titik Kulminasi yang disiarkan Kantor Berita Radio 68H memperoleh penghargaan dari Departemen Kebudayaan dan Pariwisata dalam Anugerah Pesona Pariwisata Indonesia. Meski hanya juara 3 saya senang. Ini di luar ekspektasi saya.


Kalau dirunut, liputan ini memang tak diniatkan dibuat untuk dilombakan. Citra Prastuti, Editor Program Saga di 68H yang mengusulkannya. Liputan ini bercerita tentang peristiwa hilangnya bayangan matahari di sekitar Tugu Khatulistiwa yang terjadi setiap 21-23 Maret dan September. Meski di siang bolong, benda-benda tegak di sekitar Tugu mendadak kehilangan bayangan. Menurut para ahli, saat itu matahari berada tepat di garis lintang 0 derajad.


Citra berbaik hati mengirimkan liputan ini dan beberapa karya teman-teman kontributor lain dari berbagai daerah ke Depbudpar. Saya sendiri tidak pernah menaruh curiga liputan ini bakal menang hingga di suatu pagi Doddy Rosady, Korlip Daerah menelpon mengabari bahwa saya menjadi salah satu nominee dalam lomba itu. Saya gembira. Terima kasih banyak bagi yang telah membantu.

Selama menjadi kontributor 68H, banyak hal yang telah saya dapat. Setidaknya, selama satu tahun ini, telah 3 kali saya diberi kesempatan untuk mengikuti pelatihan jurnalistik.

Yang pertama pada Juli 2008 saya diundang mengikuti pelatihan pembuatan feature radio, selama 2 minggu. Ini yang jadi bekal saya untuk membuat liputan feature radio, yang meski pada prinsipnya sama dengan liputan untuk media cetak, namun secara teknis cukup berbeda.

Citra Prastuti, Editor Program Saga 68H sedang memberikan gambaran peliputan..

Kedua, yakni pelatihan Investigasi Pemilu pada November 2008. Mentor pelatihan adalah Malou, seorang wartawan senior dari Filipina yang liputannya pernah membuat Presiden Joseph Estrada terpaksa masuk bui. Pesertanya tidak hanya dari radio, namun juga cetak dan televisi. Dalam pelatihan ini masing-masing peserta harus membuat usulan liputan dan dipresentasikan pada para mentor. Usulan yang saya ajukan kebetulan dinilai sebagai usulan terbaik untuk kategori radio dan karena itu saya mendapatkan biaya liputan dari Perhimpunan Pengembangan Media Nusantara (PPMN).

Di sela-sela Workshop Nasional Kontributor 68h berfoto bersama

Ketiga, pada pertengahan Februari lalu. Sebanyak 38 kontributor 68H dari seluruh Indonesia, termasuk saya, diundang untuk mengikuti workshop nasional di Jakarta. Teman saya Didik Syahputra dari Blitar yang sama-sama menjadi peserta pelatihan feature juga diundang. Sebelum berangkat, Didik mengirim pesan singkat, ”Her, semoga kita bisa ke luar negeri yah!”.

Di sela-sela workshop itu PPMN menyelenggarakan acara Indonesian Radio Award. Saya dan Didik juga mengirimkan karya. Hanya saja saya katakan pada Didik, saya tak berharap banyak akan menang, karena saya tahu liputan yang saya bikin masih belum cukup “kuat”.

Kontributor kbr68h dari berbagai daerah berfoto bersama Wimar Witular seusai penganugerahan Indonesia Radio AWard, di Jakarta Februari lalu

Dan benar, memang saya tidak menang. Didik juga tidak menang. Erna, kontri dari Palu, Tatik Yuniarti dari Bekasi, dan Korlip Daerah 68H Vivie Zabkie, yang menang. Erna mendapat hadiah magang kerja selama 1 bulan di Deutch Welle (DW) Jerman sementara Tatik ke Radio Ranesi di Belanda. Vivie Zabkie mengaku cukup senang mendapatkan sebuah laptop.


Saya dan Didik Sayahputra dari Blitar

Dengan bercanda saya katakan pada Didik, ”Mas belum rejeki kita ke luar negeri. Kalau tahun depan aja gimana mas.” Didik hanya tertawa. Meski tidak menang, saya kira saya dan Didik mendapatkan sesuatu yang lebih banyak. Pengetahuan, pertemanan, dan tentu saja jalan-jalan. Kapan lagi coba, bisa ke Jakarta tanpa modal?

”Kita harus bikin liputan yang lebih bagus, Mas.” Begitu kata saya pada Didik. Saya pulang ke Pontianak dengan tersenyum. Saya kembali bersyukur.

1 comment:

Didi Syahputra said...

Bukan kemanangan sebenarnya yang saya cari, tapi pertemuan dengan teman teman yang dapat dinikmati. Nyatanya benar benar terjadi !!!!!!

Menulis memang untuk keabadian !!!!!
Selamat berkara sobat !!!!!!!!

Didi Syahputra Blitar